Industri Otomotif Berkomitmen Perluas Ekspor Kendaraan Produksi Indonesia

0
Deretan mobil baru siap ekspor terparkir di PT Indonesia Kendaraan Terminal atau IPC Car Terminal, Cilincing, Jakarta, Senin (18/3/2019).

Sektor otomotif Indonesia memiliki peluang untuk berbicara di tingkat global . Hal itu diperlihatkan dengan masih besarnya utilitas dan tingginya kemampuan produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar dunia, apalagi baru-baru ini mendapat komitmen dari produsen otomotif raksasa Jepang untuk memperluas investasinya di Indonesia.

Komitmen itu disampaikan langsung para petinggi dari produsen otomotif Jepang kepada Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang saat Menperin melakukan lawatan ke Jepang beberapa waktu lalu.

 “Beberapa perusahaan yang kami temui menyampaikan akan terus mengembangkan investasi dan produksinya di Indonesia,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Senin (15/3/2021).

Produsen otomotif yang menyatakan komitmennya antara lain datang dari Mitsubishi Motor, yang berkomitmen untuk menambah investasi sebesar Rp11,2 triliun pada akhir tahun 2025 dan tahun ini memberikan izin tambahan ekspor ke sembilan negara dari tadinya 30 negara menjadi ke 39 negara.

“Kami juga mendorong agar Mitsubishi melakukan ekspor mobil ke Australia, mengingat perjanjian kerja sama antara kedua negara (IA-CEPA) telah berjalan,” ujar Menperin.

Mobil Mitsubishi yang diproduksi di Indonesia sudah banyak dipasarkan di sejumlah negara, salah satunya adalah Xpander. Mobil SUV ini telah diekspor sebagai 154.000 unit ke 30 negara hingga tahun 2020. Peningkatan produksi mobil ini pun terus melonjak, dari 220.000 unit menjadi 250.000 unit per tahun. Bahkan perusahaan ini juga akan memproduksi beberapa model baru global mulai 2023.

Komitmen yang sama juga ditancapkan Honda. Perusahaan ini, berencana menambah investasinya di Indonesia hingga tahun 2021. Nilai investasinya terbilang besar yakni mencapai Rp5,19 triliun. Investasi tersebut akan dipergunakan untuk pengembangan kendaraan model baru yang akan diproduksi hanya di Indonesia dan diekspor ke 31 negara di kawasan Asia, Afrika, Amerika Utara, dan Amerika Selatan.

 “Kami mendorong realisasi dari komitmen investasi Honda. Perusahaan tersebut juga berencana membuka tujuan ekspor baru, antara lain ke Afrika Selatan di tahun 2022, serta ke Meksiko, Amerika Utara, dan Amerika Selatan pada 2023,” imbuhnya.

Selain kendaraan bermotor, Honda juga telah memproduksi komponen kendaraan (autoparts) yang menjadi bagian global supply chain yang diekspor antara lain ke Malaysia, Vietnam, Thailand, Pakistan, Saudi Arabia dan Jepang sendiri.

Suzuki berencana menginvestasikan Rp1,2 Triliun untuk basis pengembangan produk Suzuki Ertiga dan Suzuki XL7. Dua jenis kendaraan tersebut disebut sebagai mild hybrid dengan teknologi integrated starter generator (ISG) yang ramah lingkungan namun tetap terjangkau bagi masyarakat. “Model-model tersebut untuk tujuan ekspor bagi pasar Asia dan Amerika Latin,” jelas Agus.

Ia menyebutkan, perusahaan tersebut juga telah memiliki roadmap EV dan menyampaikan bahwa insentif dari kebijakan pemerintah sangat diperlukan untuk meningkatkan produksi EV.

 Dari hasil pertemuan dengan Toyota, perusahaan tersebut tetap berkomitmen mewujudkan investasi sebesar Rp28 Triliun di Indonesia. Peluang ekspor juga semakin besar dengan pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. “Selain ke Australia, kami juga mendorong Toyota untuk membuka pasar ekspor baru, misalnya di Afrika dan Timur Tengah,” ujar Menperin.

Hingga 2020, Toyota telah mengekspor kendaraan ke 80 negara di wilayah Asia Tenggara, Asia Timur termasuk Jepang, Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin, dan Oseania. Kepada Menperin, pihak Toyota menyampaikan akan meningkatkan tujuan ekspor hingga ke 100 negara di tahun 2024.

Selanjutnya, Menperin juga mendorong Mazda untuk membuka pabriknya di Indonesia dengan menyampaikan berbagai kemudahan investasi dan banyak insentif untuk investor otomotif baru di Indonesia. Dengan rasio kepemilikan kendaraan masih kecil, potensi investasi di Indonesia masih sangat besar. “Mazda menyampaikan akan segera melakukan perhitungan kebutuhan investasi di Indonesia. Ketika kami kembali ke Jepang Mei nanti, kita akan mendengar progress dari Mazda terhadap kemungkinan investasi,” jelas Agus.

Ia menambahkan, Kemenperin mengusulkan investasi Mazda di Indonesia bisa dimulai dari assembly, selanjutnya ditingkatkan sambal mengejar local purchase yang makin lama makin tinggi. “Mazda menyampaikan akan fokus memproduksi kendaraan listrik (electric vehicle/EV), sehingga berpeluang mengisi supply chain untuk baterai dengan menggandeng industri produsen baterai kendaraan,” kata Menperin.

Kemenperin mencatat, selama ini Indonesia telah diguyur investasi sebesar Rp97,3 triliun dari empat prinsipal otomotif raksasa asal Jepang, yakni Toyota (Rp63 triliun), Honda (Rp6,2 triliun), Suzuki (Rp21 triliun), dan Mitsubishi (Rp7,1 triliun). Keempat perusahaan tersebut berkomitmen untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksinya dalam memenuhi kebutuhan pasar domestik hingga ekspor.

Sampai tahun 2024, Toyota akan memperluas pasar ekspornya sebanyak 100 negara, kemudian Honda (31 negara), Suzuki (100 negara), dan Mitsubishi (39 negara). Perluasan pasar ekspor ini seiring dengan peningkatan kapasitas produksi. Total penyerapan tenaga kerja dari investasi empat prinsipal ini bakal mencapai 9.000 orang. (Sumber Kemenperin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *