The 7th ASEAN Traditional Textile Symposium Gelar di Yogyakarta
Ratusan pakar dan pemerhati tekstil tradisional ASEAN bertemu di Yogyakarta dalam sebuah simposium. Kegiatan yang bertajuk The 7th ASEAN Traditional Textile Symposium ini akan berlangsung hingga hari Jumat (8/11/2019).
Para pakar dan pemerhati Tekstil tradisional ASEAN mengikuti Symposium yang membahas berbagai topik mulai dari kelestarian textile tradisional, inovasi textile tradisional, motif dan makna hingga yang terkait dengan konservasi.
Acara dibuka dengan permaisuri dan seorang sekertasi daerah provinsi Yogyakarta, pembukaan ditandai dengan pukulan bende dengan 3 tokoh tersebut, sebelum pembukaan peserta dihibur dengan penari kontemporer beksan wasna rinakit menurut kasubdit warisan tak benda, Binsar Manulang setidaknya sudah ada 39 textile indonesia yang tercatat yang telah ditetapkan oleh unesco.
“Budaya tak benda indonesia telah menetapkan 1.086 warisan budaya tak benda indonesia dari seluruh indonesia diantaranya ada 39 warisan tak benda indonesia yang berkaitan dengan textile tradisional” Ucap Binsar Manulang
Ketua Panitia Penyelenggara 7th Asean Traditional Textile Symposium, Gusti Kanjeng Ratu Hemas menyampaikan sejak diprakarsai pada tahun 2009 hingga saat ini, TTASSEA atau Masyarakat Wastra Asia Tenggara telah mengalami berbagai perkembangan yang signifikan.
Perkembangan ini meliputi segi sumber daya manusia, segi komunikasi internasional, dan hubungan kerja sama internasional. AJang ATTS ke-7 yang dihelat oleh TTASSEA sebagai salah satu lembaga kemasyarakatan yang sudah diakreditasi oleh Asean Secretariat, sangat penting bagi masyarakat, terutama bagi mahasiswa desain dan tekstil, pelaku wastra, peneliti wastra di perguruan tinggi, pecinta wastra Asia Tenggara, dan pemerhati budaya, khususnya budaya material.
Dia mengatakan 7th Asean Symposium tidak saja menyediakan panggung untuk saling berbagi pengetahuan dan mengupayakan jalinan persahabatan wastra tetapi juga meningkatkan kolaborasi kalangan akademis, pelaku bisnis, dan pelaku wastra di lapangan.
“Adalah suatu kebahagiaan menyambut seluruh peseta Simposium Wastra Asean ke-7. Atas nama panitia penyelanggara, saya ingin menyampaikan sambutan hangat kepada para pakar dan pemerhati wastra dunia ke kota yang memesona. Acara ini terbuka untuk umum dan kami mengundang masyarakat untuk turut hadir memeriahkannya,” ujarnya
