Menpar: 3 Tahun Kinerja Jokowi-JK, Pertumbuhan Pariwisata Ungguli ASEAN dan Dunia
Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (kanan) memimpin rapat kabinet terbatas tentang efektivitas belanja pendidikan dan kesehatan di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (5/10). Presiden menginstruksikan jajaran menteri Kabinet Kerja menggunakan dana pendidikan dan kesehatan dalam APBN tepat sasaran sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan di kedua sektor tersebut. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ama/16
Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya membeberkan kinerja pemerintahan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla di sektor pariwisata. Menpar mengatakan tiga tahun berjalan, pemerintah telah membuat gebrakan di sektor pariwisata nasional. Gebrakan itu yakni ditetapkannya 10 destinasi prioritas atau yang disebut dengan 10 Bali baru.
Pemerintah Jokowi-JK tidak hanya sekedar menetapkan, namun ada tindak lanjut yang harus dilakukan oleh semua pihak yang berkaitan dengan pariwisata. Tindak lanjut itu yaitu pemerintah meminta agar ke 10 destinasi prioritas tersebut dipromosikan ke luar negeri. Semua amanat pemerintah ini diikuti unsur penthahelix yakni Lintas kementerian mewaliki pemerintah, Akademisi, Asosiasi, Komunitas dan Media.
Dengan semangat gotong royong itulah pertumbuhanpariwisata nasional dari tahun ke tahun mengelami kenaikan dan berhasil tembus di angka 25,68 persen.
“The Telegraph dari Inggris menulis Indonesia sebagai satu dari 20 negara dengan pertumbuhan pariwisata paling cepat. Pertumbuhan pariwisata Indonesia mencapai 25,68 %,” ungkap Menpar dalam acara paparan 3 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK di Gedung Bina Graha, Jakarta, Selasa, 17 Oktober 2017.
Menurut Menpar angka pertumbuhan ini juga berhasil unggul jauh untuk pariwisata di ASEAN dan dunia. Untuk pariwisata di ASEAN angka pertumbuhan pariwisatanya hanya 7 persen, sedangkan di dunia lebih kecil yakni sebesar 6 persen. Karena itu, Menpa rmenyebut sektor pariwisata kini menjadi primadona baru bagi pembangunan nasional.
“Sumbangan devisa maupun penyerapan tenaga kerja dalam sektor ini amat signifikan bagi negara. Kami perkirakan pada tahun 2019 sudah mengalahkan pemasukan devisa dari industri kelapa sawit,” tutur Menpar.
Menpar menjelaskan atas kondisi tersebut, Presiden Jokowi yakin sektor pariwisata dapat menjadi leading sector atau sektor unggulan.Terlebih, riset Bank Dunia juga menyebutkan bahwa sektor pariwisata adalah penyumbang devisa dan pendapatan domestik bruto (PDB) yang signifikan bagi suatu negara.
“Bank Dunia mencatat investasi di sektor pariwisata sebesar USD1 juta akan menghasilkan PDB sebesar USD1,7 juta atau 170%. Sebab, industri pariwisata mampu menggerakkan usaha kecil menengah seperti kuliner, cinderamata, transportasi dan lainnya,” jelas Arief.
Wajar, lanjut dia, jika perolehan devisa negara dari sektor-sektor pariwisata sejak tahun 2016 sudah mengalahkan pemasukan dari migas dan hanya berada di bawah pemasukan dari industri kelapa sawit. Bahkan, Menpar memperkirakan, pada 2019 sektor pariwisata bakal menjadi penyumbang utama devisa Indonesia.
