Hari Lahir Pancasila 2026: Saatnya Membumikan Keteladanan di Era Digital

0
WhatsApp Image 2026-06-02 at 00.26.27(1)

Pengamat sosial dan kemasyarakatan, Dr. H. Serian Wijatno, bicara tentang Pancasila (Foto: Dokumentasi Pribadi Serian Wijatno)

El John News, Jakarta-Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 dinilai tidak cukup dimaknai sebagai seremoni tahunan yang dipenuhi upacara dan pidato kebangsaan. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan media sosial, tantangan terbesar bangsa justru berada pada kemampuan menjaga persatuan, etika, dan akal sehat di ruang digital.

Pengamat sosial dan kemasyarakatan Dr. H. Serian Wijatno, menilai Pancasila saat ini menghadapi ujian yang berbeda dibanding masa lalu. Jika dahulu ancaman datang dalam bentuk konflik fisik atau pertentangan ideologi secara langsung, kini tantangan hadir melalui arus informasi yang tidak terkendali, disinformasi, serta polarisasi yang berkembang di media sosial.

“Kita sedang hidup di era post-truth, sebuah lanskap digital tempat Pancasila tidak sedang diuji oleh senjata atau pemberontakan fisik, melainkan oleh jempol-jempol kita sendiri,” ujar Serian Wijatno dalam keterangannya memperingati Hari Lahir Pancasila 2026.

Menurutnya, tema Hari Lahir Pancasila tahun ini, Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia, harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata yang relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Salah satu bentuk implementasi paling sederhana adalah membiasakan diri menyaring informasi sebelum membagikannya kepada orang lain.

“Tantangan terbesar kita hari ini adalah menjaga akal sehat di tengah kebisingan ruang digital. Menjaga Pancasila saat ini harus dimulai dari tindakan sederhana, yaitu menyaring informasi sebelum membagikannya,” katanya.

Serian menilai ruang digital yang kini digunakan ratusan juta masyarakat Indonesia berpotensi menjadi sarana pemersatu sekaligus pemecah belah. Karena itu, ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh potongan video tanpa konteks maupun judul-judul sensasional yang berpotensi memicu konflik sosial.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa keberhasilan membumikan nilai-nilai Pancasila sangat bergantung pada keteladanan para pemimpin di berbagai tingkatan. Menurutnya, masyarakat Indonesia yang memiliki karakter paternalistik cenderung menjadikan perilaku pemimpin sebagai acuan dalam bertindak.

“Rakyat berkaca pada pemimpinnya. Edukasi digital tidak akan efektif apabila para pemimpin tidak memberikan contoh nyata dalam berkomunikasi dan bersikap di ruang publik,” ujarnya.

Serian menegaskan, keteladanan tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemimpin nasional, tetapi juga para pimpinan organisasi swasta, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga ketua RT dan RW. Mereka diharapkan mampu menjadi figur penyejuk yang hadir untuk mengklarifikasi informasi dan mencegah penyebaran hoaks sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menghadirkan Pancasila dalam bahasa yang lebih dekat dengan generasi muda. Menurutnya, generasi milenial dan zilenial membutuhkan pendekatan yang kreatif, adaptif, dan sesuai dengan karakter komunikasi digital masa kini.

“Budaya luhur bangsa harus bersalin rupa menjadi bahasa yang dipahami generasi muda tanpa kehilangan substansi nilai-nilai Pancasila itu sendiri,” tuturnya.

Serian menegaskan bahwa Hari Lahir Pancasila 2026 seharusnya menjadi momentum refleksi bersama bahwa ideologi bangsa tidak hanya hidup dalam buku sejarah atau ruang upacara, tetapi juga hadir dalam setiap aktivitas masyarakat, termasuk di ruang digital yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

“Pancasila hidup, bergerak, dan sedang diuji ketahanannya di dalam saku celana kita masing-masing pada setiap ketukan jari, pada setiap status yang kita unggah, dan pada setiap teladan yang ditunjukkan oleh pemimpin kita,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *