Pariwisata Nasional Sumbang 20 Persen Pertumbuhan PAD
Pertumbuhan bidang pariwisata di Indonesia tahun 2017 semester pertama naik hingga 20 persen, mengungguli Malaysia dan negara tetangga lainnya.
Hal itu diungkapkan Nia Niscahya, Direktur Pemasaran Luar Negeri (Eropa, Amerika dan Timur Tengah) Kementerian Pariwisata RI di Bandung, Selasa, 18 Juli 2017, pada pembukaan Munas Khusus Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita).
“Alhamdulillah, naik 20 persen hingga pertengahan tahun ini, dan berhasil mengungguli Malaysia dan bahkan Vietnam,” ujarnya.
Namun menurut Nia, masih banyak yang harus dibenahi pada dunia pariwisata Indonesia untuk menarik lebih banyak lagi pengunjung terutama pengunjung luar negeri.
“Pembenahan itu diantaranya adalah soal tarif sandar kapal pesiar yang dinilai terlalu mahal dan berbeda dengan negara lain, kemudian sistem pemetaan rute perjalanan kapal pesiar yang masih berbentuk cetak, padahal negara lain sudah dalam digital,” jelasnya.
Nia juga menjelaskan, Kementerian Pariwisata selalu berkoordinasi dengan Kementerian lainnya untuk mendorong dunia pariwisata seperti dengan Kementerian PU, Tenaga Kerja dan lain-lain.
Sementara, Wakil Gubernur Jabar, Deddy Mizwar mengatakan, dunia Pariwisata kini menjadi tulang punggung pendapatan Indonesia karena terus mengalami perkembangan yang baik. Pendapatan utama Indonesia sebelumnya dari tambang dan perkebunan termasuk kelapa sawit cenderung tidak berkembang bahkan mengalami penurunan.
“Jadi memang dunia pariwisata inilah sekarang yang harus terus didorong untuk berkembang karena sumbernya tidak mengalami pengurangan,” jelas Demiz, sapaan akrabnya.
Dlanjutkannya, Jika sumber daya alam yang ditambang kan terus mengalami pengurangan volume pada satu saat akan habis. Tapi pariwisata ini tidak akan habis terus berkembang, makanya bisa terus dimanfaatkan.
Namun di sisi lain Demiz juga mengakui, dunia pariwisata di Indonesia termasuk di Jawa Barat belum dianggap garapan yang primer oleh masyarakat. Oleh karena itu masih perlu penyadaran yang lebih komprehensif kepada masyarakat terutama masyarakat sekitar objek wisata.
“Pariwisata bukan sekedar bicara soal objek wisata, tetapi juga budaya masyarakat sekitar, kemudian juga perhatian pemerintah daerah terhadap infrastruktur dan lain-lain,” ujarnya.
Munas Khusus AD/ART Asita digelar selama dua hari di Bandung untuk memperbaharui AD/ART Asita demi mengikuti perkembangan zaman
