jabodebek

Pemerintah terus berupaya untuk menyediakan sarana transportasi massal untuk masyarakat. Saat ini, salah satu proyek yang sedang digenjot ialah pembangunan transportasi kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) yang menghubungkan Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi.

LRT Jabodebek merupakan salah satu proyek transportasi terbesar yang digagas oleh pemerintah. Wajar saja, proyek tersebut juga masuk ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai investasi sebesar Rp 29,9 triliun yang belum lama diputuskan pemerintah.

Direktur Utama Adhi Karya, Budi Harto pun memberikan komentarnya terkait nilai investasi ini.

“Perpres yang pertama dan kedua dulu semangatnya adalah proyek ini dari APBN (Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara). Kemudian yang berikutnya dikembangkan, dicari, untuk tidak menggunakan APBN, tapi dengan badan usaha. Akhirnya ditemuilah skema, PT KAI diberi PMN (Penyertaan Modal Negara) Rp 7,6 Triliun, Adhi Karya punya PMN Rp 1,4 triliun. Dari situ diminta mencari pendanaan dari perbankan, sehingga bisa mendanai Rp 29,9 triliun itu. Dengan demikian, maka pemerintah tidak perlu mengeluarkan APBN Rp 29,9 triliun. Jadi cukup Rp 7,6 Triliun ke KAI, dan Rp 1,4 ke Adhi Karya, sudah jadi ini, dan ada subsidi selama 12 tahun,” jelas Budi.

Pengerjaan LRT Jabodebek dikerjakan dalam dua tahap. Saat ini, pihak PT Adhi Karya (Persero) Tbk selaku kontraktor proyek sedang mengerjakan pembangunan tahap satu sepanjang 43 kilometer (km). Sementara tahap kedua nanti sepanjang 40 kilometer.

“Tahap dua nanti 40 km. Jadi total dengan tahap satu itu sekitar 82 km hingga 83 km. Tahap dua Ini kami sedang merencanakan desainnya dari Cibubur ke Bogor. Tapi kan untuk memulainya harus tunggu aba-aba dari pemerintah terlebih dahulu,” ungkapnya.

Saat ini, pembangunan tahap satu LRT Jabobedek tersebut telah mencapai sekitar 32%. Transportasi kereta ringan itu ditargetkan bisa beroperasi pada tahun 2019 mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *