Kemenpar Siapkan Strategi Hadapi Tekanan Global, Target Pariwisata Tetap Dijaga
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana memberikan paparan dalam Rapat Kerja bersama Komisi VII DPR RI, 4 April 2026 (Foto: Birkom Kemenpar)
El John News, Jakarta-Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata menegaskan komitmennya untuk menjaga kinerja sektor pariwisata nasional tetap kuat di tengah tekanan global yang semakin kompleks. Hal tersebut disampaikan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI, Rabu (1/4/2026).
Dalam pemaparannya, Widiyanti menjelaskan bahwa arah kebijakan pariwisata tahun 2026 difokuskan pada pengembangan pariwisata berkualitas yang aman, berkelanjutan, serta memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat. Salah satu langkah utama adalah peningkatan standar keselamatan wisata melalui pelatihan dan sertifikasi pemandu wisata, penyusunan pedoman keselamatan destinasi, hingga pemetaan kawasan rawan bencana.
Selain itu, pemerintah juga terus mendorong penguatan lebih dari 6.200 desa wisata melalui program pendampingan masyarakat, sertifikasi, serta pengembangan jejaring ekonomi berbasis pariwisata lokal. Upaya ini diharapkan mampu memperkuat daya saing destinasi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Program unggulan seperti Wonderful Indonesia Gastronomi, Wonderful Indonesia Wellness, Event by Indonesia, serta pengembangan digitalisasi melalui Tourism 5.0 juga akan terus dilanjutkan untuk memperkuat daya tarik pariwisata nasional.
Namun demikian, sektor pariwisata Indonesia tidak terlepas dari tekanan global. Konflik di kawasan Timur Tengah berdampak langsung terhadap konektivitas penerbangan internasional. Penutupan wilayah udara Iran dalam periode akhir Februari hingga Maret 2026 menyebabkan gangguan pada ratusan penerbangan dari sejumlah hub utama, yang berujung pada pembatalan rute menuju Jakarta, Bali, dan Medan.
Kondisi tersebut berpotensi mengurangi sekitar 60 ribu kunjungan wisatawan mancanegara dengan nilai devisa yang tidak terealisasi mencapai sekitar Rp2,04 triliun.
“Dinamika geopolitik global tentu memberikan tekanan terhadap sektor pariwisata. Namun kami terus melakukan langkah-langkah mitigasi agar target kinerja pariwisata nasional tetap terjaga”
Tekanan juga datang dari lonjakan harga energi global yang mendorong kenaikan biaya transportasi. Hal ini berdampak pada meningkatnya tarif perjalanan internasional akibat penerapan fuel surcharge oleh maskapai.
Menghadapi situasi tersebut, Kemenpar menyiapkan sejumlah strategi adaptif, termasuk mengalihkan fokus pasar ke kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, dan pasar medium-haul. Selain itu, pemerintah juga memperkuat promosi digital internasional dan menjalin kerja sama dengan maskapai yang memiliki rute langsung ke Eropa dan Amerika.
Langkah lain yang ditempuh adalah mendorong penyelenggaraan event lintas batas serta mengoptimalkan wisata nusantara guna menjaga tingkat kunjungan dan hunian destinasi di dalam negeri.
“Di tengah tekanan global, kita perlu bergerak lebih adaptif. Diversifikasi pasar, penguatan promosi, dan optimalisasi wisata nusantara menjadi kunci agar sektor pariwisata tetap menjadi penggerak ekonomi nasional,” jelasnya.
Widiyanti juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga kinerja pariwisata. Pemerintah mendorong kebijakan strategis seperti insentif penerbangan, pemberian bebas visa kunjungan, serta peningkatan kapasitas kursi penerbangan.
“Kami percaya bahwa dengan kolaborasi seluruh kementerian dan lembaga, serta dukungan DPR RI, sektor pariwisata Indonesia akan tetap tangguh dan mampu menjaga kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” tambahnya.
