BTNI Rayakan Tahun Baru Imlek 2577, Kobarkan Semangat Persatuan di Tahun Kuda Api
BTNI gelar perayaan Tahun Baru Imlek. (Foto: BTNI/Andry Gunawan)
Bhinneka Tionghoa Nasionalis Indonesia (BTNI) menyelenggarakan Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 di Golden Sense International Restaurant, Jakarta Utara pada Minggu (1/3/2026). Acara ini berlangsung meriah dan penuh semangat, serta sarat makna kebangsaan.
Acara ini dihadiri oleh Ketua Dewan Pendiri & Kehormatan BTNI yang juga merupakan budayawan sekaligus sutradara dan pencipta lagu, Erros Djarot; Ketua Dewan Penasihat BTNI, Komjen Pol (P) Dr. Boy Rafli Amar MH; tamu kehormatan BTNI, Komjen Pol (P) Dharma Pongrekun; dan sejumlah tokoh pengusaha Tionghoa lainnya.
Nuansa merah mendominasi ruangan, merepresentasikan Shio Kuda Api 2026 yang identik dengan energi, keberanian, dan semangat melaju ke depan.


Perayaan Imlek BTNI ini tidak hanya menjadi agenda budaya dan momentum untuk silaturahmi, tetapi juga forum strategis kebangsaan yang menegaskan posisi masyarakat Tionghoa sebagai bagian utuh dari bangsa Indonesia.
Ketua Panitia Inge Fang mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran acara dan antusiasme tinggi dari para anggota dan tamu undangan yang hadir.
Perayaan Tahun Baru Imlek kali ini semakin semarak dengan penampilan penyanyi Mandarin yang sedang naik daun, Icha Yang dan Zetarriuz, serta kegiatan pemilihan Best Dress Oriental yang menambah keceriaan suasana.

Lebih jauh, Inge juga membagikan pandangan terkait makna Tahun Kuda Api. Ia menyebut, berdasarkan ramalan salah satu ahli fengshui, sejumlah shio diprediksi membawa keberuntungan finansial, seperti Shio kuda, anjing, naga, kambing, dan kelinci. Namun, ia menekankan bahwa kesuksesan tidak semata ditentukan oleh ramalan.
“Keberhasilan bukan hanya milik mereka yang shionya diramal baik. Sukses sangat ditentukan oleh pola pikir yang positif. Peluang selalu ada, tergantung bagaimana kita melihat dan memanfaatkannya”
Inge Fang (Ketua Panitia)
Ketua Umum BTNI Lokesworo menyampaikan selamat kepada anggota BTNI, terutama suku Tionghoa yang sedang merayakan Tahun Baru Imlek.
“Semoga di Tahun Kuda Api harus dimaknai sebagai semangat persatuan dan kesatuan. Semoga membawa kesuksesan untuk kita semua”
Lokesworo (Ketua Umum BTNI)

Selain itu, ia juga mengapresiasi kerja keras seluruh pengurus yang sudah bekerja dan berjuang untuk perkembangan BTNI, mulai dari Ketua Panitia Inge Fang, Sekretaris Jenderal Andry Gunawan, Bendahara Umum Melissa Darmasetiawan, hingga para pengurus lainnya seperti Robin Teh, Suwanto, dan Sugito Hardjo. Ia berharap, para peserta yang hadir dapat selalu mendukung BTNI ke depannya.
Ketua Dewan Pendiri & Kehormatan BTNI Erros Djarot menegaskan bahwa cita-cita awal pembentukan BTNI adalah menghadirkan wadah kebersamaan lintas etnis, suku, ras, dan agama.
“Saya merasa bahagia melihat malam ini begitu meriah dan penuh keakraban. Sejak awal, BTNI didirikan agar semua bisa berkumpul tanpa mempersoalkan perbedaan. Kita berbeda-beda, tetapi tetap satu bangsa dan satu negara”
Erros Djarot (Ketua Dewan Pendiri & Kehormatan BTNI)

Ia menambahkan bahwa masyarakat Tionghoa adalah bagian tidak terpisahkan dari Indonesia.
“Kita tidak pernah memilih dilahirkan di rahim mana. Karena itu, identitas kebangsaan adalah sesuatu yang harus kita jaga bersama,” ucap Erros.
Ketua Dewan Penasihat BTNI Komjen Pol (P) Dr. Boy Rafli Amar MH menyebut, suasana yang paling meriah adalah di tahun ini , terlebih bersamaan dengan bulan puasa sehingga tercipta nuansa saling menghormati dan mendukung.
“Selama dua tahun berjalan, BTNI telah menumbuhkan semangat persaudaraan, persatuan, dan kesatuan. Melalui BTNI, kita bisa guyub dan kompak, serta berkontribusi yang terbaik untuk bangga. Keberadaan BTNI harus dianggap sebagai entitas di Indonesia”
Komjen Pol (P) Dr. Boy Rafli Amar MH (Ketua Dewan Penasihat BTNI)


Hal senada juga diungkapkan oleh Komjen Pol (P) Dharma Pongrekun. Ia berharap, BTNI tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan semakin membumi dan hadir nyata di tengah masyarakat.
“Saya selalu siap diminta masukan demi majunya BTNI umum dan khususnya kalangan Tionghoa yang lahir di Indonesia. Tetap menjadi satu kesatuan dengan budaya imlek ini,” ata Dharma Pongrekun.
Ia juga mengutip pesan almarhum Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, tentang pentingnya nilai kemanusiaan di atas identitas sempit.
“Ketika Anda berbuat baik, tidak ada yang bertanya apa agama atau etnis Anda. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”
Komjen Pol (P) Dharma Pongrekun
