Putri-putri Binaan Yayasan El John Indonesia Ikuti Kontes Busana Peranakan

0
putri el john

Putri-putri binaan Yayasan El John Indonesia menjadi peserta kontes busana peranakan dengan memadukan dua kultur yaitu batik dan cheongsam di Jiexpo, Kemayoran, Jakarta Utara, Jumat (2/8/2024).

Acara tersebut diselenggarakan oleh PT. Krista Exhibitions yang bekerja sama dengan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI).

Putri-putri tersebut adalah Miss Chinese Indonesia Favorite 2020 Felicia Jovita, Miss Chinese Indonesia Culture 2023 Angela Cheryl Nathania, dan Miss Chinese Indonesia Inspirator 2023 Nathalia Angelina.

Felicia mengungkapkan bahwa ia mempersiapkan kontes busana peranakan selama kurang lebih dua minggu untuk mencari baju, referensi make up, hairdo, hingga aksesori.

“Kesulitannya menemukan baju yang sesuai karena pengennya yang wow, yang megah, tapi susah banget cari yang batik itu agak langka ke desainer. Untungnya ada bantuan dari teman aku, Tiffany Liem Studio, itu kolaborasi sama aku. Jadi dapat bajunya cheongsam batik,” ucap Felicia.

Meski baru pertama kali ikut kontes busana peranakan, tetapi Felicia berhasil mendapatkan juara harapan dua.

“Harapan aku untuk acara kontes busana peranakan ini untuk sering diadakan, makin banyak pesertanya, dan makin banyak juga dari segala generasi ikut melestarikan perpaduan budaya Indonesia dan budaya Tionghoa,” harap Felicia.

Hal senada juga diungkapkan oleh Angela, di mana ia juga baru pertama kali ikut lomba fashion show. Ia mengaku sempat mengalami kesulitan dalam mencari pakaian.

“Jadi bisa dibilang aku cukup deg-degan and all I can do is do my best di lomba kali ini. persiapannya kira-kira seminggu dari yang pertama aku lihat poster lomba ini,” ucap Angela.

Angela mengatakan, kontes ini dapat mendorong minat masyarakat terhadap busana peranakan Tionghoa dan Indonesia, serta menarik minat masyarakat baik generasi muda maupun dewasa lebih mendalami bidang kecantikan dan juga busana.

“Harapan aku agar dapat PSMTI lebih dikenal lagi oleh kalangan luas, dapat lebih mendorong pengenalan tentang budaya Tionghoa Indonesia, dan juga supaya PSMTI dapat semakin sukses dan jaya di masa depan,” kata Angela.

Sementara itu, Nathalia mengaku senang bisa berpartisipasi menjadi peserta, di mana ia bisa memperkenalkan busana perpaduan cheongsam dan batik. Ia membutuhkan waktu lima hari untuk persiapan.

“Batik yang aku pakai di sini merupakan Batik Gobang, jadi batik Betawi sama aku bawa ikon dari Jakarta, yaitu ondel-ondel untuk dipamerkan. Jadi aku mau pamerin juga ternyata aku lahir dan besar di Jakarta, makanya aku paduin dengan cheongsam,” kata Nathalia.

Nathalia berharap, dengan adanya perpaduan antara batik dan cheongsam dapat menyatukan perbedaan di masyarakat Indonesia.

“Aku berharap ke depannya dengan adanya ajang ini bisa muncul lagi ajang-ajang baru yang mengedepankan akulturasi budaya seperti ini,” tutup Nathalia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *