Kemenparekraf Sosialisasikan Program Pengurangan Emisi Karbon Kepada Industri dan Asosiasi Pariwisata
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).menyelenggarakan sosialisasi program “ Towards Climate Positive Tourism Through Decarbonization And Eco-Tourism” kepada industri dan asosiasi Pariwisata di Hotel Arya Duta, Jakarta Pusat, Selasa (20/09/2022). Industri dan asosiasi pariwisata yang hadir merupakan industri yang berada dalam naungan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI).
Sosialisasi yang digelar secara hybrid (offline dan online) ini, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan dari pemangku kepentingan pariwisata. Seperti diketahui, program “ Towards Climate Positive Tourism Through Decarbonization And Eco-Tourism”telah diluncurkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno pada Agustus 2022 lalu di Bali dan program tersebut menjadi salah satu program yang difokuskan oleh Kemenparekraf sebagai upaya menekan emisi karbon untuk mewujudkan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.
Sosialisasi dibuka oleh Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf, Hengky Manurung. Dalam sambutannya, Hengki mengatakan dalam program “ Towards Climate Positive Tourism Through Decarbonization And Eco-Tourism” ini, Kemenparekraf telah menetapkan lima destinasi sebagai pilot project, yakni Plataran Menjangan di Taman Nasional Bali Barat, Mangrove Tembudan Berseri di Berau, Pantai 3 Warna di Clungup Mangrove Conservation-Malang, Bukit Peramun di Belitung, dan Taman Wisata Mangrove Klawalu di Sorong.

“Kita berharap kegiatan sosialisasi ini, akan menghadirkan bukti nyata mengurangi emisi karbon di sektor pariwisata dan juga kita harapkan dari teman-teman GIPI dapat membantu dan mendorong tercapainya bukit nyata tersebut, bahwa kita semua bisa melawan perubahan iklim ini,” kata Hengki.
Sementara itu, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Event, Kemenparekraf, Rizki Handayani mengatakan Kemenparekraf akan melakukan upaya dekarbonisasi atau menekan emisi karbon bersama industri pariwisata. Upaya tersebut dilakukan diantaranya melalui pengurangan food waste atau sisa makanan yang menjadi sampah, karena diketahui Indonesia tercatat sebagai salah satu negara penyumbang limbah makanan terbesar di dunia.
“Nanti restoran-restoran atau di hotel-hotel bersama Kemenparekraf akan mencari solusi yang tepat untuk mengurangi food waste. Kalau di beberapa negara, seperti Jerman, orang yang menghabiskan makanan akan disuruh bayar double. Kalau di Indonesia tidak seperti itu, apalagi kalau makan di restoran all you can eat, pasti ada makanan yang terbuang karena bebas mengambil makanan,” kata Rizky dalam sambutannya melalui aplikasi zoom

Upaya lain untuk melakukan dekarbonisasi, yakni regenerasi untuk memulihkan dan melindungi ekosistem, mendukung kemampuan alam untuk menyerap karbon. serta menjaga keanekaragaman hayati. Hal tersebut, dapat dilakukan diantaranya melalui penanaman coral, penanaman bakau dan pelepasan penyu,
“Ini bagian-bagian untuk kita melakukan regenerasi dari lingkungan alam, sehingga dapat membantu dalam mengurangi karbon,” ujar Rizki.
Upaya selanjutnya yakni perlu adanya kolaborasi yang kuat antara Kemenparekraf dengan industri dan asosiasi Pariwisata. Dalam kolaborasi ini, Kemenparekraf mendorong GIPI dapat membentuk suatu unit kerja untuk mempercepat pengurangan emisi karbon.

“Kita nanti bisa membahas bersama-sama dengan GIPI untuk mengimplementasikan ini, karena ini penting sekali dan pemerintah akan menjadi fasilitator dan dewan pengawas,” tutur Rizki.
Apa yang disampaikan Rizky terkait kolaborasi ini diperkuat oleh Direktur Manajemen Industri Kemenparekraf Syaifullah. Ia mengatakan dalam upaya mengurangi emisi karbon, Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri harus ada dukungan dan implementasi dari industri dan juga wisatawan.

“Kita berharap dari acara sosialisasi ini, akan turun deklarasi rencana aksi dan dukungan dari industri dan stakeholder lainnya dalam upaya mendorong implementasi pilot project ini dan bisa menjadi kebijakan yang penting dan strategis ke depan di dalam membuat suatu regulasi,” kata Syaifullah.
Dalam acara sosialisasi ini, dihadirkan paparan dari CEO WISE STEP M. Nalendra yang memaparkan materi tentang Program Carbon Offset dan paparan dari CEO Jejak.in Alfan Arlanda yang menjelaskan tentang Aplikasi Penghitungan Jejak Karbon.
