Di Balik Pencopotan Dadan Hindayana, Ini Deretan Polemik yang Membayangi BGN
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, memberikan klarifikasi terkait isu yang beredar tentang MBG (FotoL Humas BGN)
El John News, Jakarta-Masa jabatan Dadan Hindayana sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) resmi berakhir setelah Presiden Prabowo Subianto melakukan pergantian pimpinan lembaga tersebut. Keputusan itu diambil setelah pemerintah melakukan evaluasi terhadap kinerja BGN selama sekitar satu setengah tahun terakhir dalam menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selama memimpin BGN, Dadan menjadi salah satu pejabat yang kerap menjadi sorotan publik. Selain karena pelaksanaan program unggulan pemerintah yang menyentuh jutaan penerima manfaat, sejumlah kebijakan dan pernyataannya juga beberapa kali memicu perdebatan.
Salah satu yang paling menyita perhatian terjadi pada awal pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Saat itu, Dadan menceritakan kebiasaan kedua anaknya yang mengonsumsi susu hingga dua liter per hari dan mengaitkannya dengan pertumbuhan tinggi badan. Pernyataan tersebut memicu beragam tanggapan karena dinilai sulit diterapkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Dadan kemudian menjelaskan bahwa hal itu merupakan pengalaman pribadi dan bukan bagian dari kebijakan program pemerintah.
Kontroversi kembali muncul ketika Dadan mengemukakan kemungkinan pemanfaatan serangga dan ulat sagu sebagai alternatif sumber protein dalam menu MBG di daerah tertentu. Menurutnya saat itu, sumber protein dapat disesuaikan dengan kebiasaan konsumsi masyarakat setempat. Namun, gagasan tersebut memicu perdebatan luas di ruang publik mengenai standar menu dalam program nasional tersebut.
Di luar polemik pernyataan, tantangan terbesar yang dihadapi BGN selama masa kepemimpinan Dadan adalah tingginya kasus keracunan makanan yang dikaitkan dengan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan ribuan penerima manfaat terdampak dalam ratusan kasus yang terjadi di berbagai daerah. Sejumlah kejadian bahkan melibatkan ratusan pelajar dalam satu waktu dan menjadi perhatian nasional.
Sorotan juga tertuju pada kebijakan pengadaan barang dan jasa di lingkungan BGN. Rencana pembelian puluhan ribu sepeda motor listrik untuk operasional program serta berbagai kebutuhan penunjang lainnya memunculkan kritik dari sejumlah kalangan yang mempertanyakan efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran negara. Meski demikian, BGN saat itu menyatakan seluruh pengadaan dilakukan untuk mendukung operasional dan pelatihan sumber daya manusia yang terlibat dalam program.
Menjelang akhir masa jabatannya, Dadan kembali menjadi perhatian setelah mewacanakan perluasan Program Makan Bergizi Gratis bagi pelajar Indonesia di Jeddah, Arab Saudi. Gagasan tersebut muncul setelah kunjungannya ke Sekolah Indonesia Jeddah dan mendapat respons beragam karena pelaksanaan program di dalam negeri masih menghadapi sejumlah tantangan.
Kini, dengan pergantian kepemimpinan di Badan Gizi Nasional, pemerintah berharap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan lebih efektif, memiliki tata kelola yang lebih kuat, serta mampu menjawab berbagai persoalan yang selama ini menjadi perhatian masyarakat.
