ASMINDO Furniture Design Competition 2025 Jadi Ruang Ekspresi Desainer Muda
Sebagai bagian dari komitmennya dalam mendorong inovasi dan regenerasi desainer di industri kreatif, Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) kembali menyelenggarakan ajang ASMINDO Furniture Design Competition 2025.
Kompetisi ini menjadi wadah bagi desainer muda dan mahasiswa dari seluruh Indonesia untuk menunjukkan kreativitas mereka dalam menciptakan produk furnitur yang inovatif, fungsional, dan berciri khas budaya lokal.
Mengangkat tema “Bound By Culture, Shaped By Materials”, ASMINDO ingin menekankan pentingnya nilai-nilai kultural dan pemanfaatan bahan lokal dalam desain furnitur modern. Tema ini tidak hanya menggambarkan kekayaan budaya Indonesia, tetapi juga mendorong para peserta untuk menggali potensi bahan alami dan memperkuat identitas lokal dalam setiap karya.
Memasuki tahun kedua pelaksanaannya, kompetisi ini membawa penyegaran dengan melombakan dua kategori , yaitu kategori Mahasiswa dan Desainer Muda Profesional. Langkah ini merupakan bagian dari upaya ASMINDO untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi para talenta muda dari berbagai latar belakang.

Setelah melalui proses seleksi yang ketat dari total 75 peserta, hanya 16 finalis yang berhasil melaju ke babak final, yang digelar pada 8 September 2025 di Pradita University, Tangerang.
Finalis terbagi dalam dua kategori dan masing-masing diberikan kesempatan untuk mempresentasikan karya mereka di hadapan empat juri professional yakni Sonny Agustiawan (Dosen Desain Interior Universitas Prasetiya Mulya), Boike Janus Anshory (Dosen Desain Interior, Pradita University), Handhyanto Hardian (Ketua Divisi Program dan Kemitraan ADPII) dan Eugenio Hendro (Founder Eugenio Hendro Design Studio)
Presentasi karya tidak hanya menampilkan estetika desain, tetapi juga memperlihatkan kejelian peserta dalam memilih material, efisiensi fungsi, keberlanjutan, serta nilai cerita budaya di balik rancangan mereka
Ketua Panitia ASMINDO Furniture Design Competition 2025, Maitri Widya Mutiara, menjelaskan bahwa ajang ini tidak sekadar menjadi ajang lomba, tetapi juga menjadi platform strategis untuk memacu pertumbuhan kualitas desain furnitur Indonesia agar dapat bersaing di pasar internasional.
“Tahun ini merupakan tahun kedua kami mengadakan kompetisi desain furniture. Tujuannya jelas, kami ingin menjaring sebanyak mungkin karya kreatif dari para desainer muda, baik yang masih mahasiswa maupun yang sudah berkiprah secara profesional,” ujarnya.

Maitri menyampaikan optimismenya terhadap potensi desainer muda Indonesia di industri furnitur. Ia menyebut bahwa karya-karya anak muda justru semakin diminati pasar karena memiliki pendekatan desain yang segar, relevan, dan selaras dengan tren global.
“Karya dari desainer muda itu justru sedang dicari. Mereka membawa perspektif baru, penuh eksplorasi, dan berani menggabungkan unsur lokal dengan desain modern. Pasar menyukai sesuatu yang unik dan orisinal, dan itu banyak datang dari para talenta muda kita,” pungkasnya.
Lebih lanjut Maitri menegaskan berkompetisi ini bukan hanya menjadi kompetisi berskala nasional, namun juga menjadi gerbang menuju panggung internasional. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ASMINDO) kembali memberikan kesempatan emas bagi salah satu pemenang terbaik untuk mewakili Indonesia dalam kompetisi desain furnitur tingkat Asia Tenggara.
“Tahun lalu, pemenang kami berhasil tampil dan bersaing dengan desainer dari negara-negara lain di Asia Tenggara. Tahun ini, kami juga akan mengirimkan satu wakil dari juara pertama, baik dari kategori mahasiswa maupun desainer muda profesional, untuk membawa nama Indonesia ke kancah internasional,” tuturnya.

Mewakili para juri. Handhyanto Hardian memberikan apresiasi kepada karya finalis. Menurutnya ada potensi besar dan semangat inovatif yang ditunjukkan para peserta, baik dari kategori mahasiswa maupun desainer muda profesional.
“Banyak dari mereka masih sangat muda, tapi sudah punya ide-ide segar dan keberanian untuk mengekspresikan desainnya. Mereka percaya diri terhadap karya yang dibuat dan mulai menunjukkan arah yang jelas terhadap inovasi dan orisinalitas,” ungkapnya.
Menurut Handhyanto, salah satu kekuatan utama dari karya-karya peserta tahun ini adalah kemampuan mereka dalam mengeksplorasi konsep desain orisinal yang tetap relevan dengan kebutuhan industri saat ini. Namun, ia juga mencatat adanya tantangan yang masih harus dihadapi oleh sebagian peserta, khususnya dalam menyelaraskan ide kreatif dengan aspek teknis produksi.

“Banyak dari mereka bisa menciptakan konsep yang sangat menarik dan unik. Tapi pada saat diuji dari segi feasibility atau kelayakan produksi, beberapa masih belum matang. Misalnya, ada keterbatasan dari sisi manufaktur yang belum mereka pertimbangkan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa keseluruhan aspek ini penting untuk menjembatani antara konsep desain dan penerapannya dalam industri nyata.
“Beberapa desain sudah sangat kuat dari sisi estetika dan ide, tapi belum semua siap secara teknis. Ini jadi catatan penting agar ke depan mereka bisa benar-benar siap masuk pasar,” tambahnya.

Para pemenang dari kompetisi ini akan diumumkan pada saat penyelenggaraan IFFINA+ Indonesia Meubel & Design Expo 2025 yang digelar di ICE BSD, pada 17-20 September 2025.
