Hiandrasyah The Nahkodai PSMTI Kalsel 2025–2029, Siap Perkuat Peran Sosial dan Kebersamaan Antar Etnis

0
43de95cf-ffc8-4cc2-9a95-6e51a8772e2e

Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kalimantan Selatan resmi memasuki babak baru kepemimpinan setelah digelarnya Musyawarah Provinsi (Musprov) ke-VI pada 26 September 2025. Dalam forum penting yang berlangsung di Himalaya Convention Hall Hotel Banjarmasin International ini, Drs. Hiandrasyah The terpilih sebagai Ketua PSMTI Kalsel periode 2025–2029, menggantikan Herman Chandra yang telah menyelesaikan masa kepemimpinannya selama dua periode berturut-turut.

Musprov VI PSMTI Kalsel ini menjadi momen strategis bagi organisasi untuk merefleksikan perjalanan, mengkonsolidasikan kekuatan internal, serta menentukan arah baru yang lebih solid dan inklusif ke depan. Kehadiran tokoh-tokoh penting dari berbagai unsur pemerintahan, organisasi masyarakat, dan komunitas Tionghoa menunjukkan betapa PSMTI telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial dan kemasyarakatan di Kalimantan Selatan.

Acara tersebut turut dihadiri oleh sejumlah pejabat dan tokoh, termasuk Gubernur Kalimantan Selatan, H. Muhidin, yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, Adi Santoso. Hadir pula Walikota Banjarmasin Muhammad Yamin HR, serta jajaran Pengurus Pusat PSMTI seperti Dewan Penasihat Tidarta Trikadibusana, WKU Korwil Kalimantan Hiandrasyah The, WKU Departemen Sosial & Lingkungan Hidup Lusi Oey, serta para Ketua Perkumpulan Marga dan Perkumpulan Suku Tionghoa se-Kalimantan Selatan.

Dalam proses musyawarah yang berlangsung penuh kekeluargaan, seluruh peserta sepakat secara bulat memilih Drs. Hiandrasyah The sebagai pemimpin baru. Sosok yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Koordinator Wilayah Kalimantan ini dinilai memiliki kapasitas, pengalaman, serta komitmen kuat untuk melanjutkan peran PSMTI sebagai wadah sosial dan perekat harmoni antar-etnis di Kalimantan Selatan.

Dalam pidato perdananya, Hiandrasyah menyampaikan tekadnya untuk menjadikan PSMTI sebagai organisasi yang semakin terbuka dan bermanfaat bagi masyarakat luas. “Ke depan, kami akan memperkuat program sosial, kebudayaan, dan pembauran. PSMTI bukan hanya untuk komunitas Tionghoa, tetapi juga untuk seluruh masyarakat Banua,” tegasnya.

Ia juga menegaskan bahwa kepemimpinan ini adalah amanah besar yang harus dijalankan dengan semangat inklusif, kolaboratif, dan konsisten dalam melayani masyarakat, terutama yang membutuhkan.

Dalam sambutannya, Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, Adi Santoso  menyampaikan apresiasi tinggi atas kontribusi PSMTI terhadap pembangunan sosial dan kebudayaan di Kalimantan Selatan. Ia menyebut bahwa keberadaan PSMTI telah memperkuat nilai-nilai toleransi, gotong royong, dan kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat Banua.

“Forum ini telah membuktikan diri sebagai wadah pembauran yang mampu menjaga silaturahmi antar komunitas di Kalimantan Selatan. Toleransi berjalan baik, kebersamaan juga terjalin untuk membangun Banua,” ujar Adi.

Sementara itu, Dewan Penasehat PSMTI Kalsel, Sarwadarma, menekankan pentingnya kesinambungan program. Ia berharap agar kepemimpinan baru dapat mempertahankan bahkan memperluas cakupan program sosial, terutama yang menyentuh langsung masyarakat di wilayah-wilayah seperti Kotabaru, Tanah Laut, dan Martapura.

“Yang sudah baik harus dilanjutkan. Program sosial itu penting, karena masyarakat masih banyak yang membutuhkan perhatian,” katanya.

Herman Chandra, yang telah memimpin PSMTI Kalsel selama dua periode, menyampaikan ucapan selamat kepada penggantinya. Ia berpesan agar PSMTI tetap menjadi organisasi yang hadir nyata di tengah masyarakat, terutama dalam memperjuangkan hak-hak sosial warga yang kurang beruntung.

“Sebagai organisasi sosial, keberadaan PSMTI Kalsel harus dirasakan masyarakat, terutama dalam membantu mereka yang kurang beruntung di bidang ekonomi,” ujar Herman.

Di bawah kepemimpinannya, PSMTI Kalsel dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial seperti bantuan kesehatan, dukungan pendidikan, penanggulangan bencana, hingga inisiatif pelestarian budaya. Model kepemimpinan kolaboratif dan merangkul lintas komunitas menjadi salah satu warisan penting yang diharapkan dapat terus dilanjutkan oleh kepengurusan baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *