Rapat Pembahasan Kesiapan Geopark Kaldera Toba Berlangsung Panas
ejarah Danau Toba selalu menjadi pembahasan menarik untuk dikupas lebih dalam terkait asal-usul terbentuknya Pulau Samosir yang berada di tengahnya. Danau seluas 1.130 km2 merupakan danau terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara yang mengandung banyak unsur sejarah serta cerita rakyatnya. Tidak heran kalau nama Danau Toba sudah menggaung hingga mancanegara.
Dr. Ir. Hj. Hidayati, M.Si selaku Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Utara mengatakan sisi lain keindahan Danau Toba adalah sejarah dan cerita rakyatnya. “orang yang datang ke Danau Toba bukan hanya melihat pemandangan alam saja, tetapi orang banyak yang ingin mencari tahu asal usul Danau Toba dan Pulau Samosir yang ada di tengahnya,” kata Hidayah.
“Karena banyaknya cerita rakyat yang berkembang di sana banyak batu-batuan yang menjadi konservasi sehingga masyarakat sekitar juga menjaga batu-batuan menjadi sebuah cagar budaya. Geopark kaldera toba adalah warisan bumi yang memiliki nilai sangat luar biasa berbasis geoheritage yaitu supervolcano,” tambahnya.
Sejatinya hingga saat ini belum ada fakta sejarah Danau Toba selain letusan gunung maha dasyat yang terjadi 75.000 tahun yang lalu. Menurut penelitian letusan yang dikenal dengan letusan Gunung Supervulcano ini mempengaruhi kehidupan di bumi pada saat itu. Hampir setengah peradaban manusia saat itu musnah karena letusan dasyat Gunung Supervulcano yang memuntahkan 2.800 km2 material vulkanik dan menyemburkan debu vulkanik mencapai 10 km.
Sementara itu pada kesempatan berbeda, Wilmar Simanjorang tokoh masyarakat Samosir yang pernah memperoleh penghargaan lingkungan hidup Kalpataru, dan ditunjuk sebagai pengawas di Geosite Samosir, keluar dari ruangan saat rapat dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara.
Rapat ini digelar untuk membahas mempercepat peyambutan tim penilai dari Unesco akan menetapkan Geopark Kaldera Toba sebagai situs sejerah dan budaya oleh dunia.
Saat rapat ini sedang digelar, terjadi perdebatan antara dirinya dengan pihak Dinas Pariwisata hingga akhirnya memilih keluar dari ruangan rapat.
“Mau berubah Danau Toba, kapan? Kapan?, kalau hanya cakap-cakap saja,” ucap Wilmar Simanjorang saat ditemui sesaat dirinya keluar dari ruang rapat Kantor Gubernur Sumatera Utara, yang terletak di Jalan Pangeran Diponegoro, pada hari Rabu (4/7).
Ia mengatakan, sampai saat ini belum ada pemerintah melaksanakan kerjanya demi membuat Geopark Kaldera di Danau Toba. Ia juga terlihat berang kepada pemerintah, terkait kehadiran para tamu diundang, namun minim kehadiran.
“Saya diundang Sekda tapi Sekdanya aja tidak datang. Bupati-bupati pun tidak ada, kalau begini kapan mau dikenal dunia ini Geopark Danau Toba,” ucapnya.
Selama dua tahun sudah program ini dicanangkan pemerintah, namun hingga saat ini minim pekerjaan yang dilakukan. Sambungnya, kecelakaan KM Sinar Bangun sudah membuktikan bahwa pemerintah Sumatera Utara tidak serius dalam membenahi Danau Toba.
“Dua tahun sudah, tapi apa, coba kau tanya sama mereka yang di dalam, apa yang sudah di buat, tapi tidak adakan, malas aku kalau aku yang ceritakan. Tenggelam kapal itu aja sudah bukti pemerintah kita tidak serius,” ujarnya.
Wilmar mengaku kecewa dengan tindakan yang selama ini dilakukan, belum adanya perbuatan-perbuatan lebih mendukung situs sejarah Sumatera Utara.
“Kalau hanya cakap-cakap saja ngapain, selama ini ke mana, jangan bicara saja, kita sudah lihat kok bagaimana keadaan di sana, beda dengan luar Negeri” ucapnya.
Dalam mewujudkan destinasi pariwisata harus ada 3A (Atraksi, Aksesibilitas, Amnenitas), sambung Wilmar informasi dan edukasi bagi setiap wisatawan yang datang hingga saat ini belum dapat dilihat dibeberapa Geosite.
“3A saja tidak diterapkan, bagaimana mau mendatangkan wisatwan. Apalagi peletakan panel informasinya juga tidak ada bahkan tidak bisa dibaca oleh orang awam,” ucapnya.
Wilmar Simanjorang diangkat langsung oleh Bupati Samosir sebagai orang yang bertugas mengawas Geosite di Samosir.
