Buleleng Kembangkan Budidaya Garam Efisien dengan Geomembrane

0
WhatsApp Image 2026-03-03 at 22.00.25

Sekelompok orang yang sedang melakukan panen garam di tambakgaram. Mereka berdiri di area tambak yang berisi air laut yang telah mengkristal menjadi garam. (Foto: Liu)

El John News, Budidaya garam rakyat di Kabupaten Buleleng, Bali, masih menghadapi tantangan keterbatasan musim kemarau. Berbeda dengan beberapa daerah penghasil garam lain di Indonesia, periode kemarau di Bali umumnya hanya berlangsung sekitar empat hingga lima bulan setiap tahun. Kondisi ini membuat produktivitas garam rakyat belum dapat mencapai tingkat maksimal.

Jika dibandingkan dengan daerah penghasil garam seperti Kabupaten Rote Ndao di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), masa kemarau yang lebih panjang, yakni sekitar tujuh hingga sembilan bulan per tahun, memberikan keuntungan tersendiri bagi para petambak garam. Dengan waktu produksi yang lebih lama, hasil panen garam di daerah tersebut cenderung lebih tinggi.

Meski demikian, peluang usaha garam di Bali tetap terbuka selama para pelaku usaha mampu menerapkan teknologi produksi secara efisien. Salah satu teknologi yang dinilai efektif adalah penggunaan geomembrane berbahan polyethylene (PE) sebagai alas tambak garam.

Konsultan bisnis di Bali, Wiramin, menjelaskan bahwa penerapan sistem geomembrane dapat meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menjaga kualitas garam yang dihasilkan.

“Tapi pelaku usaha harus main quantity. Pasokan garam rakyat masih belum bisa memenuhi kebutuhan di Bali. Hitungan profit (keuntungannya), usaha garam di Bali hanya setengah dari (usaha garam) di NTT. Hitungan kami, hasil produksi garamnya dengan bagi keuntungan, share per ton Rp 50 ribu di Bali, Rp 100 ribu di NTT kepada koperasi yang dibentuk bersama tanpa harus mengeluarkan biaya sewa lahan,” kata Wiramin.

Penggunaan geomembrane PE dinilai mampu mengurangi risiko pencemaran pada tambak garam. Material ini memiliki daya tahan tinggi sehingga dapat mencegah rembesan tanah tambak ke dalam air laut yang sedang diproses menjadi garam. Dengan kondisi air yang lebih bersih, kualitas garam yang dihasilkan pun menjadi lebih baik.

Selain itu, geomembrane juga membantu mencegah kristal garam menempel pada tanah tambak, sehingga proses panen dapat dilakukan lebih cepat dan lebih mudah. Hal ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi kerja petambak garam.

“Geomembrane juga mempercepat kristalisasi garam. Selain factor keluasan tambak, minimal 20 hektar sehingga bisa efisien. Mini dump truck dan plastik geomembrane, kualitas impor terutama dari China, bisa meningkatkan efisiensi. Harganya lebih terjangkau dibanding harga rata-rata pasaran,” ujar Wiramin.

Di sisi lain, peluang investasi pada sektor garam di Indonesia juga dinilai masih terbuka, baik untuk kegiatan produksi di tambak (on farm) maupun pengolahan setelah panen (off farm). Pada masa lalu, PT Garam (Persero) bahkan pernah melakukan studi banding ke Tiongkok untuk mempelajari teknologi pengolahan air murni menjadi garam.

Teknologi tersebut sempat diprioritaskan untuk proses alih teknologi ke Indonesia. Setelah garam dipanen, proses lanjutan seperti pencucian garam juga dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk.

Menurut Wiramin, proses pencucian garam dapat meningkatkan kadar Natrium Klorida (NaCl) sekaligus mengurangi kandungan kotoran atau impurities. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kotoran tidak dapat dihilangkan sepenuhnya karena karakteristik garam yang memang tidak homogen.

“teknologi ditunjang koperasi garam rakyat untuk penciptaan dan pemeliharaan lapangan kerja. system berbagi keuntungan efektif, hanya sebatas kasih fee untuk koperasi yang dibentuk. Selain, system ini untuk menghindari resiko, biaya tinggi. Karena modal untuk mesin pengeringan, mesin produksi, excavator, mesin loader , dump truck mini (angkutan khusus garam mini dump truck) selama ini juga rumit,” kata Wiramin.

Dengan dukungan teknologi, manajemen usaha yang efisien, serta keterlibatan koperasi garam rakyat, budidaya garam di Bali dinilai masih memiliki potensi keuntungan. Meski menghadapi keterbatasan musim kemarau, optimalisasi lahan tambak dan penerapan teknologi modern dapat menjadi kunci peningkatan produktivitas dan kualitas garam nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *