NYIA Tahan Tsunami Hingga 12 Meter

0
menhub

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi memastikan pembangunan New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) sudah dilengkapi mitigasi bencana gempa bumi dengan kekuatan 8,8 SR dan tsunami hingga ketinggian 12 meter.

“Bahwa tsunami itu adalah hal yang memang sudah diantisipasi. Kami sudah menunjuk beberapa ahli dari ITB, UGM dan Jepang terkait mitigasi bencana dengan skala besar,” ujar Menhub Budi Karya usai menggelar rapat terbatas perkembangan bandara baru di Bandara Adisutjipto Yogyakarta, Minggu (20/1).

Untuk lantai I, menurut Budi Karya, akan dibuat fleksibel. Jika terjadi bncana baik seluruh pengguna jasa bandara dapat naik ke lantai II. Jarak antar lantai juga dibuat di ketinggian 8 meter. Sementara itu di daerah pinggir juga akan ditanam gundukan dan pohon vegetasi. Itu guna mencegah agar tsunami tidak maksimal.

Untuk kereta api, sudah ada skenario di mana idealnya lewat Kedundang ke kiri sejauh 3 kilometer. Antisipasi saat operasi belum selesai, maka akan berhenti di Stasiun Mojo. ”Calon penumpang yang turun dari Kedundang menuju NYIA akan menggunakan kereta. Nantinya akan ada tambahan rel sejauh 3-5 kilometer. Tapi kalau dari Stasiun Mojo itu menggunakan bis,” urainya.

Ketika disinggung apakah April nanti NYIA benar-benar siap untuk penerbangan terbatas, Budi Karya menegaskan itu sebagai wacana alternatif saja. Karena sejauh ini proyeknya baru sampai 60 persen. “Secara keseluruhan untuk 2020, proyek ini baru 30 persen. Namun, untuk April 2019 kira-kira sudah 60 persen. Dan itu bukan target utama. Kita doakan semoga target April dapat tercapai,” ujarnya.

Manager Proyek Pembangunan NYIA Tauchid Purnomo Hadi menjelaskan, saat ini pihaknya tengah berupaya keras untuk mengejar target. Terutama untuk operasional terbatas pada April nanti secara kontraktual sudah 50 persen.

“Terkait mitigasi bencana, pembangunan bandara ini sudah kita desain agar tahan gempa hingga kekuatan 8,8 SR dan tsunami di ketinggian 12 meter. Nanti lantai 2 terminal kita design tingginya hingga 15 meter. Itu artinya ketika ada tsunami masih aman,” imbuhnya.

Pihak Angkasa Pura I juga terus berkoordinasi dengan Pemkab Kulonprogo terkait kawasan Pantai Glagah dan sekitarnya untuk menjadi penyangga bandara. Jika demikian, maka di sekitar pantai akan ditumbuhi vegetasi tertentu untuk mengurangi energi bencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *