Jadi Narasumber, Leoni Dwi Agitha Ajak Masyarakat Majukan Pangan Lokal
Putri Bumi Multitalented 2023 Leoni Dwi Agitha dan Putri Bumi Indonesia Air 2023 Laurentia Maria menjadi narasumber dan juri Aksi Kita Sapa Bumi Goes To School di SMP Bina Bangsa Sejahtera (BBS) Bogor pada Sabtu (21/10/2023).
Adapun peserta yang berpartisipasi ialah siswa-siswi dari berbagai sekolah di Bogor, serta masyarakat yang tinggal di sekitar Bogor.
“Kami jadi juri untuk food walk. Aktivitas ini seperti fashion show yang dilakukan anak-anak BBS, di mana mereka tidak hanya catwalk, tetapi mereka juga harus mempresentasikan makanan lokal yang mereka bawa seperti informasi asal arti dari makanan lokal tersebut. Ada yang bawa makanan khas Makassar, Padang, Betawi, dan lainnya,” ucap Leoni.
Leoni mengatakan, para peserta sangat antusias untuk ikut rangkaian kegiatan Aksi Kita Sapa Bumi. Bahkan, perempuan cantik ini juga kagum dengan salah satu anak yang juga sebagai narasumber, di mana bisa menerapkan circular economy dalam kesehariannya.

“Dia bisa metik stroberi dari hasil tanaman dia, berjualan bahan cairan pembersih lantai hasil dari sampah organik. Seru deh. Senang generasi muda ternyata sudah aware dan bahkan sampai mempraktikannya,” kata Leoni.
Putri Binaan Yayasan El John Indonesia ini menjelaskan, jika melihat data dari Global Food Security Index (GFSI), indeks ketahanan pangan Indonesia pada 2022 berada di level 60,2, lebih tinggi dibanding periode 2020-2021. Dengan adanya kenaikan ini, perlu diapresiasi untuk semua pihak yang terlibat.
“Tapi kita jangan puas dulu karena melihat tantangan iklim yang sekarang berubah dan tidak menentu, yang mana dampak climate change sangat berdampak langsung ke pertanian kita dan berdampak pula ke ketahanan pangan kita,” kata Leoni.
Leoni mengungkapkan, ada beberapa dampak dari perubahan iklim, yakni kenaikan suhu yang bisa menyebabkan kekeringan panjang, di mana hal itu dapat berdampak terhadap ketersediaan air. Selain itu, kenaikan suhu juga membuat jenis hama semakin beragam dan bisa menyebabkan tanaman rusak, serta kenaikan suhu juga bisa menaikkan air permukaan laut sehingga bisa terjadi banjir bahkan abrasi.

“Kalau seperti ini, pertanian bisa kehilangan hasil panennya. Kalau misalnya kebutuhan pangan kita saja rentan, kita makan pakai apa? Dan ini bisa berdampak ke kesehatan kita,” tutur Leoni.
Untuk menjaga pangan, Leoni mengajak masyarakat terutama generasi muda untuk tidak membuang makanan, serta memajukan pangan lokal.
“Misalnya kita lebih memilih makanan-makanan lokal dibandingkan makan import. Ada pepatah bagus, ‘tanamlah yang kita makan, makanlah apa yang kita tanam’. Cocok banget mengingatkan kita untuk lebih cinta ke pangan lokal,” ucap Leoni.
Leoni berharap, kegiatan Aksi Kita Sapa Bumi terus dilanjutkan ke sekolah-sekolah lain, serta kerja sama dengan berbagai pihak semakin ditingkatkan agar manfaat dari acara ini bisa diterima oleh banyak orang.

Selain itu, Leoni juga berharap pemerintah bisa melihat dilema terkait ketercapaian pemenuhan pangan dengan kelestarian lingkungan, serta kepada para wirausaha untuk lebih membuat inovasi dari pangan lokal.
“Kadang untuk memenuhi kebutuhan pangan kita kurang memperhatikan bagaimana kita menggunakan lahan yang kita pakai untuk tanam, banyak pupuk kimia yang digunakan sehingga merusak tanah aslinya dan kadang kita kurang melihat daya dukung tanah yang kita gunakan. Mungkin kita sering melebihi daya dukung lahan tersebut,” jelas Leoni.
Sementara itu, kegiatan Aksi Kita Sapa Bumi Goes to School sudah diadakan sejak tahun 2022. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan Aksi Kita Sapa Bumi yang rutin diadakan setiap hari Sabtu.
“Aksi Kita Sapa Bumi ini merupakan talkshow yang didedikasikan sebagai ruang berbagai berbagai aksi positif menjaga dan melestarikan lingkungan sebagai ruang hidup kita dan masa depan bumi. Pada talkshow dihadirkan berbagai orang, komunitas, dan organisasi yang melakukan berbagai inisiatif inspiratif tentang menjaga dan melestarikan lingkungan. Talkshow ini dapat didengarkan di RRI Bogor Pro 2 FM setiap Sabtu jam 10-11 pagi atau live streaming KRKP,” jelas Koordinator Lapangan Aksi Kita Sapa Bumi Syifa.

Syifa mengatakan, diadakannya kegiatan ini untuk memberikan edukasi kepada generasi muda, khususnya anak-anak mengenai perubahan iklim, mengenalkan pangan lokal sebagai salah satu upaya mengurangi emisi dan dampak perubahan iklim.
Selain itu, mendorong berbagai praktik berkelanjutan yang dilakukan oleh komunitas, khususnya di sekolah seperti budidaya maggot, ecoprint, budikdamber, hingga membuat produk pembersih ramah lingkungan dari sereh dan briket.
“Materi mengenai perubahan iklim bisa menjadi salah satu kurikulum yang dikembangkan di sekolah-sekolah di Indonesia, sehingga siswa-siswi dapat memahami perubahan iklim tidak hanya sebatas fenomena alam yang memang sudah terjadi, tetapi sebagai masalah yang perlu ditangani secara bersama-sama. Harapannya dari langkah kecil yang dilakukan secara bersama-sama bisa menjadi capaian tujuan yang lebih besar untuk ke depannya,” ucap Syifa.
