CinemaCulture

Banggakan Indonesia, Film Sekala Niskala Raih Banyak Penghargaan Dunia

Sekala Niskala atau The Seen and Unseen turut diputar dalam gelaran Plaza Indonesia Film Festival. Film kedua karya sineas Kamila Andini tersebut berkisah tentang persaudaraan yang erat antara Tantri dan Tantra, anak kembar buncing yang lahir dan tinggal di sebuah pedesaan di Bali.

Kabarnya film ini menjadi pilihan oleh CEO Toronto International Film Festival (TIFF), Piers Handling sebagai salah satu film ‘terpanas’.

“Pertama kali saya menonton film ini, saya sangat terkesima dengan sensitivasnya dalam memahami dunia anak-anak. Film ini menuturkan imajinasi, kreativitas sinema, kesederhanaan, sekaligus hal-hal magis di dalamnya,” katanya dalam siaran pers tersebut.

The Seen and Unseen pun membawa banyak perhatian untuk dua aktor dan aktris cilik Gus Sena dan Thaly Titi Kasih. Keduanya seakan menjadi idola baru di festival yang pernah juga melambungkan film Indonesia, The Raid, ke jagad Hollywood itu.

Sementara itu, sang sutradara, Kamila Andini mengungkapkan bahwa Sena dan Thaly adalah talenta yang sulit ditemukan. Dia bahkan menemukan mereka berdua di detik-detik terakhir proses casting, sesaat sebelum proses shooting dilakukan.

“Kriteria yang saya cari dari Tantri cukup sulit, anak dengan kemampuan tubuh dan akting yang bagus, simpatik, tapi juga mau berakting di kondisi-kondisi yang menantang. Tetapi Thaly sangat istimewa. Tantanganya adalah mengumpulkan mereka ke mood atau ritme yang sebenarnya bukan mood anak-anak (mistis). Tetapi anak-anak Bali sebenarnya sangat biasa dengan hal yang mistis dalam keseharian, bahkan lebih paham daripada saya,” ungkap Kamila usai pemutaran film The Seen and Unseen di XXI Plaza Indonesia, 26 Februari 2018.

Film ini juga memberi kesan spritual yang unik, sebab, berusaha menyampaikan bahwa kematian adalah sebuah peristiwa yang bermakna dalam sebuah kehidupan.

“Proses itu yang harus dijalani sehingga film ini jadi seperti ini, penulisannya dimulai tahun 2011 ketika saya tertarik untuk melihat apa pun dalam perspektif anak-anak, kemudian dalam perjalanannya, saya menikah dan menjadi ibu dari dua anak. Saya menjadi orang yang berbeda. Kemudian saya ingin mengeksplor antara yang terlihat dan yang tak terlihat, deep connection dalam kembar buncing (kembar laki-laki dan perempuan) dan saya menempatkan konteks ini di Indonesia,” katanya.

Sementara itu, setting Bali dipilih karena tradisi antara yang kasat mata dan yang tidak masih terjaga dengan baik dalam keseharian.

“Sebenarnya konsep yang kasat mata dan yang tidak bukan mendefinisikan hanya Bali, tetapi juga Indonesia. Tetapi di Bali semuanya sangat nyata di keseharian,” lanjutnya.

Film yang menggabungkan berbagai simbol dalam semesta kepercayaan serta unsur mistis kemudian dibawakan dengan sempurna oleh akting dan tarian anak-anak di banyak adegan dalam film.

Kesulitan lain juga diakui oleh sinematografer film, Anggi Frisca. Menurutnya film tersebut menantang perempuan yang juga sutradara dari film dokumenter Negeri Dongeng itu, untuk belajar mencari napas dalam tari dan menggabungkan dengan bulan purnama.

“Tantangan bagi saya adalah menggabungkan anak kecil dengan setting purnama dan menari. Saya belajar untuk mencari napas dalam tariannya dan bagaimana menerangkan purnama dalam gelap,” katanya.

Ada banyak apresiasi yang muncul dari pegiat perfilman di Indonesia. Film The Seen and Unseen sendiri telah meraih sejumlah penghargaan, di antaranya dari Tokyo Filmex 2017, Best Youth Film di ajang Asia Pasific Screen Award, dan yang terbaru The Grand Prix pada kategori Generation Kplus International Jury di ajang Festival Film Berlinale, Berlin, Jerman. Meski hingga kini belum ada tanggal resmi rilis film ini di bioskop Tanah Air, namun direncanakan The Seen and Unseen akan tayang 8 Maret 2018 mendatang.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close