Iran Hantam Kuwait, Militer AS Luncurkan Serangan Balasan Dekat Hormuz
Konflik Teluk Memanas, Iran Serang Kuwait dan AS Balas dengan Serangan di Hormuz (Foto: Generated AI)
El John News-Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah Iran melancarkan serangan rudal dan drone yang menghantam fasilitas Bandara Internasional Kuwait pada Rabu (3/6/2026). Serangan tersebut menyebabkan kerusakan pada sejumlah infrastruktur penting dan memicu respons militer Amerika Serikat di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.
Otoritas Kuwait melaporkan sedikitnya satu orang tewas dan lebih dari 60 orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut. Selain bandara, beberapa fasilitas diplomatik juga dilaporkan terdampak. Insiden ini semakin memperburuk situasi keamanan kawasan yang belum sepenuhnya pulih sejak konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel pecah pada akhir Februari lalu.
Meski sempat menghentikan operasional penerbangan, aktivitas penerbangan di Kuwait perlahan kembali normal setelah otoritas penerbangan sipil menerapkan sejumlah langkah keamanan tambahan. Maskapai Kuwait Airways dan Jazeera Airways kembali mengoperasikan penerbangan setelah kondisi dinilai cukup aman.
Di saat yang sama, media Iran melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Iran telah melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk markas Armada Kelima AS di Bahrain, sebuah pangkalan udara Amerika, serta kapal yang disebut sebagai Panaya.
Namun, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) membantah laporan tersebut. Militer AS menyatakan bahwa pangkalan-pangkalan mereka tidak mengalami kerusakan dan sebagian besar rudal balistik yang diluncurkan Iran gagal mencapai sasaran.
Sebagai respons atas serangan itu, CENTCOM mengumumkan pelaksanaan operasi defensif baru di wilayah selatan Iran. Operasi tersebut menyasar lokasi peluncuran rudal serta sejumlah kapal Iran yang diduga tengah bersiap menebar ranjau di perairan strategis sekitar Selat Hormuz.
Militer Amerika juga melancarkan serangan ke Pulau Qeshm yang berada di dekat Selat Hormuz. Kawasan tersebut dianggap memiliki nilai strategis karena berada di jalur utama lalu lintas energi global.
“CENTCOM menyebut telah melancarkan serangan defensif baru di wilayah selatan Iran yang menyasar lokasi peluncuran rudal dan kapal-kapal Iran yang diduga berupaya menebar ranjau.”
Situasi yang kembali memanas ini membuat pasar energi dunia bereaksi cepat. Harga minyak mentah global melonjak lebih dari dua persen seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi energi internasional.
Selat Hormuz sendiri hingga kini belum sepenuhnya beroperasi normal. Jalur yang sebelumnya menampung sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia tersebut masih menghadapi berbagai gangguan sejak dimulainya operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa pasukan Israel dan Amerika Serikat siap menghadapi kemungkinan eskalasi yang lebih luas apabila Presiden Donald Trump memutuskan untuk melanjutkan operasi militer secara penuh terhadap Iran.
Sementara itu, upaya diplomatik yang sempat menunjukkan perkembangan positif dalam beberapa pekan terakhir masih belum menghasilkan kesepakatan final. Meski Iran dan Amerika Serikat sebelumnya memberi sinyal menuju pembukaan kembali Selat Hormuz serta penghentian konflik, hingga kini kedua pihak belum mencapai titik temu yang dapat mengakhiri ketegangan di kawasan.
Dengan situasi yang terus berkembang, dunia kini menyoroti langkah-langkah yang akan diambil Washington dan Teheran dalam beberapa hari ke depan. Pasalnya, setiap eskalasi baru di kawasan Teluk berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan regional sekaligus perekonomian global.
