Gelar Batik Nusantara 2019 “Lestari Tak Terbatas” Resmi di Buka
Yayasan Batik Indonesia yang berdiri 28 Oktober 1994, kembali menyelenggarakan Gelar Batik Nusantara yang kesebelas, pertama kali diadakan 1996 dan diadakan setiap dua tahun sekali, Rabu (8/5/2019). Acara ini, berlangsung selama 5 hari dari tanggal 8 Mei – 12 Mei di Jakarta Convention Center Senayan, Jakarta.
Batik yang sudah disahkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia, telah dimasukan ke dalam daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia. Dan penetapan tanggal 2 Oktober 2009 sebagai Hari Batik Nasional.
Acara ini tidak hanya memamerkan produk batik unggulan, tetapi berbagai acara diantaranya Talkshow, Fashion Show, dan hiburan.
Gelar Batik Nusantara 2019, mengangkat tema “Lestari Tak Terbatas” dan bahwasanya Batik sebagai warisan dunia tidak lagi berkonotasi kuno, sebaliknya Batik lebih berkesan masa kini, lebih modern dan menglobal, sehingga perajin batik semakin kreatif dan inovatif dalam menghasilkan karya-karya batik selanjutnya, tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya dan tradisional yang terkandung didalamnya.
Tahun ini Gelar Batik Nusantara mengangkat kain Batik Sumatera, seperti Jambi, Sumatera Utara, Lampung, Bengkulu yang akan menjadi highlight utama sehingga dapat diperkenalkan kepada masyarakat luas, bahwa Batik tidak hanya dikenal dikawasan pulau Jawa saja, namun Batik juga banyak ragam dan motif yang sangat bagus juga dipulau Sumatera
Gelar Batik Nusantara 2019, dibuka.secara resmi oleh Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto dan Mufida Jusuf Kalla. Serta memberikan penghargaan secara khusus kepada para pemerhati dan pengiat Batik.
Berikut daftar lengkap Penganugerahan Penghargaan Yayasan Batik Indonesia – Gelar Batik Nusantara 2019
Penghargaan Perajin Batik Berkarya Sepanjang Masa
– Ibu Mitun (66 tahun) : Dari Desa Majan, Kedungwaru, Tulungagung, sejak usia 7 tahun mencanting selama 59 tahun.
– Ibu Sipin (74 tahun) : Dari Desa Bangoan Jawa Timur, membatik sejak usia 7 tahun selama 65 tahun.
– Ibu Karinah (65 tahun) : Dari Deda Mruyunh, Bayumas, Jawa Tengah, membatik sejak usia 8 tahun sela 57 tahun.
Penghargaan Pemberi Inspiradi Dan Motivsdi Untuk Pelestarian & Pengembangan Budaya Membatik
– Ibu Ida Maryanti (57 tahun) : Memperkenalkan dan melestarikan Batik sejak lebih dari 25 tahun.
– Ibu Wirdha Hanim (67 tahun) : Melestarikan Batik Tulis dengan tehnik pewarnaan alam Tanah Liek, sejak lebih dari 25 tahun.
Penghargaan Pembatik Inovatif
– Nurcahyo : sebagai putra dari keluarga pembatik, belajar membatik bermula ingin membantu orang tua, terus berinovasi dengan berbagai temuan membatik dengan tehnik bolak balik, hingga memiliki karya batik sendiri dengan namanya Batik Cahyo.
Penghargaan Kriya Pusaka
Adalah penghargaan tertinggi dari Yayasan Batik Indonesia, kepada seseorang atau lembaga, telah memperkenalkan dan mengembangkan Batik Indonesia kepada masyarakat Indonesia dan dunia Internasional, jatuh kepada Ibu HJ. Mufidah Jusuf Kalla.
Penulis : Irwansyah
