Peran Kedokteran Nuklir pada Kanker
Mendengar kata ‘nuklir’ mungkin yang pertama terlintas di pikiran adalah bom yang menyeramkan. Namun, siapa sangka jika energi yang kerap digunakan sebagai senjata perang ini juga memiliki manfaat dalam dunia medis? Adalah radiologi kedokteran nuklir, salah satu bidang radiologi yang memanfaatkan tenaga nuklir sebagai pengobatan penyakit kanker. Pengobatan ini juga populer dengan nama terapi nuklir atau radionuklir.
Secara singkat, terapi radionuklir dijelaskan sebagai prosedur medis yang melibatkan panas dari tenaga nuklir, untuk diagnosis pencitraan dan terapi penyakit. Terapi ini menggabungkan 2 konsep teknologi, yaitu radiologi dan tenaga nuklir.
Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir dan Teranostik Molekuler RS Kanker Dharmais dr. Ayu Rosemelia Dewi, Sp. KN mengatakan, Radiologi adalah prosedur medis untuk memindai bagian dalam tubuh menggunakan pancaran atau radiasi gelombang (baik gelombang elektromagnetik, gelombang suara, maupun gelombang sangat tinggi ultrasonik). Sementara itu, tenaga nuklir merupakan panas yang dihasilkan dari reaksi pemecahan atom nuklir.
“Dalam praktiknya pada pengobatan kanker, radiologi berperan untuk mencari dan memetakan lokasi keberadaan sel kanker dan penyebarannya. Sementara panas dari nuklir berperan sebagai penghantar zat obat untuk membunuh sel-sel kanker pada area target yang spesifik” Ungkap dr. Ayu saat dalam acara Talk Show el john medical yang disiarkan langsung oleh El John Tv.
Ayu menjelaskan dalam prosedurnya, Sebelum menjalani terapi, pasien akan menjalani pencitraan tubuh untuk mendeteksi keberadaan atau lokasi sel kanker dan kemungkinan metastasisnya. Kemudian dokter akan mempersiapkan jenis dan dosis obat radioisotop (sejenis obat yang mengandung senyawa radioaktif), yang disesuaikan dengan kondisi fisik pasien.
Setelah dinyatakan siap, obat tersebut kemudian akan disuntikkan langsung ke dalam pembuluh darah. Dalam beberapa menit, obat ini akan bergerak menuju lokasi sel kanker yang sudah ditargetkan. Terapi ini biasanya hanya berlangsung beberapa menit, dan sama sekali tidak menyakitkan.
Selama menerima terapi, peserta akan diisolasi di ruangan khusus dan menjalani rawat inap di rumah sakit sehingga tidak mencemari lingkungan sekitar sampai kadar bahan radioaktif berada di bawah batas wajar (tidak berbahaya). Selama perawatan, peserta mungkin harus memakai masker atau perlengkapan pelindung lainnya yang akan menghalangi radiasi mempengaruhi bagian tubuh lainnya.
Namun, bahan radiasi tersebut sebenarnya akan secara alami dikeluarkan melalui keringat, urine, maupun feses. Itu sebabnya peserta juga akan disarankan untuk memperbanyak asupan cairan selama sedang menjalani terapi radionuklir.
Ayu menambahkan, memang di Indonesia ini jumlah dokter spesialis nuklir itu sekitar 50 orang dan hampir 20 dokter itu sudah purna bakti jadi sangat sedikit jumlah dokter untuk spesialis nuklir. Yang aktif sekitar 20-30 dokter dan kita harus serving 270 Juta rakyat Indonesia.
“kedokteran nuklir ini kita memanfaatkan teknologi nuklir yaitu kita menggunakan alat-alat seperti pet scan dan kita juga menggunakan radioactive nya ini khusus untuk deteksi penyakit atau keperluan diagnostik dan juga bisa digunakan untuk pengobatan” Ucap dr. Ayu
Perkembangan kedokteran nuklir di Indonesia, menurut dr. Ayu, jauh tertinggal dibandingkan dengan bidang spesialis lainnya. Sampai saat ini baru terdapat 16 pusat kedokteran nuklir, baik milik pemerintah atau swasta di berbagai provinsi.
“Dari jumlah tersebut sekitar 4 pusat kedokteran nuklir sudah tidak berfungsi lagi karena perangkat pendukung utamanya sudah tua,” kata dr. Ayu
Bukan hanya peralatan yang tertinggal, jumlah sumber daya manusianya juga kekurangan. Kondisi tersebut semata-mata karena sampai saat ini institusi pendidikan yang menghasilkan spesialis kedokteran nuklir hanya satu, yakni Universitas Padjajaran di Bandung.
“Sampai tahun ini yang selesai pendidikan ada 14 orang, dan 19 orang masih dalam pendidikan,” imbuhnya.
Kendati begitu, dr. Ayu menolak jika dari sisi keilmuan kita dianggap ketinggalan.
“Kebutuhan kasusnya meningkat terus, sementara perkembangan fasilitas canggih seperti PET yang dimiliki rumah sakit terus bertambah,” tutupnya


