Kolaborasi Tim Peneliti UNTAR dan Blotan Asian Art Sukses Ekspor Furnitur ke AS: Bukti Dunia Industri dan Akademisi Dapat Bersinergi
Kolaborasi tim peneliti Universitas Tarumanagara (UNTAR) dengan CV. Blotan Asian Art sebagai mitra industri, untuk membuat desain furnitur yang diminati pasar dunia berbuah manis. Pada 15 Juli 2025, produk furnitur hasil kolaborasi tersebut berhasil menembus pasar ekspor Amerika Serikat untuk yang kali pertama. Produk unggulan tersebut berupa kursi rotan bertipe Rosa-Rasa (Stacking Arm Chair) dirancang oleh Eddy Supriyatna-Marizar yang didukung pengkajian mendalam dari tim peneliti UNTAR.
Keberhasilan ekspor ini menjadi salah satu contoh nyata dari model kerja sama “segi tiga emas” yang melibatkan akademisi, pelaku industri, dan birokrasi. Dalam penelitian ini, Dr. Eddy Supriyatna-Marizar sebagai Ketua tim peneliti dibantu oleh Dr. Maitri Widya Mutiara, S.Ds., M.M. sebagai anggota tim riset desain.
Mitri mengatakan keterlibatan dosen muda dan mahasiswa dalam program ini memberikan pengalaman belajar yang luar biasa. Mereka tidak hanya belajar tentang teori desain, tetapi juga mengalami langsung proses pengembangan produk, implementasi, hingga penetrasi pasar internasional.
“Ini akan menjadi bekal akademis dan praktis untuk karir mereka di masa depan yang berdampak pada peningkatkan daya saing bagi lulusan Desain Interior Untar,” sambungnya.

Kolaborasi lintas generasi dan multidisipliner ini menciptakan ekosistem inovasi yang menggabungkan pendekatan akademik dengan kepekaan membidik pasar. Program riset kolaboratif ini merupakan bagian dari skema riset terapan hibah kompetisi DIKTI Kemendikbudristek RI (sekarang Kemensaintekdikti RI) bertujuan untuk memperkuat posisi produk Indonesia di pasar internasional melalui pendekatan ilmiah dan desain yang berbasis pasar. Desain kursi Rosa-Rasa tidak hanya mengutamakan estetika, tetapi juga mempertimbangkan aspek fungsionalitas sesuai tren global, sehingga mampu bersaing di kancah internasional.
Kursi Rosa-Rasa dirancang dengan memperhatikan keunikan serat rotan alami Indonesia yang dikenal kuat dan fleksibel, serta mengusung bentuk ergonomis yang sesuai dengan kebutuhan pasar mancanegara. Desainnya yang elegan namun sederhana mencerminkan pendekatan modern terhadap material tradisional, menjadikannya cocok untuk pasar Amerika dan Eropa yang mengutamakan desain ramah lingkungan (eco friendly) dan handmade craftsmanship. Produk ini juga memperhatikan detail spesifikasi sesuai preferensi pasar global, seperti kemudahan stacking (ditumpuk), bobot ringan, dan kemasan ramah lingkungan.
Produk kursi rotan ini dipesan oleh Safavieh, sebuah perusahaan buyer besar di Amerika Serikat yang memiliki jaringan distribusi furnitur yang luas. Keberhasilan ini menandai tonggak penting dalam upaya hilirisasi hasil riset akademik di Indonesia, khususnya dalam bidang desain produk furnitur berbasis kekayaan lokal seperti rotan. Perlindungan hukum desain kursi rotan Rosa-Rasa telah terdaftar di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum RI.
“Ini adalah bukti konkret bahwa hasil penelitian dan pengembangan dari kampus dapat memiliki nilai jual tinggi secara global, jika disinergikan dengan industri yang tepat,” ujar Eddy Supriyatna-Marizar.

Keberhasilan ekspor kursi Rosa-Rasa tidak hanya membawa nama baik bagi UNTAR dan mitra industrinya, tetapi juga menjadi langkah strategis bagi pengembangan industri furnitur rotan Indonesia secara keseluruhan. Apalagi, produk rotan Indonesia selama ini memiliki daya saing tinggi dari sisi bahan baku, namun masih tertinggal dari sisi desain dan akses pasar global.
Ketua Peneliti Riset Terapan, Dr. Drs. Eddy Supriyatna-Marizar, M.Hum., M.M., menegaskan bahwa keberhasilan ini adalah bukti konkret bahwa riset di perguruan tinggi bisa diimplementasikan dan memberi benefit berupa nilai tambah ekonomi.
“Bagi dunia pendidikan tinggi, keberhasilan riset terapan yang dapat diwujudkan secara nyata dan mampu diekspor di dalam konteks hilirisasi ini merupakan kontribusi besar pada kemajuan industri yang mendukung program pemerintah,” ungkap Eddy.
Ia menambahkan bahwa kegiatan riset yang berdampak seperti ini tidak hanya berkontribusi pada perekonomian, tetapi juga secara langsung meningkatkan reputasi perguruan tinggi di mata publik dan mitra internasional.
“Esensinya, nilai daya saing dalam riset terapan akan memberikan kontribusi pada peningkatan visibilitas, kepercayaan, peringkat, kualitas kompetensi, kepakaran, dan kerja sama dengan berbagai pihak,” ujarnya lebih lanjut.

Eddy juga menjelaskan bahwa program kolaborasi riset terapan seperti “Pengembangan Desain Kursi Rotan Minimalis di Cirebon untuk Pasar Ekspor” ini dapat dijadikan model pembelajaran bagi perguruan tinggi lainnya, terutama dalam bidang desain produk dan industri furnitur.
Keberhasilan riset ini bukan hanya hasil kerja akademik semata, tetapi juga hasil sinergi kuat antara akademisi, industri, dan pemerintah. Skema hibah riset terapan dari Kemensaintek RI turut memberikan dukungan strategis dalam menjembatani ide-ide akademik dengan kebutuhan pasar global.
Hal senada juga dilontarkan Owner CV. Blotan Asian Art Heru Prasetyo. Ia menyebut kerja sama ini sebagai contoh nyata sinergi antara dunia usaha dan dunia pendidikan yang berdampak langsung terhadap penguatan nilai ekspor nasional.
“Kolaborasi Tim Peneliti UNTAR dengan CV Blotan adalah contoh hal yang baik, karena ini menunjukkan bagaimana dunia usaha dan universitas bisa berjalan beriringan. Harapan kami, ini bisa menjadi model bagi industri-industri lain untuk meningkatkan nilai ekspornya,” ujar Heru.
Produk kursi rotan bertipe Rosa-Rasa, hasil penelitian tim riset UNTAR, kini telah berhasil menembus pasar Amerika melalui buyer besar, Safavieh. Namun, ekspor kali ini dihadapkan dengan tantangan baru menyusul kebijakan terbaru pemerintah AS.
“Hari ini kami juga mendapat kabar bahwa pemerintahan Trump-Sudhafiq menyatakan tarif baru sebesar 19 persen untuk produk-produk tertentu. Tentu saja hal itu jadi tantangan bagi kita agar tetap bisa bertahan di pasar Amerika. Padahal 53 persen ekspor furnitur kita masuk ke sana,” jelas Heru.

Meski menghadapi tantangan tarif impor, Heru menyatakan bahwa kerja sama ini justru makin memperkuat komitmen perusahaannya untuk terus memproduksi dan memasarkan desain-desain orisinal dan unik karya akademisi UNTAR.
“Harapan kami, desain-desain dari Tim Peneliti UNTAR lainnya juga bisa diterima dan laku di pasar global. Fokus kami adalah tetap menjual dan memproduksi barang-barang dari desain kampus, karya para akademisi, yang terbukti bisa diterima pasar,” lanjutnya.
Ke depan, strategi ekspansi pasar juga tengah disiapkan CV. Blotan. Heru mengungkapkan bahwa pihaknya akan membidik emerging market seperti Asia Selatan, Timur Tengah, hingga Afrika sebagai target baru pengembangan pasar ekspor.
“Amerika memang pasar tradisional kita, tapi kami juga mulai melirik pasar-pasar baru. Desain-desain yang lebih cocok untuk Timur Tengah atau Afrika akan kita kembangkan bersama Tim Peneliti UNTAR. Semoga kolaborasi ini terus berlanjut dan makin kuat ke depannya,” pungkasnya.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa dengan dukungan birokrasi, riset akademik tidak harus berhenti di laboratorium atau jurnal ilmiah, tetapi bisa hadir langsung di ruang makan dan ruang tamu konsumen global, dalam bentuk furnitur yang fungsional, estetis, ergonomis, dan bernilai ekspor.
