Indonesia Fashion Gallery Gelar Beauty Bridal Show di New York
Indonesia semakin diperhitungkan jika bicara terkait kacah fashion dunia. Tidak tanggung-tanggung 3 desainer top Indonesia ujuk kebolehan di New York.
Tiga desainer Indonesia ini membuat bangga dengan mampu merambah pasar bridal mancanegara. Lewat Indonesia Fashion Gallery (IFG) sebagai ‘jembatan’ desainer Tanah Air memperluas pangsa pasarnya, Beauty Bridal by Wardah resmi diluncurkan di New York, Amerika Serikat, Jumat (17/2).
Peluncuran yang dipersembahkan Wardah Cosmetics ini menjawab permintaan para pelanggan di butik IFG untuk menghadirkan koleksi bridal rancangan desainer Indonesia. Rilis Beauty Bridal dihadiri media setempat, buyer serta para pelanggan-pelanggan VIP dari New York.
” IFG yang akan memfasilitasi permintaan konsumen di New York dan para desainer di Indonesia. Kita memang butuh perwakilan di mana nanti Indonesia tercipta perdagangan jual-beli dan ekspor-impor,” tambahnya.
Acara yang diadakan di butik IFG itu berlangsung casual, dengan menampilkan empat model yang mengenakan busana pengantin rancangan Anniesa Hasibuan, Metty Choa dan Mira Indriati. Pengunjung bisa melihat-lihat rancangan sambil berbincang santai dengan para desainer.
“Kami perlu mengenalkan produk Indonesia dan bridalnya itu seperti apa. Kami ingin menunjukkan bahwa Indonesia punya desain yang sangat unik,” ujar CEO Indonesia Fashion Gallery Fashion Week Teti Nurhayati saat peluncuran Bridal Beauty.
Tak hanya baju pengantin, acara ini juga memperkenalkan jasa make-up pengantin dengan menggunakan kosmetik dari Wardah. Untuk mengakomodir permintaan, brand kecantikan lokal ini memiliki perwakilan rekanan sebanyak sebanyak 18 make-up artist asal New York.
Anniesa, salah satu desainer yang berpartisipasi dalam acara ini mengatakan memang ingin mengadakan uji pasar terlebih dahulu di luar negeri. Sebab menurutnya permintaan model baju pengantin di Amerika dan Indonesia pastilah berbeda.
“Ada beberapa permintaan di sini untuk bridal jadi saya mau test market untuk beberapa bulan. Yang saya lihat kemauan calon pengantin di New York lebih ke simple glamor tapi tetap ada detail,” tuturnya.
Senada dengan Anniesa, desainer asal Bandung, Mira juga tertarik untuk menjajal pasar bridal di Amerika. Mira yang mengunggulkan gaun pengantin bersiluet kebaya dan detail tiga dimensi pada rancangannya menilai, memulainya di New York bisa menjadi langkah awal mengingat di sinilah pertemuan banyak turis asing dari berbagai negara.
“Cita-cita saya dari dulu adalah go international dan kini bisa dimulai dari IFG. Koleksi yang ditampilkan kali ini bertema floral dengan aplikasi tiga dimensi juga payet dan beads. Baju saya ciri khasnya lebih ke detail dan banyak terinspirasi dari kebaya yang cutting-annya sederhana,” jelasnya.
Sementara Metty menawarkan busana pengantin dari koleksinya yang ditampilkan di Couture Fashion Week, New York, beberapa hari lalu, bertema Blanc yang artinya putih. Pengalaman show di berbagai negara membuat Metty juga tertarik mencoba peruntungannya berbisnis bridal di The Big Apple.
“Beberapa dress berhias bordiran sangat sophisticated dan feminin. Tapi digabungkan dengan earpieces rancangan Rinaldy A. Yunardi jadi keluar edgy-nya,” ujar Metty.
Ia juga menambahkan, “Saya sudah 12 tahun berkarir dan ikut show ke Swiss, Inggris, Australia, Prancis, Jepang, Singapura. Jadi sekarang let’s try how New York.”
Menurut Metty rancangan gaunnya yang sederhana dan klasik akan sesuai dengan selera New Yorker. Warga New York, dilihatnya lebih suka busana yang sederhana dan tidak rumit.
“Lebih simple, clean dan nggak ribet. Banyak pengantin di sini hanya seremoni pemberkatan di gereja, setelah itu mengadakan pesta kecil-kecilan dan mingle dengan tamu,” pungkasnya.
