Momen Sunrise di Pananjakan Seruni Gunung Bromo
Matahari terbit, atau lebih sering disebut sunrise adalah suatu momen yang selalu sukses membuat setiap orang yang menyaksikannya berdecak kagum akan kecantikan yang dipancarkannya. Karena itu tidak sedikit orang-orang yang bahkan rela meluangkan waktu hanya demi mengintai momen tersebut meski harus melawan rasa kantuk dan cuaca dingin yang seakan menggigit tulang.
Salah satu lokasi strategis untuk menyaksikan detik demi detik munculnya sunrise adalah Pananjakan Seruni, lokasi wisata yang berada dalam Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Pada akhir tahun lalu, saya dan beberapa teman yang berjumlah 20 orang, berkesempatan mengunjungi lokasi wisata ini. Meski tujuan utama kami adalah Gunung Bromo, namun tentu saja Pananjakan Seruni menjadi lokasi yang tidak boleh luput dari plan untuk menapakkan jejak kaki.
Selain matahari terbit, Pananjakan Seruni juga menampilkan pemandangan cantik Gunung Batok yang berada satu lokasi dengan Gunung Bromo. Meski masih diselimuti awan yang pagi itu masih betah bertengger di puncak Gunung Batok, namun masih jelas memperlihatkan gurat-gurat kecantikan yang berhasil membuat kami berulang kali berdecak kagum seraya bertasbih mengagungkan nama Penciptanya.
Keindahan yang memanjakan mata itu tentu tidak kami dapati dengan mudah. Ada beberapa hal yang perlu kami korbankan dan perjuangkan untuk bisa sampai pada titik di mana semua lelah musnah serta nafas yang sebelumnya terengah-engahpun terbayar sudah ketika fajar mulai menyingsing serta embun perlahan membawa kabar gembira akan datangnya sang surya yang perlahan mengubah gelap gulita menjadi terang bercahaya.
Perjalanan itu kami mulai tepat pada pukul 01.00 wib dari penginapan yang berlokasi lumayan jauh dari tempat tujuan. Dengan menggunakan kendaraan jenis jeep, kami mulai mengarungi pekatnya malam seraya melawan hawa dingin. Di sepanjang perjalanan tidak henti pula kami terus menerus merapatkan baju tebal yang menyelimuti tubuh kami demi menemukan kehangatan karena udara yang semakin dingin, seiring dengan kendaraan yang membawa kami ke tempat yang semakin tinggi.
Hanya berbekal lampu jeep serta cahaya lampu jalan, perjalanan tersebut memang sedikit membuat bulu kuduk berdiri karena tidak semua jalan diterangi lampu, sedangkan untuk menuju lokasi kami harus melewati jalanan yang tidak terlalu luas yang di kiri kanannya terdapat jurang curam yang ditumbuhi rerumputan liar.
Sekitar 2 jam perjalanan akhirnya kami sampai pada lokasi terakhir pemberhentian jeep, di mana selanjutnya kami harus melanjutkan perjalanan dengan mengandalkan langkah kaki.
Setelah turun dari jeep, kami tidak segera melanjutkan perjalanan, melainkan berhenti sejenak di sebuah warung yang menyediakan kopi dan minuman hangat lainnya serta toilet umum bagi pengunjung yang ingin buang air. Sambil menunggu rombongan lain yang masih tertinggal, sebagian dari kami memesan kopi panas di warung tersebut dan ada juga yang sibuk keluar masuk toilet untuk buang air.
Tidak lama berselang, rombongan terakhir sampai di lokasi, dan kami pun bersegera melanjutkan perjalanan.
Seiring dengan hal tersebut, beberapa penyedia jasa penunggangan Kuda terlihat gesit menawarkan jasanya dengan harga yang beragam. Beberapa pendaki dari rombongan lain terlihat sedang melakukan tawar menawar untuk jasa penunggangan Kuda tersebut. Ada yang langsung deal, namun tidak sedikit juga yang menolak karena harga yang ditawarkan dianggap terlalu mahal, yaitu berkisar antara 50-100 ribu rupiah hanya untuk satu kali tunggangan Kuda.
Selain karena harga jasa penunggangan Kuda yang ditawarkan terbilang cukup mahal, melakukan pendakian di jalanan setapak memang menjadikan pengalaman tersendiri, terlebih jika pendakiannya dimulai pada pukul 3 pagi.
Setelah melakukan pendakian lebih kurang selama 30 menit perjalanan, kami sampai pada pos pemberhentian dan beristirahat sejenak. Buru-buru kami mendekat ke bara api unggun yang dinyalakan oleh pendaki lain yang sudah lebih dulu sampai sebelum kami.
Meski tidak sepenuhnya bisa mengusir hawa dingin yang terus berusaha menyelinap di balik celah-celah pakaian yang kami kenakan, kami tetap harus melanjutkan langkah yang menyisakan sekitar 300 anak tangga untuk kami sampai pada titik tertinggi Pananjakan Seruni.
Saya dan 4 teman lainnya yang sampai lebih dulu di puncak seruni, bergegas mengambil lokasi yang tepat seraya menyiapkan kamera dan memastikan berada pada posisi yang pas untuk merekam momen matahari terbit yang sebentar lagi akan memamerkan kecantikannya.
Beberapa pengunjung lain yang mulai menyesaki lokasi tersebut juga tidak mau kalah dan ketinggalan menyiapkan alat rekam untuk mengabadikan momen mengagumkan tersebut. Beruntung cuaca pagi itu juga sangat bersahabat, sehingga kami pun tidak perlu khawatir diguyur hujan.
Untuk mendapatkan hasil foto terbaik, di beberapa spot foto kami memang harus sabar dan antri karena arus pengunjung yang semakin ramai berdatangan. Terlebih pagi itu awan terlihat sangat tebal, sehingga kami harus sangat jeli ketika membidikkan kamera saat awan mulai menyingsing demi mendapatkan hasil jepretan yang paripurna.
Penulis: Yulia Gumay




