Anton Thedy: Pemahaman Orang Tentang Informasi Covid-19 Jadi Pertimbangan Dalam Memilih Tempat Wisata

0
Anton-Thedy

CEO TX Travel Anton Thedy menilai pemahaman seseorang dalam menyikapi  informasi tentang perkembangan situasi  pandemi Covid-19,  mempengaruhi seseorang tersebut dalam menentukan tempat berwisata. Terkadang ada seseorang yang belum berani untuk berwisata, karena masih terjadi pandemi, sebaliknya ada orang  yang acuh tak acuh terhadap Covid-19 sehingga ia memutuskan untuk tetap berwisata.

“Menurut saya ada pengaruh dari informasi, ada pengaruh dari edukasi, ada pengaruh dari pada informasi yang mereka pahami atau tidak,  ini berpengaruh terhadap pemilihan tujuan dan bagaimana  mereka berlibur,” kata Anton saat menjadi narasumber  dalam program EL JOHN TV yakni Indonesia Tourism Forum (ITF).

Anton menjelaskan, bagi orang-orang yang memperhatikan keselamatannya akan selektif dalam memilih objek wisata tujuannya. Objek wisata di alam terbuka atau outdoor menjadi tempat favorit bagi wisatawan yang ingin bebas dari resiko penularan Covid-19. Objek wisata yang satu ini,  memiliki lahan yang luas sehingga wisatawan dapat menghindari kerumunan sehingga tetap dapat menikmati wisatanya.

Selain alam terbuka, cara berwisata berikutnya yang dipilih wisatawan adalah staycation. Wisata ini tetap pergi dari rumah,  namun tujuannya hanya menginap dan tidak keluar atau berpergian dari tempat penginapan.

Menurut Anton, untuk cara berwisata staycation ini, kebanyakan wisatawan jarang memilih hotel, pasalnya hotel masih dianggap retan akan penyebaran Covid-19.

“Yang kedua di awal banyak orang yang istilah staycation gitu ya, di mana mereka tinggal di hotel, tinggal di kamar, tinggal di properti hotel itu, tetapi sekarang mulai menurun, kenapa karena ada ketakutan yang namanya di hotel itu tertutup yah, ada lift, ada kamar, AC-nya sentral, nah hal-hal seperti itu menjadi pertimbangan,” ujar pengamat pariwisata ini.

Anton mengungkapkan, yang paling banyak dipilih wisatawan untuk menginap adalah tempat penginapan berkonsep vila atau cotage. Ini dinilai wisatawan aman dari Covid-19, karena jarak dari tempat penginapan yang satu dengan yang lain berjauhan

“Saya melihat banyak sekali sekarang orang-orang mulai memilih bukan hotel tingkat tinggi, tetapi cotage, rumah atau vila-vila, bungalow ini yang dipilih, kenapa karena mereka satu rumah sendiri. Dari rumah pilih tinggal di rumah.,” ungkap Anton.

Anton menerangkan memprioritaskan protokol kesehatan sudah menjadi keharusan, karena untuk keamanan, keselamatan dan kesehatan wisatawan maupun staf objek wisata. Karena itu, diharapkan pihak pengelola objek wisata maupun wisatawan benar-benar mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan Pemerintah, jangan sampai hal ini dilanggar, pasalnya jika dilanggar dan  ditemukan kasus Covid-19 maka Pemerintah setempat akan menutup objek wisata tersebut yang berimbas pada pemasukan pihak pengelola.

Anton menilai industri pariwisata di Indonesia sudah banyak yang menerapkan protokol kesehatan secara ketat, mulai dari objek wisatanya, tempat penginapannya maupun restoran, namun untuk restoran  ada beberapa yang melonggarakan aturan, khususnya yang ada di daerah.

“Saya melihat di daerah di objek-objek wisata yang ada restoran-restoran di luar objek wisata, ini  Physical distancing nya tidak diperhatikan sama sekali. Saya melihat ada beberapa dagang sate ramainya minta ampun padahal tidak saling mengenal tetapi mereka punya table gitu, mejanya itu adalah meja panjang bisa diisi biasanya 10 orang depan belakang, sehingga kalau menurut peraturan itu hanya boleh diisi maksimal empat orang.

Selain itu, Anton juga memperhatikan perilaku wisatawan yang tidak patuh terhadap protokol kesehatan. Terkadang masih ada yang tidak menggunakan masker atau yang nyaman ketika berkerumun. Seharusnya hal tersebut tidak terjadi di area wisata.

“Saya mendengar satu cerita artikel di mana mereka naik sepeda lalu pakai masker tapi pada saat mereka kumpul bareng-bareng tidak pakai masker, tentunya kalau makan kan tidak mungkin pakai masker dan apa yang terjadi ternyata ada yang kena dan itu menjadi klaster tersendiri lagi. Ini yang perlu kita waspadai, makanya gaya kita berwisata, gaya kita jalan-jalan berubah,” terang Anton.

Anton berharap pelaku usaha pariwisata maupun  wisatawan betul-betul memperhatikan dan menjalankan secara serius aturan protokol kesehatan. Jika ini dilakukan, tidak menutup kemungkinan sektor pariwisata tidak menjadi sektor yang melahirkan klaster-klaster baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *