Kakanwil Kemenkum DK Jakarta, Baroto memberikan Sambutan dalam forum Pengawasan dan Pendampingan Penyusunan Dokumen Deskripsi Indikasi Geografis (IG), di Kanwil Kemenkum DK Jakarta, Selasa (9/6). (Sumber foto: Kanwil Kemenkum DK Jakarta)

Jakarta, EL JOHN NEWS  – Batik bukan sekadar torehan malam di atas kain, melainkan sebuah rekam jejak geografis dan budaya yang melekat erat pada ruang asalnya. Kesadaran inilah yang melandasi langkah strategis Kantor Wilayah Kementerian Hukum Daerah Khusus Jakarta (Kanwil Kemenkum DK Jakarta) saat menggelar forum Pengawasan dan Pendampingan Penyusunan Dokumen Deskripsi Indikasi Geografis (IG) di Cawang, Jakarta Timur, Selasa (9/6). Dalam pertemuan tersebut, nama “Batik Sebiran” disepakati berpotensi sebagai identitas baru yang lebih inklusif dan mengakar bagi wilayah Kepulauan Seribu. Perubahan ini bukan sekadar kosmetik, melainkan langkah krusial untuk mengunci otentisitas wilayah ke dalam selembar kain.

Kegiatan forum Pengawasan dan Pendampingan Penyusunan Dokumen Deskripsi Indikasi Geografis (IG) di Kanwil Kemenkumham DK Jakarta, 
Selasa (9/6), membahas potensi Batik Sebiran sebagai identitas baru bagi wilayah Kepulauan Seribu. 
(Sumber foto: Kanwil Kemenkumham DK Jakarta)
Kegiatan forum Pengawasan dan Pendampingan Penyusunan Dokumen Deskripsi Indikasi Geografis (IG) di Kanwil Kemenkum DK Jakarta, Selasa (9/6), (Sumber foto: Kanwil Kemenkum DK Jakarta)

Menenun Ekosistem Pesisir ke Dalam Canting

Sebuah produk memerlukan jangkar geografis yang kuat agar diakui oleh dunia. Untuk Batik Sebiran, karakteristik Kepulauan Seribu tidak hanya tertuang lewat narasi, tetapi langsung diaplikasikan melalui enam motif penciri utama yang sarat akan nuansa maritim dan lokalitas:

  • Kekayaan Laut & Budaya: Ikan selar, penyu sisik, dan perahu pinisi.
  • Historis & Kuliner: Mercusuar dan kue barongko.
  • Identitas Alam: Pohon pidada.

Tak berhenti pada visual, komitmen geografis ini dipertegas dengan kewajiban penggunaan pewarna alami dari kulit kayu bakau merah. Langkah ini memastikan bahwa setiap helai kain Batik Sebiran membawa bagian nyata dari tanah dan alam Kepulauan Seribu.

Jakarta Barat dan Tantangan Syarat Geografis

Jika Kepulauan Seribu telah berhasil mengunci identitasnya, cerita berbeda datang dari Jakarta Barat. Produk yang selama ini dikenal dengan nama Batik Bendo Jaya justru menemui jalan buntu dalam proses pendaftaran Indikasi Geografis.

Direktorat Merek dan Indikasi Geografis DJKI menilai nama “Bendo Jaya” belum kuat mencerminkan unsur geografis asal produk—sebuah syarat mutlak yang tidak bisa ditawar dalam regulasi IG. Sebagai solusinya, muncul rekomendasi rebrand yang lebih bernyawa lokal, seperti “Batik Serengseng Jakarta Barat” atau “Tenun Serengseng Jakarta Barat”.

Perubahan nama ini menjadi bukti bahwa Indikasi Geografis menuntut keterikatan yang jujur antara produk dan tempatnya dilahirkan.

Lebih dari Sekadar Sertifikat: Mengejar Efek Domino Ekonomi

Kepala Kantor Wilayah Kemenkum DK Jakarta, Baroto, mengingatkan bahwa pelindungan hukum berbasis geografis ini jangan sampai mandek sebagai pajangan birokrasi. Status IG harus menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat setempat.

“Indikasi Geografis tidak hanya berhenti pada proses pendaftaran, tetapi harus mampu memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat,”

Kepala Kantor Wilayah Kemenkum DK Jakarta, Baroto

Baroto mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem kekayaan intelektual yang berkelanjutan. Mulai dari kepastian hukum di hulu, strategi promosi yang gencar, hingga komersialisasi di hilir agar produk lokal Jakarta mampu bersaing, baik di pasar nasional maupun panggung internasional.

Melalui kolaborasi erat antara Kanwil Kemenkum DK Jakarta, DJKI, pemerintah daerah, Dekranasda, hingga para pengrajin, proses penyusunan dokumen deskripsi dan pembentukan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) kini tengah dikebut. Upaya ini diharapkan segera rampung, membawa Batik Sebiran dan kain khas Jakarta Barat naik kelas sekaligus mendongkrak kesejahteraan para pelaku usaha lokal.

Mengukir inspirasi, mengawal kreasi. EL JOHN NEWS — Bangga Karya Anak Bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *