Belajar dari Pandemi Covid-19, Peneliti Kaji Dampak dan Potensi Vaksin Nasional

0

Kemandirian dalam memproduksi vaksin dalam negeri akan berkontribusi terhadap ketahanan kesehatan nasional. Hal tersebut akan memastikan juga adanya ketersediaan pasokan vaksin untuk rakyat Indonesia yang diproduksi sendiri.

“Karena dibuat sendiri maka bahan pasokan tentu saja tidak perlu impor, tidak ada ganguan logistik, tidak ada gangguan harga dan tidak ada gangguan politik,” ujar R. Tedjo Sasmono, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman dalam Webinar Bincang Sehat Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis bertajuk “Dampak Kejadian Covid-19 dan Pemberian Vaksin Covid-19 Pasca Pandemi”, belum lama ini.

Dirinya menyebutkan, pandemi Covid-19  memberi banyak pelajaran karena sulitnya mencari vaksin, bahkan terjadi perebutan pasokan antara negara. Kemandirian vaksin dapat membuat persoalan tersebut dapat teratasi. Selain itu, vaksin yang tidak diimport alias diproduksi nasional, jauh akan lebih menghemat biaya dibandingkan harus membeli dari luar negeri.  

Pada paparannya berjudul “Dampak Vaksin Buatan Indonesia”, Tedjo juga menyampaikan untuk penyesuaian kebutuhan lokal yang paling relevan bukan hanya virus covid, melainkan penyesuaian varian pathogen. Dengan skill, keterampilan dan pengetahuan para peneliti menggunakan biologi moleculer sebagai alat.

Ketika menguasai suatu alat diharapkan bisa digunakan untuk berbagai macam aspek dari pengembangan bioteknologi pengembangan vaksin. Misalnya dipakai untuk uji klinis dan seterusnya. 

Ia menceritakan, saat itu dirinya dan tim melakukan  percobaan pengembangan  bersama-sama dengan segala macam keterbatasan yang ada. Riset tersebut menggunakan platform protein rekombinan diekspresikan di yeast dan sel mamalia, yang berhasil menghasilkan seed vaksin yang memenuhi standar industri. Selain itu, telah dilakukan karakterisasi seed yang meliputi kestabilan genetik, uji fungsi, antigenisitas, serta uji imunogenisitas di hewan coba dengan hasil yang positif.

“Seed Vaksin Merah Putih (VMP) yeast ini siap untuk dihilirisasi dengan mitra industri. Riset vaksin VMP memberikan pengalaman berharga dalam pengembangan vaksin di Indonesia. Potensi vaksin buatan Indonesia perlu terus digali untuk mendukung kemandirian bangsa dalam pengembangan vaksin di masa mendatang,” tegas Tedjo.

Pada kesempatan yang sama, Dominicus Husada, Klinisi RSUD Dr. Soetomo Surabaya mengungkapkan, setelah sekian lama sejak pandemi dinyatakan telah berakhir, sebulan terakhir kasus Covid-19 justru mencapai lebih dari seratus ribu kasus.

Memaparkan materi yang berjudul “Situasi Epidemiologi dan Aspek Klinis COVID-19 Terkini”, Domicus menyampaikan jika saat ini kasus COVID 19 di dunia masih banyak namun angka kematian sangat sedikit dibandingkan tahun lalu.

Dirinya juga menyampaikan jika dilihat dari aspek klinik makin ke sini virus ini makin tidak seberat dulu. Yang paling berat menurutnya adalah saat adanya varian delta. Setelah itu virus-virus tersebut variannya mempermudah infeksi tetapi tidak memperberat gejala. Sehingga dalam pedoman WHO tahun lalu yang belum diperbaharui, gejala demam, batuk, kelelahan, anoreksia, sesak adalah hal yang sering kita rasakan hingga saat ini.

“Pandemi ini belum sepenuhnya selesai dan kasus serta kematian jelas terus menurun. Vaksin berperan sangat besar. Lebih besar dari yang diberikan oleh pengobatan atau pencegahan lain yang kita sudah tahu seperti juga penyakit lain dan pandemi Covid 19 ini jelas memberi kita banyak pelajaran berharga,” pungkasnya.

Sementara itu Carina Citra Dewi Joe, Guru Besar Fakultas Sains Teknologi Universitas Airlangga yang juga hadir sebagai narasumber menyampaikan paparannya tentang proses inovatif, dampak komersial dan sosial, serta manfaat masa depan dari vaksin Astrazeneca.

Carina menyampaikan bahwa perjalanannya dan tim dimulai dengan pengembangan proses manufaktur baru yang dirancang tidak hanya untuk mengatasi COVID 19, namun juga dapat diterapkan secara luas untuk berbagai penyakit menular di masa depan. Platform ini memanfaatkan vector adenovirus yang dimodifikasi dengan cermat dan menjadikannya pilihan yang aman dan efektif untuk mengantarkan antigen vaksin ke tubuh.

“Salah satu pilar utama inovasi kami tetap fokus pada manufaktur yang terdistribusi. Pendekatan ini memungkinkan produksi vaksin yang dilakukan di berbagai lokasi secara global dan memastikan akses yang lebih luas dan adil bagi masyarakat di seluruh dunia. Tetapi hal ini sangat penting dalam memerangi pandemi global Covid-19 dimana kecepatan dan jangkauan menjadi kunci dalam menyelamatkan nyawa,” tutur Carina.

Ia melanjutkan, meskipun timnya memprioritaskan kecepatan dan skala produksi, namun mereka tidak pernah mengabaikan konsistensi dan kualitas vaksin.

Kami menerapkan sistem kontrol kualitas yang ketat dan canggih disetiap tahap proses manufaktur dan memastikan bahwa setiap dosis vaksin memenuhi standar keamanan dan kemanjuran yang tertinggi,” papar Carina.

Teknologi yang dikembangkan untuk produksi vaksin Covid-19 Astrazeneca menurutnya memiliki potensi dan manfaat yang luar biasa di masa depan. Teknologi ini telah terbukti efektif dalam situasi tanggap darurat. Sebagai contoh, konsorsium SAE dan universitas Oxford mampu mengirimkan dosis vaksin untuk penanganan emola di Uganda pada tahun 2022 hanya dalam waktu 81 hari.

Universitas Oxford pada saat ini telah mengembangkan proses produksi yang lebih cepat untuk menghadapi wabah penyakit. Teknologi baru ini berpotensi memproduksi 1 milyar dosis vaksin hanya dalam waktu 131 hari sejak identifikasi target genetic dibandingkan dengan 590 hari yang dibutuhkan untuk vaksin Covid-19  lalu. Dan teknologi ini juga dilengkapi dengan paket teknologi regulasi dan kualitas yang ditujukan untuk produsen di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

“Tim yang terlibat dalam proyek vaksin ini luar biasa. Semua ini tidak akan tercapai tanpa adanya kerja sama dan kerja keras kolaborasi dari tim,” pungkas Carina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *