Indonesia Dorong Pariwisata Digital Inklusif, Kemenpar Bawa Tiga Strategi Utama ke Forum APEC

0
6a412850cb063316929412

Foto bersama Menteri Paiwisata se-Asia Tenggara dalam Pertemuan Tingkat Menteri Pariwisata APEC ke-13 (Foto: Birkom Kemenpar)

El John News-Transformasi digital kini menjadi salah satu faktor utama yang menentukan daya saing sektor pariwisata di tingkat global. Pemanfaatan teknologi tidak hanya meningkatkan pengalaman wisatawan, tetapi juga membuka peluang lebih besar bagi pelaku usaha lokal, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), untuk berkembang dalam ekosistem ekonomi digital yang semakin terintegrasi.

Berangkat dari semangat tersebut, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat sektor pariwisata di kawasan Asia-Pasifik melalui inovasi digital, pemberdayaan masyarakat, dan kolaborasi antarnegara dalam Pertemuan Tingkat Menteri Pariwisata APEC ke-13 (13th APEC Tourism Ministerial Meeting/TMM13) yang berlangsung di Makau SAR, Tiongkok, pada 27 Juni 2026.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, sektor pariwisata memiliki peran strategis sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja, mendorong inovasi, sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.

“Sebagai negara yang sedang menjalani transformasi digital secara masif, Indonesia percaya bahwa titik temu antara teknologi pintar dan kolaborasi yang berpusat pada komunitas merupakan cara yang tepat untuk membangun ekosistem pariwisata yang tangguh, inklusif, dan terintegrasi di seluruh kawasan,” ujar Widiyanti.

Dalam forum yang dihadiri delegasi dari 21 ekonomi anggota APEC tersebut, Indonesia menyampaikan dukungan terhadap implementasi APEC Tourism Strategic Plan 2025–2029, Putrajaya Vision 2040, serta berbagai rekomendasi yang disusun APEC terkait kemudahan perjalanan wisata di kawasan Asia-Pasifik.

Menteri Pariwisata (Menpar) RI Widiyanti Putri Wardhana sedang menyampaikan tanggapan (Foto: Birkom Kemenpar)

Indonesia juga menyatakan kesiapan untuk berkontribusi aktif di bawah keketuaan Tiongkok dalam mewujudkan kawasan Asia-Pasifik yang terbuka, dinamis, tangguh, dan kolaboratif.

Pada sesi pembahasan mengenai pemanfaatan teknologi digital dalam pengembangan pariwisata, Indonesia menekankan bahwa inovasi digital harus menjadi penghubung menuju pariwisata yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.

“Kami percaya bahwa inovasi digital harus menjadi jembatan untuk mentransisikan kawasan kita dari mass tourism menuju pariwisata yang bernilai tinggi, berkualitas, dan berkelanjutan,” kata Widiyanti.

Menurutnya, transformasi digital harus tetap berpihak kepada masyarakat. Karena itu, Indonesia mendorong seluruh anggota APEC memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan kapasitas digital UMKM pariwisata agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara lebih merata.

Sebagai contoh, Indonesia memperkenalkan perluasan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai salah satu solusi yang dapat mempermudah transaksi lintas negara sekaligus memperkuat konektivitas ekonomi kawasan. Di dalam negeri, pemanfaatan QRIS juga dinilai telah membantu pelaku UMKM memperluas akses pasar.

Selain itu, Indonesia memaparkan tiga prioritas utama dalam mempercepat transformasi digital sektor pariwisata di kawasan APEC.

Prioritas pertama adalah memperkuat ekosistem digital bagi UMKM pariwisata melalui peningkatan akses terhadap teknologi dan penguatan kapasitas pelaku usaha agar mampu bersaing di era digital.

Pertemuan Tingkat Menteri Pariwisata APEC ke-13 (Foto: Birkom Kemenpar)

Prioritas kedua adalah mengembangkan pengelolaan destinasi wisata secara cerdas (smart destination management). Dalam kesempatan tersebut, Indonesia memperkenalkan program unggulan Tourism 5.0 yang menghadirkan MaiA, platform perencana perjalanan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk meningkatkan promosi destinasi sekaligus memberikan pengalaman wisata yang lebih personal.

Adapun prioritas ketiga adalah meningkatkan literasi digital bagi sumber daya manusia di sektor pariwisata melalui berbagai program pelatihan sehingga tenaga kerja mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Widiyanti menegaskan bahwa kemajuan teknologi harus menjadi sarana pemerataan manfaat, bukan justru memperlebar kesenjangan.

“Inovasi digital harus menjadi alat yang mempersatukan, bukan penghalang bagi pengembangan yang inklusif. Indonesia siap berkolaborasi dengan seluruh ekonomi APEC untuk membangun masa depan pariwisata yang maju secara teknologi, tangguh, inklusif, dan memastikan tidak ada satu pun yang tertinggal,” ujarnya.

Sebagai penutup pertemuan, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Rakyat Tiongkok selaku Ketua TMM13 menyampaikan Chair’s Statement yang merangkum berbagai kesepahaman para anggota APEC. Dalam kesempatan tersebut juga diumumkan bahwa Meksiko akan menjadi tuan rumah Pertemuan Tingkat Menteri Pariwisata APEC berikutnya pada 2028.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *