Indonesia-Tiongkok Kembangkan Vaksin mRNA Dengue Pertama di Dunia
Indonesia dan China mengembangkan vaksin dengue mRNA pertama di dunia melalui kolaborasi UI, Tsinghua University, dan PT Etana (Foto: Humas Kemenkes)
El John News, Jakarta – Pemerintah Indonesia kembali mencatat langkah penting dalam pengembangan teknologi kesehatan nasional melalui peluncuran purwarupa vaksin dengue tetravalen berbasis messenger RNA (mRNA). Teknologi yang sebelumnya dikenal luas dalam pengembangan vaksin COVID-19 tersebut kini untuk pertama kalinya diterapkan dalam upaya melawan virus demam berdarah dengue.
Purwarupa vaksin tersebut diperkenalkan di Kementerian Kesehatan, Jakarta, hasil kolaborasi riset antara Universitas Indonesia (UI), Tsinghua University dari Tiongkok, dan PT Etana Biotechnologies Indonesia. Vaksin ini dikembangkan menggunakan materi genetik virus dengue strain asli Indonesia sebagai dasar pembentukan respons kekebalan tubuh.
Peluncuran purwarupa dihadiri Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Rektor UI Heri Hermansyah, Vice President Tsinghua University Prof. Wu Huaqiang, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie, Kepala BRIN Arif Satria, serta Kepala BPOM Taruna Ikrar.
Apabila seluruh tahapan pengembangan berjalan sesuai rencana hingga berhasil diproduksi, vaksin tersebut akan menjadi vaksin mRNA pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah sekaligus memperkuat kemampuan Indonesia memproduksi antigen vaksin secara mandiri dari hulu hingga hilir.
“Kalau ini berhasil, ini akan menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia dengan teknologi paling mutakhir. Kita harus berterima kasih kepada para peneliti Indonesia yang sudah mampu setara dengan peneliti dunia,” ujar Menkes Budi.
Menteri Kesehatan menjelaskan, pengembangan kapasitas riset vaksin merupakan pelajaran penting yang diperoleh Indonesia setelah pandemi COVID-19. Pengalaman keterbatasan akses terhadap vaksin dan produk kesehatan mendorong pemerintah membangun ekosistem industri vaksin nasional yang lebih kuat.
Saat ini Indonesia telah memiliki empat perusahaan yang bergerak di bidang produksi vaksin, yakni Bio Farma, Biotis, Etana, dan JBio. Dari 16 antigen yang dibutuhkan dalam program imunisasi nasional, sebanyak 11 telah mampu diproduksi di dalam negeri, meski sebagian masih bergantung pada bahan baku impor.
“Target saya, sebelum tahun 2030, ke-11 antigen sisanya harus bisa kita produksi utuh dari hulu ke hilir,” tegas Menkes Budi.
Kolaborasi Indonesia dan Tiongkok dalam pengembangan vaksin dengue ini telah dimulai sejak 2023. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengatakan kerja sama tersebut lahir dari kolaborasi nyata antarpeneliti sebelum diformalkan melalui nota kesepahaman.
Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi contoh sinergi yang efektif antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri dalam menghasilkan inovasi yang memiliki manfaat langsung bagi masyarakat.
“Hampir semua vaksin manjur di dunia lahir dari riset di universitas. Model kerja sama seperti ini penting; kita tidak menandatangani MOU dulu baru bekerja, tapi justru mulai bekerja bersama secara sungguh-sungguh terlebih dahulu, baru MOU menyusul. Analisis kebutuhan, dukungan anggaran, dan komitmen kementerian, semuanya harus berjalan bersama,” ungkap Wamen Stella.
Pengembangan vaksin dengue dipilih karena tingginya beban penyakit di Indonesia. Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 151 ribu kasus demam berdarah dengan sekitar 650 kematian terjadi setiap tahun. Angka tersebut menjadikan dengue sebagai salah satu penyakit prioritas yang memerlukan inovasi vaksin baru.
“Kami memprioritaskan pengembangan vaksin baru berdasarkan beban insiden dan angka kematian tertinggi. Ibu-ibu tentu tidak ingin anaknya disuntik terlalu banyak jenis vaksin, jadi kita pilih yang benar-benar prioritas,” jelas Menkes Budi.
Di akhir sambutannya, Menkes Budi mengajak para ilmuwan Indonesia untuk memastikan hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, melainkan diwujudkan menjadi produk yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan menyelamatkan lebih banyak nyawa.
“Anda mungkin bangga menulis di jurnal internasional dengan impact factor tinggi, tetapi Anda belum benar-benar berkontribusi pada kemanusiaan jika tulisan itu hanya berakhir sebagai tumpukan kertas. Ubahlah paper itu menjadi produk yang benar-benar menyelamatkan nyawa,” pungkasnya.