Wakil Ketua Bidang Humas PSMTI Kota Medan : Sudah Saatnya Kota Medan Punya Ikon Pariwisata

0
psmti

Suatu kota atau negara, akan bisa memaksimalkan potensi pariwisatanya di mata wisatawan mancanegara bila memiliki daya tarik yang khas. Salah satu daya tarik khas yang paling mudah menarik atensi adalah sebuah ikon pariwisata dan landmark tujuan wisata.

Kota Medan saat ini belum punya ikon pariwisata, padahal sudah seharusnya Medan mem­punyai ikon untuk dijadikan ‘magnet’ penarik bagi wisata­wan manc­a­negara maupun nus­antara agar berkunjung ke kota ketiga terbesar di Indo­nesia ini.

“Sayangnya, di usia yang sudah ter­bilang tua, yakni 428 tahun, ikon terse­but belum ada. Selama ini bangunan-bangu­nan bersejarah seperti mansion Tjong A Fie, situs Kota China, Istana Maimun yang senan­tia­sa diandal­kan. Alangkah baik­nya jika mun­cul ikon baru yang benar-benar fenomenal. Ke­mudian seluruhnya dike­mas secara ba­ik sebagai sa­lah satu faktor pendukung menuju perbai­kan pembangunan di Kota Me­dan,” papar Wakil Ke­tua Bi­dang Humas Paguyu­ban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kota Me­dan, Harianto, pada hari Senin (2/7).

Ikon tersebut, katanya, diha­rap bisa mendongkrak jumlah kunju­ngan orang yang datang ke Medan. Misalnya, seti­ap wisatawan luar negeri atau luar kota yang ingin ber­kunjung ke Danau Toba, wajib ke ibukota Provinsi Sumatera Utara (Sumut) ini.

Apalagi, tegasnya, dalam wak­tu de­kat, ada ada pener­ba­ngan langsung da­ri Hongkong ke Kota Medan.

“Se­sung­guhnya, ini pe­luang besar bagi Medan untuk men­jadi kota hebat,” sebut pria yang juga menggeluti sejum­lah organisasi kemasyarakatan dan sosial tersebut.

Lebih peduli

Namun hingga usia Kota Medan su­dah 428 tahun, sam­bung­nya, per­kem­ban­gannya be­gitu-begitu saja. Tidak ada peru­ba­han signifikan. Infra­struk­tur jalan rusak, trans­portasi tidak ter­tata. keamanan kurang terja­min, tidak ada keindahan di kota ini, banyak jalan yang rusak dan kalaupun ada per­baikan hanya di be­be­rapa jalan pro­tokol.

Menyikapi hal ini, kata Ha­rianto, Pemko Medan harus lebih peduli ter­hadap keinda­han, peng­hijauan, pe­na­taan kota, trans­por­tasi, keama­nan, rek­lame yang ber­diri sesuka­nya dan faktor lain­nya.

Penghijauan, bilangnya, bisa disa­ran­kan kepada para pemilik hotel-hotel yang ber­diri di Kota Medan untuk mem­buat taman di bagian de­pan bangu­nan mereka. Se­dang­kan transportasi, bisa saja pengemudi diberikan identitas agar mereka lebih takut jika ugal-uga­lan. Sebab jika terjadi hal tak diingin­kan, gampang mengambil tindakan. Kenda­raan juga harus laik jalan agar tidak mengganggu lalu lintas.

“Khusus reklame, jangan biar­­­­­kan berdiri seenaknya. Izin ja­ngan berikan dengan gam­pang, karena pasti akan terjadi tumpang tindih terutama di inti kota. Itu sangat merusak pe­man­dangan serta estetika kota, bahkan tak menutup kemung­kinan bisa membahaya­kan kese­lamatan jiwa,” tegasnya.

Dia tak memungkiri di luar negeri juga banyak reklame berdiri, namun ter­tata dengan baik.

“Undang orang-orang pin­tar di Kota Medan ini. Buat tim untuk menjadikan kota ini lebih tertata, indah, menarik guna memberi kenya­manan bagi ma­syarakat,” anjur­nya.

Harianto memastikan bahwa ma­sya­rakat siap mem­bantu.

“Na­mun Pemko Me­dan selama ini terkesan tidak mem­buka diri atau tidak meng­ako­modir orang-orang yang ingin mem­beri ma­su­k­an demi maju kota ini,” pung­kasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *