Revitalisasi Desa Sijuk Heritage Perkuat Destinasi Prioritas Tanjung Kelayang

0
Revitalisasi Desa Sijuk Heritage Perkuat Destinasi Prioritas Tanjung Kelayang

Revitalisasi Desa Sijuk, Tanjung Kelayang, Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung (Babel) yang memiliki daya tarik wisata multikultural heritage memperkuat destinasi Tanjung Kelayang yang ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai satu di antaranya 10 destinasi pariwisata prioritas.

Revitalisasi situs heritage berupa renovasi bangunan masjid kuno, kelenteng, rumah adat Melayu dan perkampungan di desa Sijuk tersebut diinisiasi oleh Staf Ahli Menteri Pariwisata Bidang Multikultural bersama tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia dengan melibatkan stakeholder pariwisata sebagai kekuatan Pentahelix (akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintah, dan media) telah dimulai tahun lalu dan berlanjut pada tahun ini.

Staf Ahli Menteri Pariwisata Bidang Multikultural Esthy Reko Astuti mengatakan, atraksi wisata multikultural heritage di Desa Sijuk meliputi Masjid dan Kelenteng kuno yang dibangun sekitar tahun 1.800-an, rumah adat Melayu yang dibangun sekitar tahun 1940-an yang sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya, serta perkampungan dan kawasan Pecinan itu banyak diminati wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus).

“Ada sebanyak 60 bangunan heritage (rumah Melayu) di sana. Tahun lalu, kita mulai merevitalisasi 5 rumah khas Melayu sebagai pemicu dan kita lanjutan tahun ini sebanyak 20 rumah dengan melibatkan kekuatan Pentahelix utamanya industri dan komunitas masyarakat setempat ,” kata Esthy Reko Astuti dalam diskusi di forum FGD (Focus Group Discussion) yang berlangsung di Hotel Santika Tanjung Pandan, beberapa waktu lalu.

Dekan FIB UI Prof. DR. Andrianus L.G. Waworuntu mengatakan, keberadaan daya tarik wisata multikultural heritage Desa Wisata Sijuk berperan penting dalam mendukung Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Kelayang sebagai kawasan pariwisata prioritas yang menempatkan marine tourism sebagai produk wisata utamanya. “Sijuk heritage penting untuk mendukung marine tourism sebagai wisata utama Tanjung Kelayang,” kata Andrianus L.G. Waworuntu.

Andrianus memberi contoh pariwisata Bali di era tahun 1970-an menempatkan wisata pantai (marine tourism) sebagai unggulannya, kemudian berkembang dengan culture tourism “Destinasi wisata prioritas Tanjung Kelayang bisa berkembang seperti ini,” katanya.

Sementara itu, Direktur PT Propan Raya DR Yuwoso Imanto menyatakan revitalisasi sebagai upaya meningkatkan dari budaya tradisional (traditional culture) menjadi (modern) kreatif industri. “Revitalisasi Desa Sijuk Heritage meningkatkan rumah tradisional menjadi modern dengan arsitektur nusantara yang lebih menarik,” kata Yuwono Imanto.

Desa Sijuk yang dikembangkan sebagai destinasi wisata multikultural heritage, menurut Untung Sutono, sejalan dengan fortopolio bisnis pariwisata nasional yang menempatkan culture sebesar 65%, nature 30%, dan manmade 5%.

“Pengelolaan destinasi (DMO) di tingkat desa keberhasilannya sangat ditentukan saat perencanaan dan penelitian dalam hal ini melibatkan dunia akademisi FIB UI. Pengelolaan DMO desa wisata apabila perencanaannya tidak dilakukan dengan baik membawa dampak negatif baik pada aspek sosial maupun lingkungan,” kata Anang Sutono.

Dalam mengembangkan KEK Tanjung Kelayang, menurut Larasati Sedyaningsih, Tim Percepatan Pembangunan Destinasi Wisata Prioritas Kemenpar fokus pada peningkatan konektivitas penerbangan dari negara sumber wisman antara lain Singapura dan Malaysia serta memasukkan Tanjung Kelayang sebagai destinasi Global Geopark Network (UNESCO).

“Belitung merupakan destinasi pariwisata dengan pertumbuhan tertinggi mencapai 25% atau di atas pertumbuhan pariwisata nasional sebesar 23%,” kata Larasati Sedyaningsih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *