Lestarikan Budaya Tionghoa, Chinese Kuliner ke-2 Hadirkan Pertunjukan dan Talkshow Kung Fu
Chinese Kuliner ke-2 yang digelar di Baywalk Mall, Pluit, Jakarta Utara. tidak hanya menyajikan makanan-makanan khas Tionghoa namun ada sejumlah acara menarik, salah satunya pertunjukan Kung Fu tradisional.
Bela diri dari negeri Tirai Bambu ini ditampilkan pada acara pembukaan Chinese Kuliner ke-2. Atraksi Kung Fu ini bukan hanya ditunjukan oleh kalangan dewasa namun juga diperagakan oleh anak-anak. Mereka begitu terampil memainkan jurus-jurus Kung Fu , mulai dari yang sendirian hingga berkelompok.
Berbagai jenis Kung Fu ditampilkan di antaranya Kung Fu Shaolin, Kungfu Tai Chi Chuan, Kungfu Wing Chun dan Kungfu Baguazhang. Selain itu, ada berapa peserta yang menampilkan atraksi Kung Fu dengan menggunakan pedang dan tongkat.

Atraksi ini, sukses mengundang perhatian pengunjung mall. Sambil menikmati kuliner yang disajikan, sejumlah pengunjung begitu antusias melihat penampilan pemain Kung Fu.
Tidak hanya atraksi, seni bela diri yang menampilkan gerakan dinamis ini juga dikupas dalam sebuah talk show. Praktisi hingga master Kung Fu dihadirkan untuk memberitahu kepada penonton tentang perkembangan dan manfaat Kung Fu.
“Salah satu tujuannya untuk menggali tentang pupuk tradisional di Indonesia, Bagaimana perkembangannya, bagaimana tokoh-tokohnya, lalu apakah manfaat dari Kung Fu ini di tengah berbagai terpaan teknologi ya, supaya generasi muda juga bisa ikut mendengarkan kurang lebih seperti itu,” kata penulis dan praktisi Kung Fu Alex Chung saat diwawancarai tim liputan EL JOHN Media.

Alex yang juga sebagai moderator dalam talk show Kung Fu ini merasa bersyukur para tokoh-tokoh Kung Fu di Indonesia dapat meluangkan waktunya untuk berbagai informasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Apa yang disampaikan para narasumber begitu penting untuk menggugah minat generasi muda dalam mencintai Kung Fu yang menjadi salah satu budaya suku Tionghoa.
“Mungkin bukan kesulitan, tapi suatu keseruan atau tantangan ya, bagaimana kita mengumpulkan para narasumber yang menjadi tokoh-tokoh bela diri Kung Fu berkumpul. Karena para tokoh ini juga usianya dari kalangan yang berbeda, ada yang sudah senior, ada yang sudah sepuh, ada yang masih muda, ada yang masih berlatih, kita berusaha mengumpulkan Mencari waktu yang pas agar mereka dapat menyampaikan informasi yang bermanfaat kepada Masyarakat,” ujar Alex.

Sementara praktisi Kung Fu lainya, Tan Ka Siong menerangkan bahwa Kungfu memiliki dua metode pembelajaran yakni pembelajaran hard skill dan soft skill. Untuk Hard Skill, Kungfu digunakan untuk ke bertarung atau berkelahi dalam menyelesaikan masalah, sedangkan soft Skill, Kung Fu difungsikan untuk pendekatan halus ketika sedang menghadapi masalah.
Lebih lanjut, Tan Ka Siong menjelaskan Kung Fu adalah lebih dari sekadar seni bela diri, tetapi telah menjadi cermin budaya Tiongkok yang kaya, dengan unsur-unsur filosofis, sejarah, dan seni pertunjukan. Kung Fu menginspirasi orang-orang di seluruh dunia dengan pesan-pesan universalnya tentang keseimbangan, disiplin, dan pertumbuhan pribadi. Kung Fu adalah warisan budaya yang patut dihargai dan dipelajari oleh generasi-generasi mendatang.

“Kita sebagai orang Tionghoa Indonesia sudah relevan apabila mencoba berlatih Kung Fu, karena Kung Fu bukan sebatas bela diri tapi merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan dan dijaga, terutama oleh generasi muda. Kalau tidak begitu maka Kung Fu akan punah setelah generasi kami lewat,” tegas Tan Ka Siong,

Seperti diketahui, Chinese Kuliner ke-2 merupakan event rutin yang digelar Putra Putri Hakka Jakarta dan Pemuda Teochew Indonesia. Event kali ini lebih menarik karena selain menampilkan banyaknya tempat kuliner, event ini juga menyuguhkan berbagai acara menarik seperti Lomba Mewarnai, Pertunjukan Barongsai, KLB Musik dan Pesta Lampion.
