Keindahan yang tersembunyi di Tangkahan
Sering disebut sebagai surga tersembunyi Sumatera, hutan lebat dan topografi Tangkahan yang mengagumkan, membuat desa ini menjadi tempat wisata yang luar biasa. Desa ini terletak di Taman Nasional Gunung Leuser yang lebat, di persimpangan dua sungai, yaitu sungai Batang Serangan dan Buluh. Taman ini adalah salah satu wilayah yang jumlah primatanya paling beragam di dunia, yang juga rumah bagi beberapa spesies bumi paling terancam punah. Di masa lalu taman ini sering menjadi tempat pembalakan dan pemburuan liar, saat ini hutan ini telah diubah menjadi cagar alam. Orang-orang setempat telah sadar dengan fungsi dan kekayaan taman ini sehingga mereka berusaha untuk melestarikan harta mereka yang berharga ini. Datang dan temui gajah bersama-sama dengan penjaga mereka yang sedang berpatroli untuk menjaga hutan dari penebangan dan pemburuan liar.
Di sini, tentunya Anda akan melihat dan menikmati sungai yang jernih yang melintasi hutan Sumatera, menciptakan suasana yang benar-benar mistis. Datang dan temukan surga di hutan tersembunyi ini dan Anda tidak akan menyesal. Dari Medan Anda naik transportasi umum dari Terminal Bus Pinang Baris ke Tangkahan. Perjalanan akan memakan waktu 4 – 5 jam. Anda dapat menyewa mobil atau taksi untuk mengantar Anda langsung ke Tangkahan. Perjalanan akan memakan waktu sekitar tiga jam. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah bulan Juni hingga Oktober. Ada sedikit biaya yang dikenakan untuk memasuki taman dan menyeberangi sungai.
Datang dan rasakan petualangan liar di hutan ini. Perjalanan melalui rute yang menantang seperti mendaki trek berlumpur untuk sampai ke tempat satwa eksotis yang membuat taman ini rumahnya. Anda juga bisa trekking dengan gajah di mana Anda dapat menjelajahi hutan di punggung gajah. Luar biasa bukan. Berenang di sungai yang airnya jernih dan masih murni. Rasakan suasana santai di dunia yang jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota. Anda juga bisa mendapatkan pengalaman unik yaitu melihat gajah hutan mandi dan berkunjung ke kamp gajah, dapat ditempuh selama 15 – 20 menit dengan berjalan kaki dari Tangkahan. Rasakan pijatan di tubuh Anda ketika berenang di bawah air terjun. Terdapat air terjun kecil di dekat sungai di dalam hutan ini. Atau, jika Anda punya energi, air terjun lain yang lebih besar berjarak sekitar satu jam ke arah Sungai Buluh dapat Anda coba, tetapi ketika jalur menghilang, Anda harus berjalan di sungai untuk menuju air terjun ini.
Taman Nasional Gunung Leuser dengan luas 1.094.692 hektare, seperempat kawasannya berada di Sumatera Utara dan tiga perempat lainnya berada di Provinsi Aceh. Tangkahan juga diapit oleh dua sungai besar, yaitu Sungai Sei Batang Serangan dan Sungai Buluh. Kawasan wisata ini berbasis ekowisata, di mana wisatawan bisa melihat desa dengan masyarakatnya yang sangat sadar wisata. Mereka begitu peduli untuk menjaga kelestarian lingkungan. Tangkahan dapat ditempuh sekitar 7-8 jam dari Medan. Memang tak mudah untuk mencapai lokasi ini. Namun, untuk sesuatu yang indah, tentu dibutuhkan sebuah perjuangan. Anda bisa ke sana menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum, meski sebagian jalur masih berupa batu berpasir, sehingga banyak debu. Untuk itu, mereka yang ingin ke sana disarankan membawa masker.
Angkutan umum yang tersedia, yakni bus Pembangunan Semesta melayani dua kali perjalanan menuju ke Tangkahan, yakni pukul 04.30 WIB dan 07.30 WIB dari Medan dengan tarif Rp 25.000 per orang. Selama perjalanan, Anda bisa menikmati pemandangan yang didominasi kebun kelapa sawit di kanan-kiri jalan. Selain itu, di Tangkahan juga terdapat banyak gajah. Awalnya, gajah-gajah di kawasan ini bukanlah untuk atraksi wisata, melainkan untuk membantu polisi hutan berpatroli memberantas pembalak liar. Sekian lama pembalakan liar terjadi hingga lambat laun muncul kelompok-kelompok warga yang memiliki wawasan sadar wisata.
Mereka pun membangun Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT) pada tahun 2000 dan diberi kepercayaan oleh Taman Nasional Gunung Leuser untuk mengelola Tangkahan pada 2004. Karena mayoritas warga Tangkahan tak memiliki latar belakang pariwisata, bahkan tak jarang hanya mengenyam pendidikan sampai sekolah dasar saja, tentu dibutuhkan pekerjaan ekstra untuk membuat mereka menyadari bahwa pariwisata dapat meningkatkan taraf hidup, ketimbang berprofesi sebagai pembalak liar. Selain LPT, pengelolaan konservasi dan pariwisata di Tangkahan juga dibantu oleh Conservation Response Unit (CRU) yang sudah lebih dahulu berdiri, namun baru datang ke Tangkahan pada 2002. (arf)
