Awal Tahun 2019, Bursa Efek Indonesia Kembali Dibuka
Setelah ditutup oleh Presiden Jokowi untuk mengakhiri perdagangan bursa sepanjang tahun 2018 pada Jumat (28/12/2018) lalu, hari ini, Rabu (2/1/2019) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali dibuka. Pembukaan BEI dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mewakil Presiden RI Jokowi yang harus ke Lampung untuk meninjau lokasi terdampak tsunami.
Pembukaan BEI juga dihadiri Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (Ketua DK OJK) Wimboh Santoso, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara, segenap Direksi dan Komisaris BEI serta seluruh stakeholder pasar modal.
Pembukaan dilakukan secara simbolis dengan membunyikan lonceng sebagai tanda peresmian Pembukaan Perdagangan 2019 tepat pukul 09.00 WIB dan penandatanganan sertifikat Peresmian Pembukaan Perdagangan yang turut disaksikan oleh Menteri Keuangan, Ketua Dewan Komisioner OJK, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK dan Direktur Utama BEI.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menebar optimistis kinerja pasar modal dapat jauh lebih baik dibandingkan 2018. Pasalnya, pasar modal telah sukses melewati rintangan tahun lalu dengan sangat baik.
“Kalau optimis hanya sekedar optimis saja nggak elok. Harus ada dasarnya. Dasarnya kita (telah) lewati 2018 dengan baik,” ujarnya di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta,
Tak hanya Menteri Darmin, keoptimisan kinerja pasa modal Indonesia ke depan semakin membaik ini, juga dilontarkan Direktur Utama BEI, dalam sambutannya.
“Satu yang kita banggakan kita bisa lewati 2018 dengan baik. Ekonomi kita jelas menunjukkan daya tahan pada gejolak internasional, kemudian sama seperti di pasar modal kita juga. Kalau kita sekadar optimis saja tidak elok juga, optimis lah yang ada dasarnya, dasarnya kita lalui 2018,” ujar Menko Perekonomian.
Sebagai informasi, pada pembukaan perdagangan pagi ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan menguat di kisaran 6.260-6.300. Seperti diketahui, penutupan IHSG di akhir tahun 2018 juga mengalami penguatan ke level 6.194. Penguatan ini adalah fenomena window dressing yang biasa terjadi dari akhir tahun hingga awal tahun. Fenomena ini dikaitkan dengan perombakan portfolio oleh manajer investasi sehingga terlihat menarik bagi investor khususnya asing.
Dari dalam negeri, ada proyeksi inflasi 2018 yang cukup rendah di bawah target 3,5% yoy. Inflasi yang rendah ini menjadi daya tarik investor di saat yield surat berharga tinggi. Selain itu, ada sinyal positif yang datang dari APBN yang mencatat penerimaan negara 100% dari target dan defisit di bawah 2,19%.
