Berikan Apresiasi Kepada NU, Presiden Prabowo Tegaskan Komitmen Persatuan Bangsa

0
Screenshot_6-2-2025_11589_www.presidenri.go.id

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menghadiri peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-102 Nahdlatul Ulama (NU) yang diselenggarakan di Istora Senayan, Jakarta, pada Rabu, (5/2/2025). Acara yang dihadiri oleh ribuan warga NU, kiai, ulama, dan santri ini dilaksanakan dengan nuansa hijau khas NU, menciptakan suasana yang penuh dengan kebersamaan dan keharmonisan.

Setibanya di lokasi, Presiden Prabowo disambut hangat oleh seluruh hadirin. Suasana kekeluargaan dan kedamaian begitu terasa, dan Prabowo mengungkapkan rasa terhormatnya bisa hadir di tengah-tengah keluarga besar NU. Dalam sambutannya, ia menyatakan bahwa kehadirannya di acara tersebut memberi dampak positif bagi dirinya.

“Sepertinya setelah hadir di sini, saya merasa semakin berani dan lebih bertekad untuk tidak mengecewakan kepercayaan yang telah diberikan kepada saya serta saudara Gibran Rakabuming Raka dan seluruh anggota koalisi kami,” ujar Presiden Prabowo, langsung disambut tepuk tangan hangat dari tamu undangan.

Presiden Prabowo melanjutkan sambutannya dengan mengenang kedekatannya dengan kalangan ulama. Ia menjelaskan bahwa hubungan erat ini telah terjalin sejak lama, bahkan sejak masa mudanya ketika ia masih menjadi prajurit. Bagi Prabowo, kedekatan dengan ulama adalah hal yang sangat penting, terutama dalam menjalani tugasnya sebagai seorang tentara.

“Sebagai seorang prajurit, sejak muda saya sering menghadapi bahaya dan maut. Biasanya, ketika seseorang menghadapi maut, mereka akan mencari kiai. Saya pun mencari kiai sejak muda,” tambah Prabowo yang kemudian disambut tawa oleh para hadirin. Pernyataan ini menunjukkan betapa pentingnya peran ulama dalam memberikan kekuatan spiritual dalam hidup seorang prajurit.

Presiden Prabowo juga tidak lupa menyoroti peran penting NU dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan kepada hadirin bahwa meskipun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia diproklamirkan di Jakarta, ujian terbesar untuk kemerdekaan Indonesia sebenarnya terjadi di Surabaya dan Jawa Timur. Di sinilah, menurut Prabowo, para ulama dan santri berjuang mempertahankan kemerdekaan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Pada pertempuran 10 November 1945, kita menyaksikan bagaimana para ulama berperan sebagai pejuang, perintis, dan pemimpin dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Mereka adalah para pahlawan yang telah memberikan kontribusi luar biasa untuk negara ini,” ujar Presiden Prabowo dengan nada penuh rasa hormat.

Selain membahas sejarah perjuangan kemerdekaan, Presiden Prabowo juga mengapresiasi peran NU dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Ia menegaskan bahwa kemajuan dan keberhasilan suatu negara tidak akan terwujud tanpa kerja keras, persatuan, dan moderasi.

“Keberhasilan sebuah negara harus diusahakan dengan kerja keras, dengan persatuan, dan dengan moderasi. Saya percaya Nahdlatul Ulama memiliki peran yang sangat penting dalam hal ini. Sebagai organisasi yang mewakili kelompok mayoritas agama, NU, bersama dengan Muhammadiyah, Persis, dan organisasi lainnya, telah menunjukkan teladan dalam moderasi, dalam menjaga kesejukan, saling menghormati, dan melindungi semua umat, tanpa terkecuali,” ujar Presiden Prabowo, yang disambut dengan tepuk tangan penuh semangat dari seluruh hadirin.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo juga menekankan bahwa kesuksesan Indonesia sebagai negara yang maju dan sejahtera hanya bisa tercapai jika seluruh komponen bangsa bekerja sama, saling menghormati, dan menjaga persatuan. NU, sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia, memainkan peran sentral dalam mewujudkan hal tersebut.

Tak hanya itu, Prabowo juga mengajak seluruh warga NU untuk terus bergandengan tangan dengan pemerintah dalam membangun Indonesia yang lebih baik. “Saya yakin dengan kerja sama yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi seperti NU, kita bisa membangun Indonesia yang lebih maju, adil, dan sejahtera bagi seluruh umat,” ujarnya.

Peringatan Harlah NU ke-102 ini semakin berkesan dengan kehadiran berbagai tokoh penting, seperti Wakil Presiden Gibran Rakabuming, Wakil Presiden Ke-13 RI Ma’ruf Amin, serta sejumlah pejabat negara dan duta besar. Puncak acara ini juga diwarnai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pengurus Besar NU (PBNU) dan Badan Gizi Nasional (BGN), yang disaksikan oleh Presiden Prabowo. Kerja sama tersebut bertujuan untuk mempercepat pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) yang akan memberi dampak positif bagi masyarakat Indonesia.

Sebagai bagian dari rangkaian acara, Presiden Prabowo juga membuka secara resmi Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama Tahun 2025 yang akan berlangsung hingga 7 Februari 2025. Munas ini menjadi ajang penting bagi para ulama dan tokoh agama untuk merumuskan langkah-langkah strategis bagi kemajuan umat dan bangsa.

Peringatan Harlah ke-102 Nahdlatul Ulama kali ini tidak hanya merupakan sebuah perayaan, tetapi juga momentum penting untuk memperkuat kerja sama antara pemerintah dan masyarakat. Dengan mengusung semangat kebersamaan dan gotong royong, NU terus memainkan peran strategis dalam menjaga perdamaian, persatuan, dan kemajuan bangsa Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *