Apa yang Bisa Dipelajari dari Banjir Jabodetabek?
Banjir yang melanda Jabodetabek di awal tahun ini memberikan pelajaran berharga bagi semua pihak. Penanganan banjir memerlukan pendekatan multi dimensi mencakup aspek hidrologi air dan ekologi manusia.
Deputi Ilmu Pengetahuan (LIPI) Agus Haryono Mengatakan, Kemungkinan dan potensi-potensi bencana harus kita mitigasi. Musim hujan masih masih panjang. Kajian-kajian LIPI dapat digunakan untuk upaya mitigasi, sehingga kerugian dan korban yang ditimbulkan dapat diminalisir.
Peneliti Pusat Penelitian Limnologi LIPI, M. Fakhrudin menyebutkan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi banjir. Yaitu curah hujan, tutupan lahan, dan sistem drainase.
“Sebanyak 30 sampai 40 persen wilayah di Jakarta berada di bawah permukaan air laut, dan persentasenya terus bertambah,” jelasnya.
Fakhrudin menjelaskan, sistem drainase di Jakarta masih mengandalkan pompa.
“Hal ini menyebabkan proporsi jumlah air hujan yang dikonversi langsung menjadi aliran permukaan atau direct run-off akan cenderung terus meningkat,” ujarnya.
Terkait penyebab banjir awal tahun 2020 ini, Fakhrudin menjelaskan hujan memang menjadi faktor utama banjir di hilir. Sementara aliran sungai di hulu meningkatkan besaran dan lamanya banjir.
“Hujan ekstrem di hilir merupakan faktor utama terjadinya banjir di Jakarta kali ini, jadi bukan lagi salah kiriman air dari Bogor,” kata Fakhrudin.
Peneliti Pusat Penelitian Kebijakan dan Manajemen Iptek dan Inovasi LIPI, Galuh Syahbana Indrapahasta, mengungkapkan banjir di Jabodetabek adalah akibat tidak terkelola nya aspek teknis, ekologi, dan sosial. pembangunan ide Banjir Kanal Timur dan Banjir Kanal Barat sudah direncanakan sejak zaman kolonial.
“Ini menunjukkan bahwa masalah banjir sudah menjadi kekhawatiran sejak lama. Secara subsistem teknis, perlu adanya perbaikan sistem drainase dan pompa,” terangnya.
Dirinya menambahkan adaptasi ini harus dilakukan di semua level masyarakat mulai dari individu, regional, hingga nasional.
“Masing-masing level memiliki rasionalitas untuk mengambil keputusan atas tindakan yang akan dilakukan. Seluruh level tersebut harus sinergis dan tidak saling menghambat satu dengan yang lain. Misalnya, adaptasi di tingkat pemerintah tidak menghambat adaptasi oleh individu atau rumah tangga,” pungkas nya
