Headline NewsHealthy LifeTourism

Cegah Penyebaran Difteri, Pemerintah Akan Vaksin Wisatawan Asing

Pemerintah telah menetapkan wabah penyakit difteri sebagai kejadian luar biasa (KLB), karena  penyakit tersebut sudah  menyebar ke berbagai daerah dan juga sudah menimbulkan korban jiwa yang kebanyakan dari usia muda dan balita.

Meski pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah melakukan vaksin, namun upaya lain untuk  mencegah masuknya wabah penyakit difteri lebih parah lagi, Kemenkes  mengkaji penerapan pemberian vaksin atau outbreak response immunization (ORI) kepada wisatawan asing yang akan berkunjung maupun masih tinggal di Indonesia. Mengingat, wabah difteri bukan hanya menyebar di Tanah Air. Namun penyebaran penyakit serupa juga terjadi di India, Myanmar, Venezuela, hingga Bangladesh.

 

“Jadi kalau ada mereka yang datang ke Indonesia seharusnya kita tanyakan di pintu masuk bandara maupun pelabuhan laut, sudah diimunisasi atau belum?” kata Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek usai menggelar rakor tentang wabah penyakit difteri di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam), Gambir, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Menkes mengakui hingga saat ini belum ditemukannya wisatawan asing yang terkena penyakit difteri. Namun pencegahan tetap dilakukan  dan kini rencananya vaksi untuk wisatawan asing sedang dikaji. Pengkajian akan melihat sejauh mana keefektifan upaya ini dan apakah nanti jutru menganggu para wisatawan asing yang datang ke Indonesia. Pasalnya kunjungan wisatawan asing ini penting untuk devisa negara.

Selain itu, pemeriksaan juga harus teliti, karena jika wisatawan asing ada yang terkena difteri, maka yang harus dicermati apakah wisatawan tersebut sudah terkena di negara atau tertular di Indonesia.

Hingga kini, sambung Menkes, tindakan ORI dilakukan di 20 kabupaten/kota yang ada di Indonesia.‎ Kemudian, langkah yang sama juga akan dilakukan di 70 kabupaten/kota lainnya dari berbagai provinsi dalam waktu dekat. “Sebenarnya, provinsi lain kan ada dinas kesehatannya, mereka sudah melakukan. Itu kita harapkan sudah bisa sekaligus. Sudah mulai dari sekarang,” tuturnya.

Menkes Nila melanjutkan, penanganan medis berupa imunisasi mencegah penyakit difteri harus dilakukan sebanyak tiga kali. Imunisasi tersebut dilakukan dalam rentang waktu selama satu bulan sekali, dan imunisasi terakhir dilakukan enam bulan kemudian. “Diingatkan ya, harus tiga kali. Tolong disosialisasikan. (Pertama) satu bulan kemudian dan enam bulan kemudian,” tukasnya.

Difteri adalah infeksi bakteri menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, terkadang dapat memengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.

Menurut World Health Organization (WHO), tercatat ada 7.097 kasus difteri yang dilaporkan di seluruh dunia tahun 2016. Di antara angka tersebut, Indonesia turut menyumbang 342 kasus. Sejak tahun 2011, kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus difteri menjadi masalah di Indonesia.

 

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button