Perayaan Seratus Tahun Momentum Mengenang Sejarah Panjang MATAKIN
Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) menggelar perayaan seratus tahun berdirinya organisasi tertinggi umat dan kelembagaan agama Khonghucu di Indonesia itu, dengan mengangkat tema “Meski Rajiao dan MATAKIN Makin Menua, Firman Tetap Dipelihara Agar Senantiasa Baharu”.
Perayaan satu abad ini, dilangsungkan di Restoran Sun City, Glodok, Jakarta Barat, Senin malam (23/10/2023).
Perayaan dihadiri, di antaranya Ibu Negara keempat Sinta Nuriyah Wahid; Kepala Pusat Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu Dr. H. Susari, MA, Ketua Dewan Kehormatan MATAKIN, Prof. Dr. H. Jimly Asshiddiqie, SH., M.H; Ketua Umum MATAKIN, Budi Santoso Tanuwibowo; sejumlah pimpinan partai politik dan pimpinan organisasi keagamaan.
Momentum perayaan digelar dalam rangka mengenang sejarah panjang Majelis Tinggi Agama Khonghucu dalam memfasilitasi pelbagai kegiatan keagamaan, budaya, dan pendidikan yang berhubungan dengan Khonghucu.

Dalam sambutannya Ketua Umum MATAKIN, Budi Santoso Tanuwibowo mengatakan dalam perjalanannya, MATAKIN beberapa kali mengalami berbagai dinamika dan perubahan nama karena berbagai alasan, mulai dari dibekukan akibat penjajahan Jepang hingga lahir kembali tahun 1955.
Pada zaman penjajahan Jepang, MATAKIN dianggap pro kemerdekan sehingga dibekukan, namun MATAKIN Kembali berdiri lagi pada tahun 1955. Tak berhenti disitu, setelah tahun 1955, MATAKIN masih mengalami masa sulit untuk menjalankan roda organisasi.
“Ketika berdiri lagi tahun 55, MATAKIN ternyata mengalami hantaman lagi hingga pingsan sampai dengan tahun 78 dan mati suri tahun 78 sampai tahun 98. Sekiranya mati suri itu diperpanjang mungkin tidak ada ulang tahun,” kata Budi.

Perjalanan MATAKIN baru sempurna setelah tahun 1998 yakni masa pemerintahan Gus Dur, Megawati dan SBY. Roda organisasi Kembali dapat dioperasikan awalnya Ketika Presiden Gus Dur mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 yang menjadikan Konghucu sebagai agama resmi di Indonesia sekaligus memperbolehkan perayaan Tahun Baru Imlek.
“Selama zaman Pak SBY selama tiga tahun 2004 sampai 2006 semua hal yang terkait Khonghucu tuntas dibersihkan oleh beliau. Apa saja yang dibereskan oleh Pak SBY, KTP yang sebelumnya tidak bisa disosialisasikan akhirnya disosialisasikan, pernikahan Khonghucu dibolehkan, pelayanan sipil lainnya dibebaskan,” sambung Budi.

Lebih lanjut, Budi mengatakan eksistensi organisasi yang dipimpinnya sudah tersebar di berbagai daerah dan telah membentuk kepengurusan di berbagai provinsi, kabupaten/kota. Memasuki abad kedua ini, dituntut peran strategis Matakin untuk lebih berperan aktif dan berkontribusi positif dalam memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara, sebagaimana dicita-citakan para pendiri bangsa.
“Salah satu cita-cita untuk ikut berkontribusi memajukan dan mencerdaskan kehidupan bangsa yang juga menjadi impian dari para pendiri dan pendahulu Matakin. Yakni dengan adanya Gedung Pusdiklat Khonghucu sebagai sarana pelatihan dan pendidikan calon rohaniawan, guru dan pengasuh sekolah Minggu serta Sekolah Tinggi Agama Khonghucu Indonesia Negeri, yang diharapkan segera terwujud,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Kehormatan Matakin, Prof. Dr. H. Jimly Asshiddiqie, SH., M.H. menyampaikan dengan perayaan ini Matakin diharapkan terus memberikan pencerahan kepada umatnya dan memberi contoh bagi segenap umat beragama di Indonesia tentang berbagai kemuliaan serta kebajikan yang diajarkan agama Khonghucu. Dalam perjalanan satu abad ini menurutnya, ada satu yang dirasa penting untuk sama-sama sharing guna meningkatkan kualitas etika kehidupan berbangsa kita yang selama reformasi cenderung mengalami penurunan.
“Oleh karena itu dalam acara ini saya mengajak tokoh-tokoh lintas agama untuk membangun front yang sama dalam rangka menyumbang bagi upaya kemajuan kualitas dan integritas kehidupan kebangsaan,” ucapnya.

Dalam kn Puncak Acara 100 tahun MATAKIN, digelar penganugerahan tokoh-tokoh Khonghucu yang berkontribusi dan berperan dalam perjuangan untuk Bangsa dan Negara Indonesia maupun terhadap perkembangan kemajuan lembaga dan umat agama Khonghucu Indonesia.
