Masuk Ancol Gratis Akan Diujicobakan Pada 14 Oktober

0
20160820_142037

Sebelum menyerahkan tanggungjawabnya sebagai Gubernur DKI Jakarta kepada Gubernur terpilih pada pertengahan Oktober ini, Djarot Saiful Hidayat membuat gebrakan di sektor wisata. Gebrakan itu yakni diusulkannya agar masuk kawasan wisata Taman Impian Jaya Ancol tidak dipungut biaya alias gratis. Permintaan itu diutarakan Djarot saat bertemu Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Paul Tehusijarana di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa, 3 Oktober 2017.

Menurut Djarot  program gratis masuk Ancol ini perlu diuji cobakan pada tanggal 14 Oktober 2017. Meski  digratiskan namun untuk parikir kendaraan tetap dikenakan tarif parkir.

“Ini ada Direksi Ancol, saya bilang, dikaji betul kebijakan kita membebaskan pengunjung Ancol. Saya minta tanggal 14 Oktober 2017 uji coba dimulai, gratis untuk orang yang masuk, tapi kendaraan tarif parkirnya progresif,” kata Djarot.

Dengan diberlakukannya tariff parkir progresif itu, maka nanti pengunjung yang membawa kendaraan harus membayar biaya parkir perjam. Selama ini tariff parkir di Ancol diberlakukan sisitem flat yakni pada hari biasa hingga akhir pekan dikenakan tarif Rp25 ribu, motor sebanyak Rp15 ribu, dan Bus sebesar Rp45 ribu.

Djarot menjelaskan yang gratis itu hanya kawasan Ancol, untuk wahana yang ada di kawasan Ancol tetap bayar seperti Dunia Fantasi (Dufan), ), Sea World, Gelanggang Samudra dan  kolam renang Atlantis. Djarot meminta agar ujicoba dilakukan selama enam bulan kedepan dengan system pengamanan yang ketat. Pengamanan diprioritaskan karena banyak pengunjung yang datang ke Ancol saat uji coba  gratis masuk Ancol dimulai.

“Uji coba itu sistem pengamanannya, jam 9 (malam) harus tutup. Jadi, pengunjung yang masuk sana, meski jam 8 malam, itu jam 9 harus keluar,” kata Djarot.

Jika Ancol digratiskan, Djarot yakin kawasan wisata peninggalan Sukarno itu tidak akan merugi. Sebab menurut dia, kebijakan itu akan menambah jumlah pengunjung Ancol dan meningkatkan penghasilan unit-unit bisnis di sana.

“Kami tidak mengharapkan orang dihitung per kepala, tapi multiplier effect itu yang dihitung. Misalnya, kuliner di sana akan laris, pasar seni akan hidup,” kata Djarot.

Sementara itu, Paul menyebut pihaknya masih akan mengkaji permintaan Djarot tersebut. Ia pun enggan menjawab pertanyaan lebih lanjut perihal rencana itu.

“Kita mesti belajar dulu bagaimana kalau mau gratis. (Kajian) sedikit lagi diselesaikan,” ujarnya singkat sambil meninggalkan lokasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *