Asita: Wisatawan Keluhkan Kebersihan Tempat Makan di Labuan Bajo
Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Nusa Tenggara Timur (NTT) banyak menerima keluhan dari wisatawan terkait beberapa tempat makan di Labuan Bajo. Keluhan itu, yakni masih adanya beberapa tempat makan yang seakan tidak peduli dengan kebesihan. Para wisatawan mengaku menikmati sajian makan laut, namun sayang lokasi tempat makan masih terlihat kotor.
“Keluhan wisatawan itu terutama soal kurang higenisnya tempat kuliner ikan di Kampung Ujung, Kota Labuan Bajo dengan kondisi sampah-sampahnya,” kata Ketua Asita NTT Abed Frans di Kupang, Sabtu, 4 November 2017.
Frans mengatakan para wisatawan sudah terbiasa dengan makan di restoran, namun banyak diantara wisaatwa ang ke Labuan Bajo untuk mencari tempat makan yang suasana berbeda, namun tidak menghilangkan rasa dari menu yang disajikan khususnya makanan-makanan laut. Karena itu dipilihlah Kampung Ujung yang hidangan lautnya menggugah rasa.
“Sajian makanannya memang sudah baik seperti itu tapi tempatnya harus bersih, memang untuk makan di restoran itu sudah biasa bagi wisatawan, mereka justeru senang menikmati menu dan tempat makan seperti di Kampung Ujung,” katanya.
Menurut Frans, keluhan baik yang dilontarkan wisatawan nusantara atau wisatawan mancanegara merupakan koreksi bagi industri pariwisata, agar citranya tetap terjaga dan yang pasti akan mendongkat pendapatannya jika keluahan tersebut segera diperbaiki.
Selain terkait higenitas makanan, lanjutnya, wisatawan juga mengeluhkan masalah sampah-sampah terutama di pesisir yang merusak pemandangan Kota Labuan Bajo.
“Yang namanya daerah wisata memang tidak terlepas dari sampah tapi segera mungkin harus diatasi pemerintah dan masyarakat di daerah itu,” katanya.
Ternyata bukan hanya tempat makan, wisatawan juga banyak yang mengeluhkan banyak sampah dari kapal-kapal yang di buang ke laut di Labuan Bajo, “Terus oli mesin kapal yang dibuang ke laut sehingga memprihatinkan bagi keberadaan biota laut di daerah itu,” katanya.
Untuk itu, Abed berharap pemerintah daerah Manggarai Barat menangani secara serius persoalan sampah yang tidak hanya dikeluhkan wisatawan namun disoroti pemerintah provinsi hingga pusat itu.
Menurutnya, aspek kebersihan menjadi salah satu penentu minat wisatawan berkunjung ke suatu daerah wisata termasuk Labuan Bajo yang merupakan destinasi yang telah mendunia dengan arus wisatawan yang terus membeludak setiap waktu.
Persoalan sampah berdampak kenyamanan dan keamanan yang menentukan lama tidaknya masa tinggal wisatawan, termasuk juga dampak kesehatan yang merupakan aspek pertimbangan terutama para wisatawan asing.
“Kita menginginkan agar wisatawan bisa datang dan berlama-lama sehingga dampak ekonominya dirasakan langsung usaha masyarakat lokal karena itu setiap aspek yang menentukan keamanan dan kenyamanan daerah wisata harus dibenahi secara serius,” tutup Frans.

