Hindari Demensia Dengan Mencegah Penyakit Penyertanya
Anda yang sering lupa, jangan dianggap remeh, segera periksakan ke dokter spesialis saraf karena jika tidak dikonsultasikan kemungkinan anda bisa terkena Demensia.
Apa sih Demensia, Demensia adalah sebuah sindrom yang berkaitan dengan penurunan kemampuan fungsi otak, seperti berkurangnya daya ingat, menurunnya kemampuan berpikir, memahami sesuatu, melakukan pertimbangan, dan memahami bahasa, serta menurunnya kecerdasan mental. Sindrom ini umumnya menyerang orang-orang lansia di atas 65 tahun.
dr. Sili Putri Adisti, Sp.N menjelaskan ada berbagai jenis Demensia yakni Demensia Alzheimer, Parkinson dan Vaskuler. Demensia Alzheimer merupakan salah satu bagian dari demensia yang paling banyak ditemui. Sekitar 60-70 persen dari kasus demensia atau pikun merupakan Alzheimer.
Orang dengan Alzheimer mengalami penurunan fungsi otak termasuk fungsi kognitif yang meliputi kemampuan daya ingat, berbahasa, fungsi visuospatial dan fungsi eksekutif ODD menurun. Oleh karena itu, penting untuk segera melakukan deteksi dini kepada spesialis saraf ketika menemukan gejala-gejala demensia Alzheimer.
“Kalau Alzheimer itu adalah bagian dari Demensia, jadi Demensia itu terbagi menjadi beberapa bagian yang tadi, salah satunya adalah Alzheimer. Di mana untuk membedakannya terbagi menjadi berbagai macam kita perlu melakukan pemeriksaan penunjang, nah pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan salah satunya dengan menggunakan CT scan atau MRI di kepala, di mana terjadi di dalam otak itu akan terjadi beberapa locus-lokus yang berbeda,” kata dokter Sili saat menjadi narasumber program EL JOHN Medical Forum yang ditayangkan EL JOHN TV. Program ini dipandu oleh Cinthia Kusuma Rani (Miss Earth Indonesia 2019).

Sementara itu, untuk Demensia Parkinson adalah Demensia yang disebabkan dari penyakit Parkinson yakni sebuah penyakit pada sistem saraf yang mengganggu kemampuan tubuh dalam mengontrol gerakan dan keseimbangan. Kondisi ini menimbulkan beragam keluhan, seperti tremor, kaku otot, hingga gangguan koordinasi. Penyakit Parkinson merupakan salah satu penyakit yang menyerang fungsi otak. Kondisi ini kebanyakan diderita oleh orang usia 50 tahun ke atas.
Untuk membuat diagnosis penyakit Parkinson, dokter akan menanyakan riwayat medis pasien serta melakukan pemeriksaan neurologis dan fisik guna melihat tanda dan gejala yang dialami. Setelah itu, dokter mungkin menyarankan Anda melakukan beberapa tes pemeriksaan penunjang Parkinson, seperti Tes single-photon emission computerized tomography (SPECT) yang spesifik disebut dopamine transporter scan (DaTscan) atau Tes laboratorium, seperti tes darah, untuk menyingkirkan kondisi lain yang mungkin menyebabkan gejala.

“Nah si Parkinson ini tidak boleh dibiarkan, kalau dibiarkan terus menerus menjadi turun-turun kondisinya bisa terkena Demensia. Jadi itu betul-betul harus dikontrol. Kalau yang sudah punya Parkinson maka dia harus kontrol rutin ke Rumah Sakit ketemu dokter spesialis saraf kemudian diobati. Jika sudah ada gejala-gejala Demensia Nampak maka harus disusul minum obat Demensianya,” ujar dokter Sili.
Sedangkan untuk Demensia Vaskuler adalah kerusakan daya kognitif (daya mengenali) yang disebabkan oleh kerusakan pembuluh darah di otak. Ini dapat disebabkan oleh satu stroke (serangan otak), atau oleh beberapa serangan otak yang terjadi selama beberapa waktu. Demensia vaskuler merupakan diagnosa jika ada bukti adanya penyakit pembuluh darah di otak dan fungsi kognitif yang terganggu yang mempersukar hidup sehari-hari. Gejala-gejala demensia vaskuler dapat bermula tiba-tiba setelah suatu serangan otak, atau mulai perlahan-lahan selagi penyakit pembuluh darah itu bertambah parah.

“Jadi kalau penyebabnya dari Demensia Vaskuler itu biasanya karena ada gangguan Vaskuler di mana ada stroke sebelumnya, atau ada riwayat-riwayat seperti gula, seperti tensi tinggi, kolesterol sering tinggi seperti itu,” ungkap dokter spesialis saraf di Rumah Sakit Bethesda Wonosari ini.
Menurut dokter Sili, untuk menghindari Demensia, yang paling penting adalah mencegah penyakit penyertanya seperti stroke, hipertensi, gula dan juga merubah gaya hidup yang berpotensi mengalami penyakit penyertanya maupun Demensia.

“Iya makanya untuk stroke sendiri jangan sampai strokenya itu berulang ya, karena stroke berulang-ulang berbahaya otomatis otak yang terkena akan semakin besar atau semakin banyak bagian-bagian otak yang terkena termasuk nanti yang bisa mengarahkan ke Demensia,” tutur dokter Sili.
