Bacang dari Kertajaya Cibatu Merambah Berbagai Daerah

0
IMG-20190105-WA0007

Bacang merupakan salah satu panganan yang sangat populer di tengah masyarakat Indonesia. Berbahan baku beras, berisi kentang atau daging, serta dibungkus daun pisang yang dibentuk piramid, makanan ini sering disantap untuk sarapan.Tentu saja rasanya lezat, apalagi jika ditemani gorengan seperti tahu isi, bakwan, goreng tempe dan sebagainya.

Di Desa Kertajaya, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, ada kampung bernama kampung Bacang. Ini merupakan julukan untuk Kampung Nyalindung karena kampung ini merupakan sentra bacang di Garut Utara. Bacang olahan kampung ini merambah beberapa wilayah di Kabupaten Garut, di antaranya pasar Cibatu, Leuwigoong, Limbangan, Lewo, Malangbong, Leles, Banyuresmi, Wanaraja dan pasar lainnya.

“Bacang terbuat dari beras yang dibungkus dengan daun pisang membentuk piramid. Mengolahnya direbus,” jelas Kepala Desa Kertajaya, Cecep Kurniansyah, Sabtu (5//2019). Jadi, lanjut Cecep, beras dan daun pisang adalah bahan utama untuk pembuatan bacang.

“Bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan bacang di kampung tersebut, untuk beras sekitar 220 kg dan daun pisang 1.100 kg atau 1 ton lebih 1 kwintal,” ujarnya.

Bila kita berkunjung ke kampung Bacang, kita akan melihat kesibukan warga memproduksi bacang setiap harinya. Biasanya warga mulai beraktivitas dari jam 08:00 s/d 16:00 WIB. Ada yang memotong daun, mengisi beras ke bungkusan, ada yang merebus dan sebagainya. Biasanya bacang direbus pada sore atau malam hari dan dijual esok hari.

Menurut Cecep, untuk stok beras para pengrajin bacang tak kesulitan sebab tersedia banyak di pasaran, namun berbeda dengan bahan baku daun pisang.

“Terkadang untuk mendapatkan daun pisang para pengrajin harus pergi jauh ke sentra-sentra pisang,” jelasnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, untuk membantu para pengrajin bacang dalam penyediaan daun pisang, Pemerintahan Desa Kertajaya berinisiatif membudidayakan tanaman pisang dengan memanfaatkan lahan desa.

“Peyediaan daun pisang untuk para pengrajin bacang tersebut kini ditangani oleh Bumdes,” tuturnya.
Ia mengungkapkan, budidaya pisang memberikan keuntungan ganda. Selain daunnya, pisangnya pun tentu laku dijual.

“Kami berharap dinas terkait memberikan perhatian kepada para pengrajin bacang sehingga produksinya makin bertambah dan daya jangkau pasarnya makin luas,” harapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *