4 Tempat Sejarah di Jakarta untuk Kenang Pahlawan Indonesia
Banyak tempat di Jakarta menjadi salah satu saksi sejarah bangsa Indonesia pada zaman dahulu, sehingga tak heran wisatawan lokal maupun asing sering berkunjung ke berbagai tempat sejarah di Jakarta untuk belajar dan mengetahui perjuangan bangsa Indonesia.
Berikut beberapa tempat sejarah di Jakarta yang wajib dikunjungi.
Lubang Buaya

Lubang Buaya yang berada di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur dikenal sebagai tempat pembuangan tubuh tujuh pahlawan nasional Indonesia, yakni Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Mayor Jenderal Raden Soeprapto, Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono, Mayor Jenderal Siswondo Parman, Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan, Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo, Lettu Pierre Andreas Tendean.
Saat peristiwa G30S PKI, para korban diculik dan dibunuh, lalu tubuhnya dimasukkan ke dalam lubang kecil, sehingga saling menumpuk di dalamnya. Setelah dilakukan evakuasi, para korban kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.
Museum Nasional Indonesia

Monumen Nasional atau Monas menjadi salah satu ikon Jakarta yang bertempat di Jakarta Pusat. Monas dibangun pada Agustus 1959 dan dirancang oleh para arsitek Indonesia, yaitu Soedarsono, Frederich Silaban, dan Ir. Rooseno. Kemudian pada 17 Agustus 1961, Monas diresmikan oleh Presiden Soekarno dan dibuka untuk umum sejak 12 Juli 1975.
Tugu monas memiliki arsitektur dan dimensi yang unik, di mana melambangkan kias kekhususan Indonesia. Di atas tugu seperti terdapat api menyala yang seakan tidak kunjung padam, di mana hal ini melambangkan keteladanan semangat bangsa Indonesia yang tidak pernah surut berjuang.
Monas memiliki ketinggian 132 meter atau sekitar 433 kaki, serta dibangun di lahan seluas 80 hektar. Di tugu Monas, terdapat relief sejarah Indonesia sebagai gambaran Indonesia pada saat penjajahan Belanda, perlawanan rakyat Indonesia, hingga mencapai masa pembangunan Indonesia modern.
Tidak hanya itu, tugu Monas juga terdapat ruang kemerdekaan yang berada di bagian dalam cawan monumen yang berbentuk amphitheater, di mana banyak benda yang berlapis emas di ruang tersebut. Selain itu, juga menyimpan naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Kota Tua

Kota Tua memiliki luas sekitar 139 hektar dan melintasi wilayah Jakarta Utara serta Jakarta Barat. Bangunan Kota Tua didominasi arsitektur Eropa dan Cina dari abad ke-17 hingga awal abad ke-20. Di Kota Tua, kamu akan menemukan berbagai tempat sejarah menarik yang sayang untuk dilewatkan, seperti museum Fatahillah, museum seni rupa dan keramik, museum wayang, museum bank Indonesia, hingga museum mandiri.
Museum Sumpah Pemuda

Museum Sumpah Pemuda diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 20 Mei 1973. Namun, pada 20 Mei 1974, museum ini kembali diresmikan oleh Presiden Soeharto. Di Museum Sumpah Pemuda kamu akan menemukan sekitar 2.867 koleksi yang berhubungan dengan peristiwa Sumpah Pemuda.
Museum ini terletak di Jalan Kramat Raya No 108, Jakarta Pusat. Gedung Joang 45 Gedung Joang menyimpan banyak kenangan sejarah mengenai perjuangan pemuda Indonesia. Tempat ini terletak di Jalan Menteng No 31, Jakarta Pusat.
Gedung ini bercat putih dengan pilar-pilar yang menjulang tinggi di bagian depan. Pemilik pertama adalah pengusaha Belanda bernama LC Schomper. Pada 1939, ia mendirikan Hotel Schomper untuk menjadi tempat singgah pejabat tinggi Belanda, pengusaha asing, dan pejabat pribumi yang berkunjung ke Batavia.
Tetapi kebahagiaan Schomper dan keluarganya berakhir saat Hindia Belanda menyerah tanpa syarat ke Jepang pada 8 Maret 1942. Saat era pemerintahan Jepang, aset-aset orang Belanda disita, tak terkecuali aset Schomper.
Pada 1972, tempat ini oleh Gubernur DKI Jakarta ditetapkan sebagai bangunan bersejarah. Satu tahun kemudian, terjadi pemugaran agar layak dikunjungi. Setelah dipugar, tempat ini diresmikan oleh Presiden RI sebagai museum.
