Bangun Pusat Penelitian Kakao, Produsen Cokelat M&M Gelontorkan Investasi US$ 4 Juta
Guna meningkatkan produksi kakao, Mars Symbioscience Indonesia mendirikan Pusat Penelitian Kako Pangkep. Untuk membangun pusat penelitian ini, produsen cokelat M&M menggelontokan nilai investasi sebesar US$ 4 juta atau setara dengan Rp 54,092 miliar (kurs Rp 13.523). Pusat penelitian ini merupakan yang kedua dimiliki Mars Indonesia, sebelumnya Mars Indonesia telah membangun pusat penelitian di desa Tarengge, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Pembangunan pusat penelitian kakao ini diresmikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, di lingkungan Alekraja dan Ale Bonto-Bonto Kelurahan Attangsalo, Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkep, Sabtu, 18 November 2017. Peresmian pembangunan ditandai dengan peletakan batu peretama oleh Wapres. dan didampingi Mentan Amran Sulaiman, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo dan Director of Mars. Inc Franks Mars
Pusat penelitian dibangun diatas lahan seluas 95,2 hektare (ha) ini, ditargetkan bisa beroperasi pada dua tahun mendatang. Jika sudah beroperasi, pusat penelitian ini dapat menggenjot produksi kako dari 0,5 ton per hektare per tahun menjadi 1,5 ton per hektare per tahun.
Director of Mars. Inc Franks Mars mengatakan pembangunan pusat penelitian ini merupakan komitmen Mars Indonesia dalam memperkuat produksi kakao di Indonesia.
“Investasi di Pangkep ini adalah fasilitas penelitian kakao kedua di Indonesia. Sesuai komitmen kami yang fokus meningkatkan kualitas produksi kakao dan keberlanjutannya,” kata Frank dalam sambutannya pada peletakan batu pertama Pusat Penelitian Kakao di Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu, 18 November 2017
Franks membeberkan apa saja fasilitas yang dimiliki pusat penilitian yang akan dibangun ini. Fasilitas-fasilitas tersebut yakni kebun percontohan seluas 70 ha, laboratorium seluas 238 m2 berstandar internasional, fertigasi atau pengelolaan pengairan dan pemupukan menggunakan sistem teknologi, serta pengelolaan limbah dengan mendaur ulang air.
“Perubahan iklim merupakan hal yang nyata bagi kami. Kami yang bekerja di Indonesia telah menyadari hal tersebut sejak sepuluh tahun terakhir,” jelas Maryln Sumbung, Presiden Direktur Mars Symbioscience Indonesia.
Ia lanjut menjelaskan, Mars berinvestasi jangka panjang untuk mengatasi berbagai ancaman termasuk perubahan iklim, kemiskinan dan kelangkaan sumber daya. Maryln bilang menurut data industri, produksi kakao Indonesia menurun sejak tujuh tahun belakangan, yang semula 700.000 ton per tahun menjadi 300.000 ton per tahun.
Lebih lanjut Frank menjelaskan, industri kakao telah membuka lapangan kerja bagi lebih dari 6,5 juta keluarga petani di seluruh Afrika, Amerika Selatan dan Asia Tenggara. Namun, selama enam tahun belakangan, produksi kakao tercatat menurun 40% karena serangan hama, penyakit dan praktik pertanian yang kurang tepat.
