Kementerian Pariwisata Siapkan Penghargaan Untuk Pengelola Homestay

0
homestay
Pengelola homestay di desa wisata mulai sekarang harus berbenah diri agar bisa meraih penghargaan dari pemerintah. Asisten Deputi Tata Kelola Destinasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Oneng Setya Harini membenarkan bahwa pemerintah akan memberikan penghargaan kepada para pengelola homestay di desa wisata termasuk Community Based Tourism atau pengelola pariwisata berbasis masyarakat lokal sebagai bentuk apresiasi. Mereka akan dinilai dengan berbagai kategori.
“Tiap-tiap desa wisata juga akan dinilai, baik dari segi operasional maupun manajemennya, para pemenang nantinya akan berhak ikut kompetisi homestay dan CBT tingkat ASEAN dengan difasilitasi pemerintah,” kata Oneng.
Untuk penilaian akan dilakukan pada Agustus 2017  hingga pertengahan September 2017. Setelah proses penilaian  selesai pihak penyelenggara akan mengumumkan nama pemenang yang akan diumumkan saat Hari Pariwisata Dunia yakni pada tanggal 27 September 2017 mendatang.
Lomba ini sebagai bentuk apresiasi yang diberikan Kementerian  Pariwisata ke kepada masyarakat yang berkomitmen untuk terus mengelolah dan memperindah homestay yang didirikannya. Diharapkan  para peserta dapat bersaing secara sehat agar lomba dapat berjalan lancar dan sukses.
“Ini juga memotivasi masyarakat agar berlomba dan bersaing menyediakan homestay yang terbaik bagi wisatawan. Tidak kalah pentingnya keberadaan CBT yang sangat berpengaruh terhadap kemajuan pariwisata di destinasi wisata sekitarnya, sebab itu perlu juga diberikan apresiasi,” katanya.
Tercatat program pengembangan homestay masuk dalam urutan kedua dari 10 prioritas Kemenpar di samping e-tourism, airlines, branding, top-10 originasi, top destinasi utama (destinasi branding), pengembangan 10 destinasi pariwisata prioritas, sertifikasi kompetensi SDM dan gerakan sadar wisata, peningkatan investasi pariwisata dan pengelolaan crisis centre.
Oneng berharap para pengelola homestay  tak ragu merangkul pemerintah daerah untuk bisa meningkatkan homestay yang didirikannya tersebut. Pasalnya kini homestay menjadi pasar potensial dalam menggerakan  roda perekenomian daerah.
Ke depan ia juga berharap keberadaan CBT akan turut memajukan homestay itu sendiri, karena pengelolaan dan pemasarannya akan lebih bagus dan terpadu.
“Ketertarikan pengunjung terhadap homestay akan naik dari 10 persen di 2016 menjadi 15 persen di 2020, di kota-kota besar dunia. Dari 2 persen di 2016, menjadi 5 persen di 2020 di Asia Tenggara. Karena itu, homestay kini tidak bisa dianggap remeh,” ujar Oneng.
Pada kesempatan yang sama, Vitria Ariani Ketua Dewan Juri menjelaskan saat ini sudah terdata 53 Kabupaten di Indonesia yang akan diberikan penilaian dewan juri. Para peserta mengirimkan datanya ke dewan juri hingga pertengahan Juli 2017.
Kementarian Pariwisata menjadikan homestay sebagai program inti pemerintah. Bahkan agar pengelolaan homestay dapat tertata dan sesuai target, kementerian pariwisata tekah menggelar rapat koordinasi nasional atau rakornas kepariwisataa  ke II dengan tema Indonesia Incorporated: 20.000 Homestay Desa Wisata Pada Tahun 2017.

Menurut menpar keberadaan homestay tidak bisa lepas dari peran digital. Kehadiran digital sangat mendukung promosi homestay ke seluruh penjuru nusantara dan dunia.

“Bangun hotel bisa bertahun-tahun, bangun homestay paling cepat bisa 6 bulan. Nanti homestay juga kita digitalisasikan dan modelnya sharing economy,” ungkap Menpar.

Untuk karakteristik pembangunan homestay, Menpar menyarankan pembangunan homestay harus bernuansa nusantara.

“Homestay yang dibangun harus dengan arsitektur nusantara.Ada kearifan lokal dan membantu masyarakat disekitar destinasi,” tegas Menpar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *