Glow of Peace Sulap Bundaran HI Jadi Lautan Cahaya Waisak

0
siaranpers_pemprov_dki-20260529222335_fwwocr_845

Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno memberikan keterangan pers di acara

El John News, Jakarta-Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menghadirkan suasana berbeda di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, melalui acara bertajuk “Illumination of Jakarta: Glow of Peace” dalam rangka menyambut Hari Raya Waisak 2570 BE. Kegiatan yang berlangsung mulai 28 Mei hingga 1 Juni 2026 tersebut menyulap salah satu ikon ibu kota menjadi lautan cahaya bernuansa damai dan penuh kebersamaan.

Ribuan masyarakat tampak memadati kawasan Bundaran HI untuk menikmati berbagai instalasi cahaya artistik dan dekorasi bertema Buddha yang dipasang di sejumlah titik. Ornamen-ornamen bercahaya yang menghiasi area tersebut menciptakan suasana sakral sekaligus hangat, menjadikan perayaan Waisak tahun ini terasa lebih meriah dan inklusif.

Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemprov Jakarta dalam memperkuat harmoni dan toleransi antarumat beragama melalui pendekatan budaya dan ruang publik.

“Ini sempurna sudah dari enam kegiatan keagamaan yang kita kemas dengan budaya, mulai dari Christmas Carol dan sekarang di Waisak. Alhamdulillah ini menandakan kebersamaan di Jakarta itu semakin kental,” ujar Rano kepada awak media seusai menghadiri acara, Jumat (29/5/2026).

Pembukaan acara “Illumination of Jakarta: Glow of Peace” di Bunderan HI (Foto: Humas Pemprov DKI Jakarta)

Menurut Rano, semangat utama yang ingin disampaikan melalui acara Glow of Peace ialah memperkuat rasa memiliki terhadap Jakarta sebagai rumah bersama bagi seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang suku, agama, maupun budaya.

Ia menjelaskan tagline “Jaga Jakarta” lahir dari semangat kolektif bahwa ibu kota merupakan milik seluruh warga sehingga harus dijaga bersama, baik dari sisi kerukunan sosial maupun kebersihan dan kenyamanan ruang kota.

“Kita ingin masyarakat merasa bahwa Jakarta ini milik bersama. Karena itu, semua punya tanggung jawab untuk menjaga kebersamaan, toleransi, dan ketertiban kota,” kata Rano.

Selain menghadirkan pesan toleransi dan perdamaian, kegiatan tersebut juga dinilai memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah. Menurut Rano, berbagai kegiatan keagamaan dan budaya yang digelar di Jakarta mampu menciptakan perputaran ekonomi yang signifikan.

“Artinya kalau kita hitung dari mulai Desember sampai Maret, itu perputaran ekonomi di Jakarta sampai Rp67 triliun. Itu mengindikasikan sebuah kegiatan kalau dikemas itu akan menghasilkan sesuatu,” tuturnya.

Acara Glow of Peace menghadirkan beragam kegiatan yang dapat dinikmati masyarakat umum, mulai dari doa dan renungan bersama, pertunjukan seni budaya, hingga instalasi cahaya tematik yang mempercantik kawasan Bundaran HI pada malam hari.

Salah satu instalasi yang paling menarik perhatian pengunjung ialah replika stupa Candi Borobudur dengan tata cahaya artistik berwarna keemasan. Instalasi tersebut menjadi pusat keramaian warga yang datang untuk berfoto maupun menikmati suasana malam perayaan Waisak di tengah ibu kota.

Doa bersama lintas agama di acara “Illumination of Jakarta: Glow of Peace” (Foto: Pemprov DKI Jakarta)

Tak hanya itu, instalasi Buddha berukuran raksasa juga menjadi daya tarik tersendiri sepanjang acara berlangsung. Banyak warga memanfaatkan momen tersebut untuk mengabadikan suasana bersama keluarga dan kerabat.

Dalam sesi doa dan renungan bersama, umat Buddha menyampaikan harapan agar perayaan Waisak tahun ini menjadi momentum memperkuat nilai-nilai dharma, persaudaraan, dan perdamaian dunia di tengah berbagai tantangan global yang terjadi saat ini.

Umat Buddha juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga persatuan, meningkatkan kepedulian sosial, serta menumbuhkan kasih terhadap sesama tanpa membedakan latar belakang agama maupun budaya.

Melalui kegiatan Glow of Peace, Pemprov Jakarta berharap ruang publik tidak hanya menjadi tempat aktivitas masyarakat, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan keberagaman yang terus hidup di tengah dinamika ibu kota.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *