Jadi Negara Pendiri Organisasi AI Dunia, Indonesia Siap Bentuk Masa Depan AI Global

0
publikasi_1784223936_6a5918c044fbb

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menkomenandatangani dokumen pendirian World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO). (Foto: Humas Kemenko Perekonomian)

El John News – Pemerintah Indonesia resmi menjadi salah satu negara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) setelah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menandatangani dokumen pendirian organisasi tersebut dalam rangkaian World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai, Republik Rakyat Tiongkok.

Langkah tersebut menandai komitmen Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam memperkuat kerja sama internasional di bidang kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), sekaligus berkontribusi dalam penyusunan tata kelola AI yang inklusif dan bertanggung jawab di tingkat global.

Penandatanganan deklarasi dilakukan bersama perwakilan sekitar 30 negara yang menjadi anggota pendiri WAICO. Negara-negara tersebut meliputi Aljazair, Belarus, Brasil, Kamboja, Kamerun, Kongo, Kuba, Etiopia, Indonesia, Kazakstan, Kenya, Kirgistan, Laos, Lesotho, Malaysia, Mozambik, Myanmar, Nikaragua, Oman, Pakistan, Rusia, Senegal, Serbia, Afrika Selatan, Tajikistan, Uzbekistan, Venezuela, Zambia, dan Republik Rakyat Tiongkok.

WAICO merupakan organisasi internasional independen antar pemerintah yang dibentuk untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan dan tata kelola kecerdasan buatan pada sektor sipil. Organisasi ini mengusung prinsip inklusif, terbuka, serta tidak diskriminatif agar manfaat AI dapat dirasakan secara merata oleh seluruh negara.

Sebagai salah satu Founding Member, Indonesia memperoleh kesempatan untuk ikut menyusun arah kebijakan, mekanisme kerja, hingga struktur kelembagaan organisasi tersebut sejak tahap awal pembentukannya. Pemerintah juga memastikan seluruh kerja sama yang dijalankan melalui WAICO tetap mengacu pada kepentingan nasional, prinsip etika AI, perlindungan kedaulatan data, serta selaras dengan berbagai kebijakan strategis nasional.

Menurut Airlangga, pemanfaatan AI memiliki potensi besar untuk mempercepat transformasi berbagai sektor di Indonesia, mulai dari pertanian modern, transisi energi, energi terbarukan, hingga layanan kesehatan berbasis digital. Untuk mendukung pengembangan tersebut, Indonesia juga terus memperkuat kesiapan infrastruktur digital, termasuk pembangunan pusat data (data center), sebagai fondasi utama ekosistem AI nasional.

“Outcome kecerdasan artifisial atau AI, bagi saya mencakup banyak bidang karena cakupan AI sangatlah luas. Bagi negara-negara seperti Indonesia, tentu saja penerapan AI dapat dimanfaatkan pada sektor pertanian (pertanian modern), transisi energi, dan kemudian untuk energi terbarukan, serta untuk mengembangkan banyak sektor digital termasuk di sektor kesehatan. Saya rasa saat ini ekonomi digital Indonesia bernilai USD130 miliar, dan kita sedang menuju USD300 miliar, di mana jumlah tersebut akan berlipat ganda dengan adanya AI,” pungkas Menko Airlangga.

Pemerintah menilai penerapan AI akan menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi digital Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas berbagai sektor sekaligus mempercepat lahirnya inovasi yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.

Sebagai tindak lanjut keikutsertaan Indonesia dalam WAICO, pemerintah akan memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk memanfaatkan platform kerja sama tersebut. Fokus utamanya meliputi percepatan transformasi digital nasional, penguatan infrastruktur pusat data di dalam negeri, peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang AI, serta perluasan kolaborasi internasional yang mampu memberikan nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *