5 Tradisi Unik Cerminan Kebudayaan dan Kosmologi Masyarakat Cirebon

0
5 Tradisi Unik Cerminan Kebudayaan dan Kosmologi Masyarakat Cirebon

Meskipun didominasi oleh agama Islam, Cirebon tetap mempertahankan beragam tradisi lokal yang kaya makna dan penuh simbolisme. Tradisi ini merupakan perpaduan antara nilai keislaman, budaya Jawa, serta kepercayaan kosmologis yang diwariskan turun-temurun. Berikut lima tradisi unik yang masih dijaga hingga kini oleh masyarakat Cirebon. Berikut tradisi ceribon yaitu ;

1. Tradisi Suroan

Dilaksanakan setiap bulan Asyura, tradisi ini erat kaitannya dengan sejarah Islam serta perhitungan weton dan primbon dalam kosmologi Jawa. Di Keraton Kanoman, ritual dilakukan dengan menggelar selametan berupa bubur suro di Bangsal Paseban. Tradisi ini juga menjadi bentuk penghormatan terhadap peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam.

2. Saparan

Tradisi ini diperingati setiap bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Hijriah maupun Jawa. Bulan ini diyakini sebagai bulan yang penuh ujian, bahkan dipercaya sebagai bulan terjadinya malapetaka, khususnya pada hari Rabu terakhir. Masyarakat Cirebon meresponsnya dengan membuat kue apem sebagai bentuk syukuran agar terhindar dari mara bahaya. Tradisi ini dikenal dengan sebutan “ngapem”.

3. Ngirap

Ngirap adalah proses penyucian diri dari dosa dan kesialan. Tradisi ini dipercaya berakar dari kebiasaan Sunan Kalijaga yang mandi di Sungai Drajat untuk menghindari Rebo Wekasan, hari Rabu terakhir bulan Safar yang dianggap membawa celaka. Masyarakat pun mengikuti jejak ini dengan mandi bersama di petilasan Sunan Kalijaga sebagai simbol pembersihan diri.

4. Mauludan

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dirayakan secara meriah di Cirebon. Salah satu tradisi khas adalah Upacara Panjang Jimat, yang digelar oleh tiga keraton utama dan diikuti masyarakat luas. Upacara ini dipimpin oleh Sultan dan melibatkan iring-iringan yang sarat makna, termasuk penyerahan payung pusaka kepada putra mahkota.

5. Rajaban

Tradisi Rajaban dilakukan untuk memperingati Isra Mikraj. Kegiatan utama dalam tradisi ini adalah ziarah ke Makam Plagon, tempat peristirahatan Pangeran Kejaksan yang diyakini sebagai penyebar agama Islam di Cirebon.

Dari Kelima tradisi ini mencerminkan bagaimana masyarakat Cirebon menjaga harmoni antara keagamaan, budaya lokal, dan kepercayaan kosmis yang hidup dalam keseharian mereka.

Penulis: Aliya Lutfi Rakhmawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *