Agar Perusahaan Tak Bangkrut, Ada Empat Hal Yang Harus Terkelola Dengan Baik
Perusahaan layaknya sebuah kapal besar yang diisi oleh nahkoda dan anak buah kapal. Seorang nahkoda harus dapat mengarahkan kapal agar selamat sampai tujuan. Ombak dan angin besar menjadi peristiwa alam yang bisa terjadi kapan saja di saat kapal melaut.
Jika mengambil keputusan yang salah dalam mengarungi ombak dan angin besar, tidak menutup kemungkinan kapal pun akan tertabrak karang dan efeknya kapal menjadi bocor sehingga lama kelamaan tenggelam.
Begitu pun dengan perusahaan, bisa mengalami kebangkrutan, jika persoalan yang dihadapi tidak dapat terselesaikan dengan baik. Ada beberapa faktor yang menyebabkan perusahaan harus gulung tikar.
Penyebab perusahaan bangkrut ini menjadi materi pembahasan dalam sebuah program EL JOHN TV yakni Indonesia Business Forum dengan narasumber Sunjoyo Soe (Motivational Guru, CEO Ganesa Kalpataru Satya danhe John Maxwell Team Certified Coach, Speaker & Trainer) dan Dr. Sienly Veronica, S.E., M.M. (Dosen Tetap Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Maranatha Konsentrasi Manajemen Keuangan)
Sienly menjelaskan ada empat hal yang harus terkelola dengan baik dalam sebuah perusahaan, yang pertama, adalah laporan arus kas. Laporan arus kas ini memiliki tiga bagian di dalamnya yakni aktivitas operasi, ada aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan. Aktivitas operasi dalam laporan arus kas nilainya positif, ini menggambarkan bahwa perusahaan mampu membayar semua kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan kegiatan operasional keseharian perusahaan.
“Jadi kalau arus kas, arus aktivitas operasinya positif artinya perusahaan masih baik-baik saja masih di kategorikan sehat,” kata Sienly.
Bagian lainnya dalam arus kas yakni arus kas dari investasi. Nilai investasi ini harus negatif, tidak boleh positif. “Karena kalau nilainya positif berarti perusahaan tidak memanfaatkan idol money dalam mengelola perusahaannya. Kalau pendanaan itu boleh positif boleh negatif itu tidak masalah,” ujar Sienly.
Setelah laporan arus kas, kemudian yang kedua adalah nilai rasio. Sebuah perusahaan harus dapat melakukan perbandingan rasio terhadap utang dan modal dengan nilai rasio kemampuan membayar bunga perusahaan.
“Nah kalau nilai equity ratio-nya mengalami peningkatan tetapi nilai time interest-nya, kempuan perusahaan membayar bunganya dia stabil atau mengalami penurunan, ini menggambaran perusahaan dalam kondisi kesulitan keuangan,’ terang Sienly yang juga sebagai penulis ini.
Berikutnya yang ketiga, menurut Sienly adalah pengelolaan mengenai saldo laba ditahan. Unsur yang satu ini menggambarkan kekayaan sebuah perusahaan. Jika ada perusahan yang saldo labanya ditahan mengalami penurunan atau tidak ada peningkatan, itu berarti perusahaan tersebut menjadi tanda awal sedang mengalami kesulitan.
Yang keempat atau yang terakhir, sehat atau tidak perusahaan dapat dilihat dari pembahian deviden, khusus untuk perusahaan-perusahaan go publik. Jika pembagian devidennya dilakukan secara konsisten dan transparan maka perusahaan tersebut dalam kondisi stabil.
“Namun, sebaliknya jika pembagian devidennya tidak konsisten kadang bagi kadang engga, kemudian nilainya juga makin lama makin susut, makin turun, bahkan terkadang-kadang tidak bagi sama sekali dalam dua tahun, tiga tahun tidak bagi. Nah ini sudah menjadi tanda-tanda awal bahwa perusahaan mengalami kesulitan keuangan,” tutur Sienly.
Sementara itu seorang motivator guru Sunjoyo Soe menjelaskan, bahwa ada sebuah buku berjudul Good to Great yang menuliskan tentang riset yang dilakukan Jim Collins dan tim mengenai kepemimpinan perusahaan. Dalam risetnya tersebut ditemukan 11 perusahaan yang sukses beralih dari good menjadi great dari 4.000 perusahaan yang dirisetnya. Ini membuktikan seorang pemimpin menjadi faktor penentu untuk meningkatkan perfomace perusahaannya.
“ Jim Collins dan timnya menemukan bahwa setiap pemimpin puncak dari setiap perusahaan yang bisa melakukan perubahan dari good to great company, itu adalah pemimpinnya memiliki 5 level executive. Apa artinya memiliki kualifikasi atau kompetensi level 5 executive, itu artinya mereka punya kemampuan membangun keberlanjutan kehebatan company melalui perpaduan paradoks antara personal humility dan profesional wheel,” ujar Sunjoyo.
Sunjoyo menerangkan bahwa seorang pemimpin perusahaan harus bijak melihat persoalan yang dihadapi perusahaannya. Di saat persoalan itu terjadi, seorang pemimpin harus berani bercermin, melihat apa salahnya sehingga persoalan yang dihadapi perusahaan tak pernah putus.
“Seorang pemimpin ketika menghadapi masalah persahaan tidak boleh mengatakan bahwa ini nasib buruk, situasi yang menyebabkan kami, jadi menyalahkan situasi, menyalahkan orang lain, tetapi cenderung melihat ke dalam kaca,” tegas Sunjoyo.
Dan sebaliknya pun demikian, menurut Sunjoyo jika ada perusahaan yang banyak mendapat penghargaan, seorang pemimpin tidak boleh mengucapkan itu penghargaan karena saya, apalagi hal tersebut diucapkan berulang kali. Ini berbahaya, karena bisa menjadi bomerang bagi perusahaannya.
“Yang menarik, ketika mereka mendapatkan itu semua, mereka tidak mengatakan ini adalah good luck-nya mereka, tetapi ini semua karena karya orang-orang merek,” terang Sunjoyo.


