Gunung Kemukus Harus Jadi Wisata Religi Untuk Musnahkan Praktek Prostitusi
Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, menyempatkan diri berziarah ke Gunung Kemukus, Desa Pendem, Sumberlawang, Sragen. Ziarah ini dilakukan politisi PD-P itu di sela-sela kunjungan kerjamya mengecek Jembatan Samudro yang merupakan jalur utama menuju objek wisata tersebut, Kamis, 8 Juni 2017.
Karena letaknya yang bisa dilewati jembatan, akhirnya Ganjar memusutskan untuk melihat lebih dekat objek wisata Gunung Kemukus. Dengan mobil dinasnya, Ganjar melewati gang demi gang di Gunung Kemukus yang sempit, tak rata, dan menanjak. Di gang-gang inilah diketahui hidup subur praktek prostitusi yang sudah terkenal di Gunung Kemukus.
Karena akses menuju Makam Pangeran Samudro hanya bisa dilewati dengan berjalan, akhirnya Ganjar dan rombongan memutuskan untuk berjalan kaki menuju makam. Di makam ini, Ganjar sempat bertanya beberapa hal dengan juru kunci makam. Setelah itu, baru dilanjutkan dengan ziarah.
Usai ziarah, Ganjar mengakui masih ada praktek mesum di kawasan Gunung Kemukus. Padahal dua tahun lalu praktek haram ini sudah dilarang namun nyatanya praktek itu muncul kembali
Untuk mewujudkan target tersebut, Ganjar menyarankan agar tidak ada izin tempat hiburan di Gunung Kemukus dan sekitarnya. Warga di sekitar Kemukus bisa diarahkan untuk berjualan aneka suvenir wisata religi, seperti di objek wisata Kalinyamatan, Kabupaten Jepara.
“Tidak ada hiburan. Jadi kalau mau ziarah ke sini ya mengaji, ziarah. Orang yang datang ke sini betul-betul mau ziarah, berdoa, mendoakan. Setelah itu, saat mereka mau pulang dari ziarah itu belanjanya ya seperti Alquran, sarung, kopiah, peci, maupun tasbih,” imbuh dia.
“Kami juga mendukung penataan fisik tidak hanya sekadar kawasan, tapi juga mental spiritual karena yang menarik ternyata mohon maaf, pelaku yang menyalahgunakan yang sifatnya asusila itu tidak dari sini, melainkan pendatang,” tambahnya.
Penanggung jawab Objek Wisata Gunung Kemukus, Suparno, mengakui masih ada praktik mesum dan prostitusi di Gunung Kemukus. Saat ini tercatat ada sekitar 80 pekerja seks komersial (PSK) yang biasanya beroperasi di Gunung Kemukus. Jumlah itu berlipat saat malam Jumat Pon dan Kliwon.
“Malam Jumat Pon itu lebih banyak [PSK]. Tapi sulit untuk dideteksi, mungkin sampai ratusan orang. Mereka kan nimbrung di sini sebagai pengunjung. Mayoritas dari mereka berasal dari luar Sragen. Untuk yang dari Sragen sendiri kok saya rasa tidak ada,” ujar dia